Doa Seorang Pesolek
Tuhan yang cantik,
temani aku yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.
Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.
Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.
Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.
Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.
Semoga kecantikanku tak lekas usai
dan cepat luntur seperti pupur.
Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan
menghangatkanku
sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku.
Sebelum Kausenyapkan warna.
Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
ke bibirku yang mati kata.
(2009)
» 23 May 2009 | Puisi Pinurbo |
Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
ke bibirku yang mati kata.
apa pernah mengalami ‘mati kata’,mas?
lalu,bagaimana agar tak’mati kata’
salam hangat selalu dariku,
andra
salam.
ttp semangat y mas jokpin!!
kematian selalu menarik, sampai yang mati katapun tetap melahirkan puisi. saya iri dengan imajinasi anda.
wow!
-j-
membaca sajakmu mas Jok
selalu memunculkan keharuan di kedalaman
salam
mas joko, saya suka semua puisinya!
Wah..mas
Betapa memang dunia kita dipenuhi lipstik dan kata..
mungkin mati kata lebih baik sebelum kita menghadapNya..
mari merenungi apa yang telah kita perbuat selama ini..
“sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku..”
Aduh, phrase ini kuat sekali, sangat puitis sekaligus logis. “Baju” yang dimaksud pastilah sesuatu yang tidak ‘asli’, sesuatu yang ‘artifisial’ dan ‘asesoris’ dari tubuh yang sejati yang tidak bisa melawan waktu. Pancen pinter sampean!
akan kudaraskan bait bait ini setiap kali ku bersolek… hehehe..
tau betul dengan ketergantungan perempuan akan kosmetik dan Tuhan. hihihi pun perempuan, mampu membuat keduanya bertanding, dan bekerja sama sekaligus.