Daftar Postingan »

Kilas

SEPILIHAN SAJAK 1996-2008

Celana, 1

Ia ingin membeli celana baru
buat pergi ke pesta
supaya tampak lebih tampan
dan meyakinkan.

Ia telah mencoba seratus model celana
di berbagai toko busana
namun tak menemukan satu pun
yang cocok untuknya.

Bahkan di depan pramuniaga
yang merubung dan membujuk-bujuknya
ia malah mencopot celananya sendiri
dan mencampakkannya.

“Kalian tidak tahu ya
aku sedang mencari celana
yang paling pas dan pantas
buat nampang di kuburan.”

Lalu ia ngacir
tanpa celana
dan berkelana
mencari kubur ibunya
hanya untuk menanyakan:
“Ibu, kausimpan di mana celana lucu
yang kupakai waktu bayi dulu?”

(1996)

 

Pulang Mandi

Lama minggat ke Jakarta dan tak pernah ada
kabar-beritanya, tahu-tahu ia muncul di depan pintu
dan berseru, “Ayo kita mandi!”
Wajah yang penuh jahitan, tubuh yang hampir rombengan
nyaris tak terbaca kalau tak ia tunjukkan
sepasang tato di pantatnya.

“Berbahagialah orang yang berani mandi,” aku bersabda,
“sebab ia akan menemukan tubuhnya sendiri.”

Maka dalam bahagia mandi ia kelupas karat waktu
pada tekstur hidupnya, kerak kenangan
pada tipografi nasibnya.
“Sakit!” ia menjerit. “Berdarah!”
Mungkin sedang ia lepaskan pakaian kotor
yang lengket dengan tubuhnya.

Kamar mandi kemudian sunyi.
Ia menghambur keluar, berjingkrak-jingkrak
seperti kanak-kanak dapat bingkisan di hari Lebaran.
“Aduh cakepnya,” aku menggoda,
dan ia memelukku sambil berkata riang,
“Mandiku sukses sekali, abang sayang.”

Lama ia tidak mandi. Tapi sekali mandi
ia langsung mencopot tubuhnya yang usang
dan menggantinya dengan yang baru,
yang mutakhir modelnya dan, tentu saja, tahan lama.

“Tidak tertarik ke Jakarta?” ia membujukku
sambil memamerkan tubuhnya yang trendi.
Ah, ya, mungkin perlu juga aku minggat ke Jakarta
agar suatu saat dapat pulang mandi dengan bahagia.

(1999)

 

Mei

: Jakarta, 1998

Tubuhmu yang cantik, Mei
telah kaupersembahkan kepada api.
Kau pamit mandi sore itu.
Kau mandi api.

Api sangat mencintaimu, Mei.
Api mengucup tubuhmu
sampai ke lekuk-lekuk tersembunyi.
Api sangat mencintai tubuhmu
sampai dilumatnya yang cuma warna
yang cuma kulit yang cuma ilusi.

Tubuh yang meronta dan meleleh dalam api, Mei
adalah juga tubuh kami.
Api ingin membersihkan tubuh maya
dan tubuh dusta kami dengan membakar habis
tubuhmu yang cantik, Mei

Kau sudah selesai mandi, Mei.
Kau sudah mandi api.
Api telah mengungkapkan rahasia cintanya
ketika tubuhmu hancur dan lebur
dengan tubuh bumi;
ketika tak ada lagi yang mempertanyakan
nama dan warna kulitmu, Mei.

(2000)

 

Pacarkecilku

untuk Anggra

Pacarkecilku bangun di subuh hari ketika azan
datang membangunkan mimpi.
Pacarkecilku berlari ke halaman, menadah hujan
dengan botol mainan, menyimpannya di kulkas
sepanjang hari, dan malamnya ia lihat
di botol itu gumpalan cahaya warna-warni.

Pacarkecilku lelap tidurnya, botol pelangi
dalam dekapnya. Ketika bangun ia berkata,
“Tadi kau ke mana? Aku mencarimu di rerimbun
taman bunga.” Aku terdiam. Sepanjang malam
aku hanya berjaga di samping tidurnya
agar dapat melihat bagaimana azan
pelan-pelan membuka matanya.

Pacarkecilku tak akan mengerti: pelangi
dalam botol cintanya bakal berganti
menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.

(2001)

 

Atau

Ketika saya akan masuk ke kamar mandi, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan cantik bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih cinta atau nyawa?” ia mengancam.

“Beri saya kesempatan mandi dulu, Perempuan,”
saya menghiba, “supaya saya bersih dari dosa.
Setelah itu, perkosalah saya.”

Selesai saya mandi, perempuan itu menghilang entah
ke mana. Saya pun pulang dengan perasaan waswas:
jangan-jangan ia akan menghadang saya di jalan.

Ketika saya akan masuk ke kamar tidur, dari balik pintu
tiba-tiba muncul perempuan gundul bergaun putih
menodongkan pisau ke leher saya.
“Pilih perkosa atau nyawa?” ia mengancam.
Saya panik, saya jawab sembarangan, “Saya pilih atau!”

Ia mengakak. “Kau pintar,” katanya.
Kemudian ia mencium leher saya dan berkata,
“Tidurlah tenang, dukacintaku. Aku akan kembali
ke dalam mimpi-mimpimu.”

(2001)

 

Penumpang Terakhir

untuk Joni Ariadinata

Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak
yang mangkal di bawah pohon beringin itu
dan memintanya mengantarku ke tempat-tempat
yang aku suka. Entah mengapa aku sering kangen
dengan becaknya. Mungkin karena genjotannya enak,
lancar pula lajunya.

Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan.
Aku akan menabur kembang di atas makam
nenekmoyang. Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku
khawatir bang becak akan kecapaian, tapi orang tua itu
bilang tenang tenang.

Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya
bercerita tentang anak-anaknya yang pergi merantau
ke Jakarta dan mereka sekarang alhamdulillah
sudah jadi orang. Mereka sangat sibuk dicari uang
dan hanya sesekali pulang. Kalaupun pulang, belum tentu
mereka sempat tidur di rumah karena repot
mencari ini itu, termasuk mencari utang buat ongkos
pulang ke perantauan.

Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan,
batuknya mengamuk, pandang matanya
berkunang-kunang, aduh kasihan. “Biar gantian saya
yang menggenjot, Pak. Bapak duduk manis saja,
pura-pura jadi penumpang.”

Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju
kuburan, sementara si abang becak tertidur nyaman,
bahkan mungkin bermimpi di dalam becaknya sendiri.

Sampai di kuburan aku berseru bangun dong Pak,
tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas
tidurnya. Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan
kutaburkan di atas makam nenekmoyangku
atau di atas jenazah bang becak yang kesepian itu.

(2002)

 

Mandi

Mereka tiba di kamar mandi menjelang tengah malam
ketika langit terang dan bulan sedang cemerlang.
Pemimpin rombongan segera angkat bicara,
“Hadirin sekalian, malam ini kita berkumpul di sini
untuk mengantar mandi salah seorang saudara kita.
Mari kita sakiti dia agar sempurnalah mandinya.”

Korban segera diseret ke kamar mandi dan diperintahkan
berdiri di depan. Wajahnya tertunduk pucat, tubuhnya
gemetar, dan matanya seperti kenangan
yang redup perlahan. Belum sempat
pemimpin rombongan menanyakan tanggal lahir
dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah tak sabar
menyaksikan sekaratnya berseru nyaring,
“Mandikan dia! Mandikan dia!”

Tubuh tak bernama yang terlampau tabah menerima
cambukan waktu yang gagah perkasa. Mandikanlah dia.

Mulut tanpa kata yang tak perlu lagi mengucap segala
yang tak terucapkan kata. Mandikanlah dia.

Hati paling rasa yang tak pernah usai memburu cinta
di rimba raga. Mandikanlah dia.

Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka.

Pembantaian sebentar lagi dimulai. Hadirin segera pergi
setelah masing-masing menghunjamkan nyeri ke ulu hati.
Korban dibiarkan terkapar di lantai kamar mandi.

Sepi yang tinggi besar melangkah masuk
sambil terbahak-bahak. Korban diperintahkan berdiri.
“Mandi!” bentaknya. Dengan geram diterkamnya
tubuh korban dan kemudian dikuliti. Lihatlah, korban
sedang mandi. Mandi dengan tubuh berdarah-darah.

Bahkan bulan tak berani bicara; dengan takut-takut ia
melongok lewat genting kaca. Sepi makin beringas.
Ia cengkeram tubuh kurus korban, ia serahkan lehernya
kepada yang terhormat tali gantungan. Krrrkk!
Sepi melenggang pergi sambil terbahak-bahak,
meninggalkan korban berkelejatan sendirian.

Di hening malam itu tiba-tiba terdengar seorang bocah
menjerit pilu, “Ibu, tolong lepaskan aku, Ibu!”

(2003)

 

Masa Kecil

Masa kecil seperti penjaga malam yang setia.
Ia yang membuka dan menutup pintu setiap kau masuk
dan keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi,
ia duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar
sambil ketawa-ketawa sendiri. Jangan suka lihat orang
mandi, nanti sakit mata!
Ia langsung menutup wajahnya
dengan buku, seakan geli atau malu melihat tokoh
komiknya yang (tidak) lucu.

(2003)

 

Pacar Senja

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.
Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja
mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,
setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.
“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

Cinta seperti penyair berdarah dingin
yang pandai menorehkan luka.
Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu
melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja
yang masih megap-megap oleh ciuman senja.
“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat
kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium
menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.
Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.
Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak
dalam gemuruh ombak.

(2003)

 

Baju Bulan

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

(2003)

 

Kepada Puisi

Kau adalah mata, aku airmatamu.

(2003)

 

Cita-cita

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya
dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

(2003)

 

Penjual Bakso

Hujan-hujan begini, penjual bakso dan anaknya
lewat depan pintu rumahku. Ting ting ting.
Seperti suara mangkok dan piring peninggalan ibuku.

Berulang kali ting ting ting, tak ada yang keluar
membeli bakso. Tak ada peronda duduk-duduk
di gardu. Semua sedang sibuk menghangatkan waktu.

Aku tak ingin makan bakso, tapi tak apalah
iseng-iseng beli bakso. Aku bergegas mengejar
tukang bakso ke gardu ronda. Bakso! Terlambat.
Penjual bakso dan anaknya sedang gigih makan bakso.

Airmata penjual bakso menetes ke mangkok bakso.
Anak penjual bakso tersengal-sengal, terlalu banyak
menelan bakso. Kata penjual bakso kepada anaknya,
“Ayo, Plato, kita habiskan bakso kita. Kasihan ibumu.”

Mereka yang makan bakso, aku yang muntah bakso.

(2004)

 

Dengan Kata Lain

Tiba di stasiun kereta, aku langsung cari ojek.
Entah nasib baik, entah nasib buruk, aku mendapat
tukang ojek yang, astaga, adalah guru Sejarah-ku dulu.

“Wah, juragan dari Jakarta pulang kampung,”
beliau menyapa. Aku jadi malu dan salah tingkah.
“Bapak tidak berkeberatan mengantar saya ke rumah?”

Nyaman sekali rasanya diantar pulang Pak Guru
sampai tak terasa ojek sudah berhenti di depan rumah.
Ah, aku ingin kasih bayaran yang mengejutkan.
Dasar sial. Belum sempat kubuka dompet, beliau
sudah lebih dulu permisi lantas melesat begitu saja.

Di teras rumah Ayah sedang tekun membaca koran.
Koran tampak capek dibaca Ayah sampai huruf-hurufnya
berguguran ke lantai, berhamburan ke halaman.

Tak ada angin tak ada hujan, Ayah tiba-tiba
bangkit berdiri dan berseru padaku, “Dengan kata lain,
kamu tak akan pernah bisa membayar gurumu!”

(2004)
 

Telepon Tengah Malam

Telepon berkali-kali berdering, kubiarkan saja.
Sudah sering aku terima telepon dan bertanya
“Siapa ini?”, jawabnya cuma “Ini siapa?”.

Ada dering telepon, panjang dan keras,
dalam rongga dadaku.
“Ini siapa, tengah malam telepon?
Mengganggu saja.”
“Ini Ibu, Nak. Apa kabar?”
“Ibu! Ibu di mana?”
“Di dalam.”
“Di dalam telepon?”
“Di dalam sakitmu.”

Ah, malam ini tidurku akan nyenyak.
Malam ini sakitku akan nyenyak tidurnya.

(2004)

 

Celana Ibu

Maria sangat sedih menyaksikan anaknya
mati di kayu salib tanpa celana
dan hanya berbalutkan sobekan jubah
yang berlumuran darah.

Ketika tiga hari kemudian Yesus bangkit
dari mati, pagi-pagi sekali Maria datang
ke kubur anaknya itu, membawakan celana
yang dijahitnya sendiri.

“Paskah?” tanya Maria.
“Pas sekali, Bu,” jawab Yesus gembira.

Mengenakan celana buatan ibunya,
Yesus naik ke surga.

(2004)

 

Selepas Usia 60

Selepas usia 60 saya sering terdiam di muka jendela,
mengamati tingkah anak kecil yang lucu-lucu.
Saat sekecil mereka saya baru fasih mengucapkan nana,
maksudnya celana, dan saya belajar keras memakai celana
dan sering keliru: kadang terbalik, kadang seliritnya
menjepit dindaku. Ibu curang: diam-diam mengintip
lewat celah pintu. Baru setelah ananda terjengkang
karena dua kaki masuk ke satu lubang, ibu buru-buru
menyayang-nyayang pantatku: Jangan menangis,
jagoanku. Celana juga sedang belajar memakaimu.

Kasihan ibu, sering didera kantuk hingga jauh malam,
menjahit celana saya yang cidera.
Sampai sekarang kadang tusukan jarumnya, auw…,
masih terasa di pantat saya.

Saya masih berdiri di muka jendela, memperhatikan
seorang bocah culun, dengan celana bergambar Superman,
sedang ciat-ciat bermain silat. Tiba-tiba ia berhenti.
Bingung. Seperti ada yang tidak beres dengan celananya.
Oh, gambar Superman-nya rontok. Ia cari, tidak ketemu.
Lalu ibunya datang menjemput. Senja yang dewasa
mulai merosot. Tubuh yang penakut mendadak ribut.
Yeah, ini celana diam-diam mau melorot. Saat mau tidur
baru saya tahu: hai, ada gambar Superman di celanaku.

(2004)

 

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkraman luka.

(2005)

 

Kepada Cium

Seperti anak rusa menemukan sarang air
di celah batu karang tersembunyi,

seperti gelandangan kecil menenggak
sebotol mimpi di bawah rindang matahari,

malam ini aku mau minum di bibirmu.

Seperti mulut kata mendapatkan susu sepi
yang masih hangat dan murni,

seperti lidah doa membersihkan sisa nyeri
pada luka lambung yang tak terobati.

(2006)

 

Terompet Tahun Baru

Aku dan Ibu pergi jalan-jalan ke pusat kota
untuk meramaikan malam tahun baru.
Ayah pilih menyepi di rumah saja
sebab beliau harus menemani kalender
pada saat-saat terakhirnya.

Hai, aku menemukan sebuah terompet ungu
tergeletak di pinggir jalan.
Aku segera memungutnya
dan membersihkannya dengan ujung bajuku.
Kutiup berkali-kali, tidak juga berbunyi.

Mengapa terompet ini bisu, Ibu?
Mungkin karena terbuat dari kertas kalender, anakku.

(2006)

 

Di Perjamuan

Aku tak akan minta anggur darahMu lagi.
Yang tahun lalu saja belum habis,
masih tersimpan di kulkas.
Maaf, aku sering lupa meminumnya,
kadang bahkan lupa rasanya.
Aku belum bisa menjadi pemabuk
yang baik dan benar, Sayang.

(2006)

 

Jalan Sunyi

Ada jalan kecil menuju kebunmu:
ada hujan mungil merayap pelan
ke liang kuburku.

(2007)

 

Gambar Hati Versi Penyair

Seperti dua koma bertangkupan.
Dua koma dari dua kamus yang berbeda
dan tanpa janji bertemu di sebuah puisi.

(2007)

 

Malam Pemadat

Pilin dan padatkan aku menjadi sebatang candu,
hisap dan bakarlah sampai berkobar di tubuhmu.
Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku
sampai menguap di pori-porimu.

(2007)

 

Penjahat Berdasi

Ia mati dicekik dasinya sendiri.

(2007)

 

Taman Hiburan Negara

Ini tempat umum, bung.
Dilarang melamun sembarangan di sini.

(2007)

 

Pembangkang

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tidak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Dari pada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

(2007)

 

Gaun Tidur

Gaun tidurku menyembunyikanmu.
Seperti doa yang ganas,
kau merasuk ke panas darahku.
Gaun tidurku basah olehmu.

(2007)

 

Angkringan

Lapar mengajak saya ke warung angkringan
di pinggir jalan. Tuan pedagang angkringan
sedang ketiduran. Ia batuk-batuk, mengerang,
kemudian ia betulkan batuknya yang sumbang.

Saya makan dua bungkus nasi kucing.
Saya bikin kopi sendiri, ambil rokok sendiri.
Saya bayar, saya hitung sendiri. “Kembaliannya
untuk Tuan saja,” kata saya dalam hati.
Lalu saya pamit pulang. “Selamat tidur, pejuang.”

Tuan pedagang angkringan terbangun.
“Tunggu, jangan tinggalkan saya sendirian!”
Setelah semuanya ia bereskan, ia paksa saya
segera naik ke atas gerobak angkringan.
”Berbaringlah, Tuan. Saya antar Tuan pulang.”

Amboi, saya telentang kenyang di atas
gerobak angkringan yang berjalan pelan
menyusuri labirin malam. Saya terbuai, terpejam.
Seperti naik perahu di laut terang, meluncur ringan
menuju rumah impian nun di seberang.
Samar-samar saya lihat bayangan seorang ibu
sedang meninabobokan anaknya dalam ayunan:
Tidurlah, tidur, tidurlah anakku tersayang….

(2007)

 

Tukang Potret Keliling

Cita-citanya tinggal satu: memotret seorang pujangga
yang ia tahu tak pernah suka diambil gambarnya.
Ia ingat bual seorang peramal: “Kembaramu
akan berakhir pada paras seorang penyair.”

Demikianlah, dengan tangan gemetar, ia berhasil
mencuri wajah penyair pendiam itu dengan tustelnya.
Ia bahagia, sementara sang pujangga terpana:
“Ini wajahku, wajahmu, atau wajah kita?”

Tak lama kemudian tukang potret keliling itu mati.
Tubuhnya yang sementara terbujur di ruang
yang dindingnya penuh dengan foto-foto karyanya.
Ada foto penyair. Tapi tak ada foto dirinya.

Kerabatnya bingung. Mereka tidak juga menemukan
potretnya untuk dipajang di dekat peti matinya.
“Sudah, pakai foto ini saja,” cetus salah seorang
dari mereka sambil diambilnya foto pujangga.
“Lihat, mirip sekali, nyaris serupa. Ha-ha-ha….”

Penyair kita tampak di antara kerumunan pelayat
yang berdesak-desakan memanjatkan doa
di sekeliling peti almarhum. Ada seorang ibu
yang dengan haru mengusap foto itu: “Hatinya
pasti manis. Di akhir hayatnya wajahnya keren abis!”

(2007)

 

Kredo Celana

Yesus yang seksi dan murah hati,
kutemukan celana jinmu yang koyak
di sebuah pasar loak.
Dengan uang yang tersisa dalam dompetku
kusambar ia jadi milikku.

Ada noda darah pada dengkulnya.
Dan aku ingat sabdamu:
“Siapa berani mengenakan celanaku
akan mencecap getir darahku.”

Mencecap darahmu? Siapa takut!
Sudah sering aku berdarah,
walau darahku tak segarang darahmu.

Siapa gerangan telah melego celanamu?
Pencuri yang kelaparan,
pak guru yang dihajar hutang,
atau pengarang yang dianiaya kemiskinan?
Entahlah. Yang pasti celanamu
pernah dipakai bermacam-macam orang.

Yesus yang seksi dan rendah hati,
malam ini aku akan baca puisi
di sebuah gedung pertunjukan
dan akan kupakai celanamu
yang sudah agak pudar warnanya.
Boleh dong sekali-sekali aku tampil gaya.

Di panggung yang remang-remang
sajak-sajakku meluncur riang.
Makin lama tubuhku terasa menyusut
dan lambat-laun menghilang.
Tinggal celanamu bergoyang-goyang
di depan mikrofon,
sementara sajak-sajakku terus menggema
dan aku lebur ke dalam gema.
“Hidup raja celana!” Hadirin terkesima.

Kelak akan ada seorang ibu
yang menjahit sajak-sajakku
menjadi sehelai celana
dan celanaku akan merindukan celanamu.

(2007)

 

 Mas

Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, bertato, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.

Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin mengajakmu
duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap ke laut.
Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair
yang tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya.

Wah, mas sudah lebih dulu tiba. Ia tampak gelisah
dan mondar-mandir saja di pantai. Saya segera memanggil
dan mengajaknya duduk di bangku. “Duduklah, mas,
jangan mandir-mondar melulu. Ini kubawakan
sepotong coklat dan sebotol anggur merah tua.”

Mas mendekat ke arah saya dan saya menyambutnya:
“Mas boleh pilih, mau duduk di sebelah kiri atau di sebelah
kananku.” Ia sedikit terperangah. “Apa bedanya?” timpalnya.
“Kiri: bagian diri saya yang dingin dan suram.
Kanan: wilayah jiwa saya yang panas dan berbahaya.”

Diam-diam mas memeluknya dari belakang dan berbisik
di telinganya: “Kalau begitu, aku duduk di pangkuanmu saja.
Aku ingin lelap sekejap sebelum lenyap ke balik matamu
yang hangat dan sunyi. Sebelum aku tinggal ilusi.”
Perempuan itu merinding dan menjerit: “Maaasss….”

Pantai dan bangku mendadak fana dan tak seorang
penyair pun bisa menolongnya. Senja yang ia panggil mas
telah sirna. Ah, begitu cepat ia rindukan lagi kota.

(2008)

 

9 Respon »

Halaman yang kata pemiliknya compang-camping ini, sekarang ternyata sudah tidak. Makin centil ia.

2 Aug 2008
pionucci:

mas joko,
kala baca puisipuisi-mu
atap kamarpikir-ku salahduga
: lagi gelitikin humorgila, ya?
dugamu salah, aku terbahak.
: lagi kunyah sirihsedih, kah?
dugamu salah, aku terenyuh.
: lagi cium bibircinta, kan?
dugamu salah, aku tersenyum.
: lagi apa, sih?
tanyamu salah, haruskah kujawab?
sebab membaca puisipuisi-mu
seperti menatap jawab memapah tanya
yang tertatih di lorongmasa.

10 Sep 2008

kalo kangen,
saya selalu membaca puisi-puisi om Joko…
pada malam-malam menyakitkan,
entah kangen pada siapa sebenarnya…

14 Nov 2008

Ada yang kurang tidak, ya?

Ah!

(mungkin) belum bela beli diri.

12 Feb 2009

ada yang salah dengan jokopinurbo: seharusnya ia mengalir bersama kata, bukan jadi berhala.

26 Feb 2009

Baju Bulan….
puisi paling kusuka…

masih ingat saya, penyair?!

29 Apr 2009
pacarkecilku:

………………………………….
Jika habis kopimu, seduh dan minumlah abuku
sampai menguap di pori-porimu.

saya suka yang ini, pak?
nanti saya bacakan di depan pembelikopiku

8 May 2009

mas saya mau tanya mas mulai masuk puisi lirik hingga periode puisi komedi dan trgedi semenjak kapan mas dan itu semua ada ciri-ciri tertentu dari puisinya? tolong secepatnya di jawab karena saya sedang meneliti karyanya mas. terimakasi sebelumnya.

7 Jun 2009
Weni Suryandari:

Mas JokPin yang penyendiri
puisi2mu sangat saya nikmati.
semoga ada puisi2 terbaru yang juga bisa saya nikmati.

18 Jun 2009
Tuliskan Pesan

Komentar: