Puasa dan Puisi

 

Puasa

kepada penyair Haspahani

Saya sedang mencuci celana yang pernah
saya pakai untuk mencekik leher saya sendiri.
Saya sedang mencuci kata-kata
dengan air mata yang saya tabung setiap hari.
Dari kamar mandi yang jauh dan sunyi
saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puisi.

(2007)

 

Baju Bulan

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,
tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,
sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.
Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?
Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan
bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni
baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,
mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat
menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri
rela telanjang di langit, atap paling rindang
bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

(2003)
Sumber: Buku Puisi Kekasihku (2004) 


6 Responses

  1. herlinatiens:

    ….atap paling rindang bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang…

  2. weni suryandari:

    Puisi rintih yang mengibakan tanpa membuat pembaca jadi cengeng, malah tersenyum getir…

  3. koekoeh:

    Selamat menunaikan ibadah puasa ^^!

    Kupungut pundi-pundi memori yang tercecer di pikiran dan hati. Kupaksa tunduk meriam ego dari hijaunya rumput-rumput ambisi. Berteriakku pada hening lembayung jiwa yang tak kunjung bertepi. Bergelayutku pada curamnya rongga-rongga hakiki. Tiba-tiba diam terjatuh pada tumpulnya duri angka-angka binari. Kuyupku oleh kumpulan bilangan nol dan satu yang berganti-ganti. Mereka meminta verifikasi data pribadi yang terenkripsi dalam mimpi. Tapi terganjal oleh tebalnya sandi dalam hitungan sanubari. Apakah ini cuma emosi dalam wujud simpati? Bukankah ini cuma malam bertopeng hari? Tidakkah mereka bisa merubah alegori imaji? Sadarkah bahwa bumi cuma sugesti? Oh keinginan yang tak kunjung berhenti. Istirahatlah kau dalam pelukan bulan suci tahun ini. Biarkanlah aku, dia, dan kami semua, berperisai dalam janji. Berkepompong erat hingga bisa berpendar kembali.

  4. budi sarwono:

    selamat menunaikan ibadah puisi juga !

  5. pionucci:

    “aku dan lapar”

    ke balikbelukar aku menyeret lapar
    dan mulai menggali akar sirih
    yang terpendam dalam bumipedih.
    “kawan, bolehkah aku mengunyah perihnya”, pinta lapar.
    aku berikan akarperih yang belum bersih padanya,
    ia mengunyah sampai subuh luruh
    bersama peluh tubuhku dan tubuhlapar.

  6. Budhi Setyawan:

    Puisi2 Jokpin di atas cocok dengan suasana saat ini, bulan puasa dan menjelang lebaran. sukses kang Jokpin.

    Asa Puisi

    aku akan terus berpuasa
    sampai tak kuasa lpar dahaga
    nuju setubuh senyawa jiwa

    aku akan terus berpuisi
    sampai kutemu saripati sunyi
    nuju sebening sehening diri

    (Jakarta, 14 September 2008)

    Salam progresif-kreatif,
    Buset!

Leave a Reply

RSS subscribe