» 27 Oct 2008 | Khazanah | 10 Respon »
Arsip untuk Oct 2008
Sesuatu Sapardi: Anda Bahagia Menulis Puisi?
Oleh Hasan Aspahani
SAYA mengenal nama penyair Sapardi Djoko Damono dan puisi-puisinya dalam buku DukaMu Abadi. Ada sebuah toko buku di Balikpapan yang sering saya kunjungi sepulang sekolah. Mengambil gaya Chairil Anwar, saya pernah mencuri buku di sana. Buku Sapardi itu saya beli, tidak saya curi. Waktu itu saya masih kelas 1 SMA. Puisi-puisi dalam buku tipis itu waktu itu sangat ...Lanjut »
Membaca Kembali Joko Pinurbo:
Surealisme Ranjang, Celana, dan Boneka
Oleh Cecep Syamsul Hari
ANTARA tahun 1999-2004, Joko Pinurbo telah menerbitkan empat kumpulan puisi yang menarik perhatian, yaitu Celana, Di Bawah Kibaran Sarung, Sajak-sajak 2001, dan Telefon Genggam. Akan tetapi, sejauh yang dapat saya amati, hingga saat ini kumpulan puisi Celana Joko Pinurbo-lah yang meninggalkan kesan lebih kuat di dalam benak kebanyakan pembaca dibandingkan dengan kumpulan sajaknya yang lain. Trilogi sajak ...Lanjut »
» 27 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 2 Respon »
Jalan Setapak Berduri
Oleh Nirwan Dewanto
LUKISAN pemandangan gaya Hindia Molek telah memukau saya di masa kecil, tapi perlahan-lahan saya tahu bahwa keindahan semacam itu hanya menjadikan saya seorang penggirang palsu, pemuja buta negeri sendiri. Perihal sastra (berbahasa) Indonesia sepanjang 2003, saya tak mampu membentangkan lukisan jelita. Menelusuri lanskap penulisan itu niscayalah mengungkai royan dan cedera pada diri sendiri. Kenapa gerangan kita masih ...Lanjut »
» 27 Oct 2008 | Khazanah | 2 Respon »
Pinurbo dan Dinar
Oleh Nirwan Dewanto
SETIAP akhir tahun saya merasa lara dan terkutuk sebab saya tahu tak banyak karya sastra dalam bahasa nasional kita dalam setahun itu yang layak dikenang. Sebagian besar hanya akan tinggal sebagai bahan dokumentasi. Juga sepanjang 2002. Namun, takut menjadi anak durhaka di kampung halaman sendiri, saya berusaha toleran terhadap mutu sastra, lalu menghibur diri: lihat, bakat baru terus ...Lanjut »
» 27 Oct 2008 | Khazanah | 1 Respon »
Yang Lahir dan Tumbuh dalam Gelanggang
TEMPO No. 44/XXX - 31 Desember 2001
DUA tahun yang lalu, majalah ini (dalam edisi milenium) menampilkan sekian tokoh, pokok, dan peristiwa yang telah mapan dalam sejarah kesenian modern di Indonesia—masa yang kurang-lebih terentang dari 1900 ke 1970. Namun, patut segera disadari bahwa kemapanan bukanlah kebajikan utama dalam proses berkesenian. Sebagaimana terbukti dalam sejarah seni dunia, apa yang dianggap penting di ...Lanjut »
» 25 Oct 2008 | Khazanah | 2 Respon »
Humor yang Politis, Humor yang Tragis: Mengingat Yudhis, Menikmati Jokpin (2)
Oleh Bandung Mawardi
Pada masa awal penulisan puisi Joko Pinurbo masih menunjukkan kecenderungan menulis puisi-puisi lirik. Kecenderungan itu terlihat dalam puisi-puisi awal yang dipublikasikan di media massa dan yang termuat dalam sekian antologi puisi bersama: Tugu (1986), Tonggak 4 (1987), Sembilu (1991), Ambang (1992), dan Mimbar Penyair Abad 21 (1996). Puisi awal Jokpin yang termuat dalam buku stensilan Sketsa Selamat Malam ...Lanjut »
» 14 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 4 Respon »
Humor yang Politis, Humor yang Tragis: Mengingat Yudhis, Menikmati Jokpin (1)
Oleh Bandung Mawardi
Jika nanti aku tamat, kibarkan celanaku
yang dulu hilang di atas makamku.
(Joko Pinurbo, “Sukabumi”, 2007)
Joko Pinurbo (Jokpin) layak dibicarakan sebagai penyair penting yang mungkin bisa diletakkan dalam wacana pasca-Afrizal Malna. Penempatan ini memiliki latar belakang dalam proses kreatif, pencapaian estetika, dan pembicaraan dari tukang kritik puisi Indonesia mutakhir. Joko Pinurbo hanya menjadi pembicaran kecil dalam rumusan Angkatan 2000 oleh ...Lanjut »
» 14 Oct 2008 | Membaca Jokpin | 1 Respon »