» 9 Mar 2010 | Puisi Pinurbo | 1 Respon »
Arsip untuk Kategori ‘Puisi Pinurbo’
Liburan Sekolah (VERSI TAMAT)
(1)
Liburan sekolah sudah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok ajak aku piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”
Kuremas gagang stangnya yang kusam, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ...Lanjut »
Durrahman
Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.
Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,
bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.
Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:
“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang ...Lanjut »
» 15 Feb 2010 | Puisi Pinurbo | 3 Respon »
Sajak Sebentar
Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu.
Seperti embun hinggap di pucuk perdu.
Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.
"Siapakah kamu yang rela menggenang di mataku?"
Aku secercah doa yang berasal dari tetes keringatmu.
Tiga bentar lagi aku akan sampai di lidahmu.
Lenyapkan aku, lenyapkan dalam hausmu.
(2010)
Lanjut »
» 9 Feb 2010 | Puisi Pinurbo | 1 Respon »
Pengamen Kecil
Ke belantara Jakarta ia pergi ngembara.
Di tembok-tembok kota mimpinya menggema.
Senar gitarnya terbuat dari rambut ibunya.
Keringatnya terbuat dari peluh bapaknya.
Bila ia berdendang dan memetik gitarnya,
ibunya yang jauh di kampung berdesir-desir hatinya.
(2010) Lanjut »
» 8 Feb 2010 | Puisi Pinurbo | 3 Respon »
Doa Seorang Pesolek
Tuhan yang cantik,
temani aku yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.
Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.
Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.
Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.
Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.
Semoga kecantikanku tak lekas usai
dan cepat luntur seperti pupur.
Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan
menghangatkanku
sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku.
Sebelum Kausenyapkan warna.
Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
ke bibirku yang mati kata.
(2009) Lanjut »
» 23 May 2009 | Puisi Pinurbo | 9 Respon »
Liburan Sekolah
(1)
Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
"Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah."
Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji:
"Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke ...Lanjut »
» 14 Jan 2009 | Puisi Pinurbo | 23 Respon »
Sajak-sajak 2008
Mas
Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.
Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin ...Lanjut »
» 2 Jan 2009 | Puisi Pinurbo | 2 Respon »