» 14 Jan 2009 | Puisi Pinurbo | 23 Respon »
Liburan Sekolah
(1)
Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
"Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah."
Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji:
"Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke ...
Lanjut »»
Sajak-sajak 2008
Mas
Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.
Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin ...
Lanjut »»
» 2 Jan 2009 | Puisi Pinurbo | 2 Respon »
Humor Serius Joko Pinurbo,
Telaah Singkat Kumpulan Puisi Celana
Oleh Hikmat Darmawan
Latar belakang
Saya langsung tertarik untuk menelaah kumpulan puisi Celana karya Joko Pinurbo yang diterbitkan oleh IndonesiaTera pada 1999 ini karena tergelitik oleh nada humor pada beberapa puisi di dalamnya yang sempat kami baca selintas. Perkenalan lebih jauh dengan puisi-puisi tersebut menyingkapkan sesuatu yang lain, yaitu ternyata Joko Pinurbo adalah seorang penyair yang sangat serius.
Joko Pinurbo, atau biasa dipanggil ...
Lanjut »»
» 27 Nov 2008 | Membaca Jokpin | 4 Respon »
Sesuatu Sapardi: Anda Bahagia Menulis Puisi?
Oleh Hasan Aspahani
SAYA mengenal nama penyair Sapardi Djoko Damono dan puisi-puisinya dalam buku DukaMu Abadi. Ada sebuah toko buku di Balikpapan yang sering saya kunjungi sepulang sekolah. Mengambil gaya Chairil Anwar, saya pernah mencuri buku di sana. Buku Sapardi itu saya beli, tidak saya curi. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Puisi-puisi dalam buku tipis itu waktu itu sangat ...
Lanjut »»
» 27 Oct 2008 | Khazanah | 10 Respon »
Membaca Kembali Joko Pinurbo:
Surealisme Ranjang, Celana, dan Boneka
Oleh Cecep Syamsul Hari
ANTARA tahun 1999-2004, Joko Pinurbo telah menerbitkan empat kumpulan puisi yang menarik perhatian, yaitu Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, Sajak-sajak 2001, dan Telefon Genggam. Akan tetapi, sejauh yang dapat saya amati, hingga saat ini kumpulan puisi Celana Joko Pinurbo-lah yang meninggalkan kesan lebih kuat di dalam benak kebanyakan pembaca dibandingkan dengan kumpulan sajaknya yang lain. Trilogi sajak ...
Lanjut »»
» 27 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 2 Respon »
Jalan Setapak Berduri
Oleh Nirwan Dewanto
LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih ...
Lanjut »»
» 27 Oct 2008 | Khazanah | 2 Respon »
Pinurbo dan Dinar
Oleh Nirwan Dewanto
SETIAP akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus ...
Lanjut »»
» 27 Oct 2008 | Khazanah | 1 Respon »