Daftar Postingan »

Arsip untuk Kategori ‘Membaca Jokpin’

Joko Pinurbo: Penyair Muda yang Penuh Potensi

Oleh Prof. Dr. Okke Kusuma Sumantri Zaimar (Staf Pengajar Program Studi Prancis FIB-UI) Apabila saya bandingkan dengan puisi karya penulis modern Indonesia lainnya, seperti Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri, puisi Joko Pinurbo ini memang mempunyai gaya tersendiri. Puisi-puisi ini tidak bergaya "wah", melainkan penuh kesederhanaan. Memang beberapa kritikus (a.l. Ayu Utami) menganggap puisi-puisi Joko lebih dekat dengan gaya Goenawan Mohamad dan Sapardi ...Lanjut »
» 27 Oct 2009 | Membaca Jokpin | 1 Respon »

Humor Serius Joko Pinurbo,
Telaah Singkat Kumpulan Puisi Celana

Oleh Hikmat Darmawan Latar belakang Saya langsung tertarik untuk menelaah kumpulan puisi Celana karya Joko Pinurbo yang diterbitkan oleh IndonesiaTera pada 1999 ini karena tergelitik oleh nada humor pada beberapa puisi di dalamnya yang sempat kami baca selintas. Perkenalan lebih jauh dengan puisi-puisi tersebut menyingkapkan sesuatu yang lain, yaitu ternyata Joko Pinurbo adalah seorang penyair yang sangat serius. Joko Pinurbo, atau biasa dipanggil ...Lanjut »
» 27 Nov 2008 | Membaca Jokpin | 4 Respon »

Membaca Kembali Joko Pinurbo:
Surealisme Ranjang, Celana, dan Boneka

Oleh Cecep Syamsul Hari ANTARA tahun 1999-2004, Joko Pinurbo telah menerbitkan empat kumpulan puisi yang menarik perhatian, yaitu Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, Sajak-sajak 2001, dan Telefon Genggam. Akan tetapi, sejauh yang dapat saya amati, hingga saat ini kumpulan puisi Celana Joko Pinurbo-lah yang meninggalkan kesan lebih kuat di dalam benak kebanyakan pembaca dibandingkan dengan kumpulan sajaknya yang lain. Trilogi sajak ...Lanjut »
» 27 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 2 Respon »

Humor yang Politis, Humor yang Tragis: Mengingat Yudhis, Menikmati Jokpin (2)

Oleh Bandung Mawardi Pada masa awal penulisan puisi Joko Pinurbo masih menunjukkan kecenderungan menulis puisi-puisi lirik. Kecenderungan itu terlihat dalam puisi-puisi awal yang dipublikasikan di media massa dan yang termuat dalam sekian antologi puisi bersama: Tugu (1986), Tonggak 4 (1987), Sembilu (1991), Ambang (1992), dan Mimbar Penyair Abad 21 (1996). Puisi awal Jokpin yang termuat dalam buku stensilan Sketsa Selamat Malam ...Lanjut »
» 14 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 4 Respon »

Humor yang Politis, Humor yang Tragis: Mengingat Yudhis, Menikmati Jokpin (1)

Oleh Bandung Mawardi Jika nanti aku tamat, kibarkan celanaku yang dulu hilang di atas makamku. (Joko Pinurbo, “Sukabumi”, 2007) Joko Pinurbo (Jokpin) layak dibicarakan sebagai penyair penting yang mungkin bisa diletakkan dalam wacana pasca-Afrizal Malna. Penempatan ini memiliki latar belakang dalam proses kreatif, pencapaian estetika, dan pembicaraan dari tukang kritik puisi Indonesia mutakhir. Joko Pinurbo hanya menjadi pembicaran kecil dalam rumusan Angkatan 2000 oleh ...Lanjut »
» 14 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 1 Respon »

Joko Pinurbo; Mengapa Kematian, Penyairku?

Oleh Ayu Utami Kerap saya menonton ia membacakan sajaknya. Penyair ceking itu membaca tanpa ekspresi. Namun kekuatan kata-katanya senantiasa membuat orang tergelitik. Banyak kali sajaknya membuat penonton terbahak. Lain kali orang menghela nafas masygul. Acap mereka terkikik dan terganggu sekaligus. Sebetulnya, sajak utamanya jarang mengajukan keindahan, baik dalam citra maupun bunyi—dengan kata lain, sajaknya jarang ‘puitis’—tetapi sajak-sajak itu seolah melampaui estetika, ...Lanjut »
» 13 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 0 Respon »

Persinggahan Sang Penyair

Oleh Karlina Supelli* Ketika penerbit meminta saya memberi pengantar kumpulan puisi Joko Pinurbo ini, saya merasa kikuk. Membaca karya sastra merupakan pengalaman intim, amat personal. Bahwa kemudian orang mengutip karya-karya tertentu ke dalam tulisan, tidak berarti bahwa pengalaman itu sebagai pengalaman, dapat terpaparkan dengan lancar ke hadirat pembaca. Rasa kikuk ini sebetulnya muncul karena didahului oleh kesadaran bahwa saya bukan kritikus ...Lanjut »
» 6 Aug 2008 | Membaca Jokpin | 2 Respon »