Archive for February, 2010

Durrahman 3

Mengenakan kemeja dan celana pendek putih,
Durrahman berdiri sendirian di beranda istana.
Dua ekor burung gereja hinggap di atas bahunya,
bercericit dan menari riang.
Senja melangkah tegap, memberinya salam hormat,
kemudian berderap ke dalam matanya yang hangat dan terang.

Di depan mikrofon Durrahman mengucapkan pidato singkatnya:
“Hai umatku tercinta, dalam diriku ada seorang presiden
yang telah kuperintahkan untuk turun tahta
sebab tubuhku terlalu lapang baginya.
Hal-hal yang menyangkut pemberhentiannya
akan kuselesaikan sekarang juga.”

Dua ekor burung gereja menjerit nyaring di atas bahunya.
Durrahman berjalan mundur ke dalam istana.
Dikecupnya telapak tangannya, lalu dilambai-lambaikannya
ke arah ribuan orang yang mengelu-elukannya dari seberang.

Selamat jalan, Gus. Selamat jalan, Dur.
Dalam dirimu ada seorang pujangga yang tak binasa.
Hatimu suaka bagi segala umat yang ingin membangun kembali
puing-puing cinta, ibukota bagi kaum yang teraniaya.
Ketika kami semua ingin jadi presiden,
baju presidenmu sudah lebih dulu kautanggalkan.

(2010)

Sajak Sebentar 1

Sebentar lagi aku akan sampai di rambutmu.
Seperti embun hinggap di pucuk perdu.

Dua bentar lagi aku akan sampai di matamu.
“Siapakah kamu yang rela menggenang di mataku?”

Aku secercah doa yang berasal dari tetes keringatmu.

Tiga bentar lagi aku akan sampai di lidahmu.
Lenyapkan aku, lenyapkan dalam hausmu.

(2010)

Pengamen Kecil 3

Ke belantara Jakarta ia pergi ngembara.
Di tembok-tembok kota mimpinya menggema.

Senar gitarnya terbuat dari rambut ibunya.
Keringatnya terbuat dari peluh bapaknya.

Bila ia berdendang dan memetik gitarnya,
ibunya yang jauh di kampung berdesir-desir hatinya.

(2010)