Daftar Postingan»

Persinggahan Sang Penyair

Oleh Karlina Supelli* Ketika penerbit meminta saya memberi pengantar kumpulan puisi Joko Pinurbo ini, saya merasa kikuk. Membaca karya sastra merupakan pengalaman intim, amat personal. Bahwa kemudian orang mengutip karya-karya tertentu ke dalam tulisan, tidak berarti bahwa pengalaman itu sebagai pengalaman, dapat terpaparkan dengan lancar ke hadirat pembaca. Rasa kikuk ini sebetulnya muncul karena didahului oleh kesadaran bahwa saya bukan kritikus ...   Lanjut »»
» 6 Aug 2008 | Membaca Jokpin | 2 Respon »

“Surga Kecil” Jokpin

Oleh Nirwan Ahmad Arsuka Di sepanjang jaman, puisi adalah beberapa di antara barang yang tak pernah surut produksinya, paling tidak di Indonesia. Di era krisis, pasokan puisi bukannya ikut surut, tapi malah mungkin meningkat. Yang pasti, redaktur rubrik puisi di media cetak – setidaknya di Bentara KOMPAS – selalu kewalahan menerima kiriman sajak yang melimpah ruah. Kendati nyaris semua penduduk negeri ...   Lanjut »»
» 5 Aug 2008 | Membaca Jokpin | 0 Respon »

Puisi: Membaca Kiasan Badan

Oleh Ignas Kleden Sangat mungkin bahwa di antara penyair-penyair dalam sastra Indonesia moderen, tidak seorang pun yang demikian obsesif dengan tubuh manusia dalam permenungannya, seperti halnya Joko Pinurbo, dalam kumpulan sajaknya Di Bawah Kibaran Sarung. Penyair dan novelis sebelum dia memang di sana-sini menulis juga tentang badan, karena seluruh perasaan erotik tidak bisa tidak harus menyentuh aspek badan. Akan tetapi pada ...   Lanjut »»
» 1 Aug 2008 | Membaca Jokpin | 0 Respon »

Bukan Si Anak Hilang

Sitor Situmorang Paris la Nuit / Paris di Waktu Malam Forum Jakarta-Paris & Komunitas Bambu, 2002 lxiv + 262 halaman ------------------------------------- Membicarakan perpuisian Sitor Situmorang, orang mungkin segera teringat sajaknya “Malam Lebaran”, sajak-sebaris yang cuma berbunyi Bulan di atas kuburan. Sajaknya yang juga sangat populer adalah “Si Anak Hilang”. Selain karena kekuatan bentuk pengucapannya, sajak ini pun dianggap mewakili kecenderungan tematik perpuisian Sitor. Sajak ini ...   Lanjut »»
» 24 Jul 2008 | Apresiasi | 0 Respon »

Telepon dan Sastra: Ekstase dan Pembenaran Diri

Oleh  Bandung Mawardi* TELEPON adalah sebuah kata yang lahir pada tahun 1796. Sebagai wujud dari teknologi komunikasi, telepon menemukan bentuk dan fungsi nyata saat Alexander Graham Bell (1874-1922) menemukan dan mematenkan perangkat tersebut. Telepon pun kemudian berkembang sebagai dasar dari revolusi besar komunikasi, bahkan tata hidup manusia secara umum. Tak dapat dielak, telepon telah menjadi ikon modernitas yang juga menandai pergeseran nilai, ...   Lanjut »»
» 24 Jul 2008 | Khazanah | 1 Respon »

Tragedi dan Puisi

Oleh Bandung Mawardi Aristoteles dalam Poetics melakukan ikhtiar pembacaan dan eksplanasi mengenai tragedi dengan acuan kebudayaan Yunani. Tragedi adalah proses imitasi tindakan yang memiliki implikasi-implikasi serius. Bahasa yang dipakai dalam mengungkapkan tragedi adalah atraktif sensual. Pemakaian bahasa itu menimbulkan adanya rasa kasihan dan ketakutan yang digambarkan dalam tindakan-tindakan tragis dan karakteristik-karakteristik emosional. Substansi tragedi adalah imitasi dari tindakan dalam kehidupan yang ...   Lanjut »»
» 12 Jul 2008 | Membaca Jokpin | 0 Respon »

Pacar Puisi

Pacar Senja Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai. Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli. Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk, setengah saja, pacar senja tersipu-sipu. "Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap." Cinta seperti penyair berdarah dingin yang pandai menorehkan luka. Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya. Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu melengos ke cakrawala, ...   Lanjut »»
» 9 Jun 2008 | Puisi Pinurbo | 1 Respon »