Sajak-sajak 2008

Mas

Kota telah memberikan segala yang saya minta,
tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya
yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja.
Saya perempuan cantik, cerdas, sukses, dan kaya.
Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri.

Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali
saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas.
Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa
menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin mengajakmu
duduk-duduk di bangku panjang yang menghadap ke laut.
Akan saya bacakan sajak-sajak seorang penyair
yang tanpa sengaja menyampaikan cintamu kepada saya.

Wah, mas sudah lebih dulu tiba. Ia tampak gelisah
dan mondar-mandir saja di pantai. Saya segera memanggilnya:
“Ke sinilah, mas, jangan mandir-mondar melulu.

Mas mendekat ke arah saya dan saya menyambutnya:
“Mas boleh pilih, mau duduk di sebelah kiri atau di sebelah
kananku.” Ia terperangah: “Apa bedanya?”
“Kiri: bagian diri saya yang dingin dan suram.
Kanan: belahan jiwa saya yang panas dan berbahaya.”

Diam-diam mas memeluknya dari belakang dan berbisik
di telinganya: “Kalau begitu, aku duduk di pangkuanmu saja.
Aku ingin lelap sekejap sebelum lenyap ke balik matamu
yang hangat dan sunyi. Sebelum aku tinggal ilusi.”
Perempuan itu merinding dan menjerit: “Maaasss….”

Pantai dan bangku mulai hampa. Senja yang ia panggil mas
telah sirna. Ah, begitu cepat ia rindukan lagi kota.

(2008)

Mata Bola

Ia baru saja menunaikan pertandingan sepakbola.
Hatinya memar dan lara. Ia dapatkan tiga peluang emas
untuk mencetak gol, semuanya terbuang percuma.
Bola yang ditembaknya dengan penuh perhitungan
melambung di atas mistar gawang.
Satu mendarat di pelukan penjaga gawang.
Satu lagi membentur tiang gawang,
kemudian memantul deras menghantam jidatnya tersayang.

Dengan terpincang-pincang ia tinggalkan gelanggang.
Kakinya yang gigih agak rusak digasak lawan.
Bola yang dingin dan angkuh dibawanya pulang
dan dihajarnya dengan beringas.
“Ampun, bang,” rintih bola, “bukan saya
yang bikin naas. Kaki abanglah yang kurang cerdas.”

Dipandanginya mata bola yang menatapnya penuh iba.
Sekonyong-konyong muncul bayangan ayahnya
yang tewas dalam kerusuhan penonton
saat menyaksikan pertandingan bola.
Dengan sesal dibelai-belainya bola dan didekapnya.
“Aduh, badanmu panas sekali, bola. Kau demam ya?
Kau pasti capek diajak berlari ke sana kemari.”

Bola terpejam. Dan dari balik mata bola ia dengar suara
ibunya yang telah tiada: “Kakimu cedera ya, nak?
Sini ibu pijitin biar tambah sakit.
Jangan sedih. Ibu selalu menyertaimu di dalam bola.”

Nah, ia akan mencoba cara baru menceploskan bola
ke mulut gawang: ia akan menendangnya sambil terpejam.

(2008)

Kapan Lagi

Kapan lagi kau bisa duduk manis di bawah pohon sawo,
mendengarkan seekor puisi berkicau
di ranting-rantingnya yang tua,
membiarkan bulan mungil jatuh
dan memantul-mantul di atas kepalamu yang kenyal,
meredakan gemuruh tubuhmu yang riuh dan fana.

Hidup yang longgar ini kadang terasa sumpek juga.
Baju yang sebelumnya waras-waras saja
mendadak terasa sesak di bagian ketiak.
Celana yang sampai kemarin masih nyaman dipakai
tiba-tiba terasa melintir di bagian paha.
Tadi malam kau potong rambut, sekarang kaucari-cari
potongan rambutmu. “Duh, gimana kalau bekas rambutku
tumbuh liar di kepala orang lain?” sesalmu.

Seharian kau gundah dan gelisaht melulu,
ingin mengganti ini mengganti itu.
Sementara daftar hutang yang kausembunyikan
di balik pintu bertambah panjang saja.
Hutang mencabuti rumput liar di makam nenek.
Hutang membelikan ayah selembar sarung sutera.
Hutang berterima kasih kepada pohon mangga
yang tiap hari kaulewati dan kerap kaucuri buahnya.
Hutang tidak marah dan mengucapkan anjing
kepada pendengki yang menyebutmu asu.
Hutang bangun pagi terus mandi.
Hutang tidak menggampar cermin yang sering menipu.

….. (bersambung)

(2008)

2 Comments so far

  1. Hayu on January 6th, 2009

    ah,masih adakah kata yang bisa melukiskan keindahan puisi-puisi ini?
    ^_^

  2. sudin on September 17th, 2009

    sambungannya “kapanlagi” kapan, mas?

Leave a Reply