Puasa dan Puisi
Puasa
kepada penyair Haspahani
Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan air mata yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi.
(2007)
Baju Bulan
Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.
(2003)
Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004)

September 1st, 2008 at 9:42 am
….atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang…
September 3rd, 2008 at 1:42 pm
Puisi rintih yang mengibakan tanpa membuat pembaca jadi cengeng, malah tersenyum getir…
September 8th, 2008 at 4:40 am
Selamat menunaikan ibadah puasa ^^!
Kupungut pundi-pundi memori yang tercecer di pikiran dan hati. Kupaksa tunduk meriam ego dari hijaunya rumput-rumput ambisi. Berteriakku pada hening lembayung jiwa yang tak kunjung bertepi. Bergelayutku pada curamnya rongga-rongga hakiki. Tiba-tiba diam terjatuh pada tumpulnya duri angka-angka binari. Kuyupku oleh kumpulan bilangan nol dan satu yang berganti-ganti. Mereka meminta verifikasi data pribadi yang terenkripsi dalam mimpi. Tapi terganjal oleh tebalnya sandi dalam hitungan sanubari. Apakah ini cuma emosi dalam wujud simpati? Bukankah ini cuma malam bertopeng hari? Tidakkah mereka bisa merubah alegori imaji? Sadarkah bahwa bumi cuma sugesti? Oh keinginan yang tak kunjung berhenti. Istirahatlah kau dalam pelukan bulan suci tahun ini. Biarkanlah aku, dia, dan kami semua, berperisai dalam janji. Berkepompong erat hingga bisa berpendar kembali.
September 8th, 2008 at 10:05 am
selamat menunaikan ibadah puisi juga !
September 10th, 2008 at 5:48 am
“aku dan lapar”
ke balikbelukar aku menyeret lapar
dan mulai menggali akar sirih
yang terpendam dalam bumipedih.
“kawan, bolehkah aku mengunyah perihnya”, pinta lapar.
aku berikan akarperih yang belum bersih padanya,
ia mengunyah sampai subuh luruh
bersama peluh tubuhku dan tubuhlapar.
September 15th, 2008 at 8:12 am
Puisi2 Jokpin di atas cocok dengan suasana saat ini, bulan puasa dan menjelang lebaran. sukses kang Jokpin.
Asa Puisi
aku akan terus berpuasa
sampai tak kuasa lpar dahaga
nuju setubuh senyawa jiwa
aku akan terus berpuisi
sampai kutemu saripati sunyi
nuju sebening sehening diri
(Jakarta, 14 September 2008)
Salam progresif-kreatif,
Buset!