Archive for July, 2008

Bukan Si Anak Hilang 0

Sitor Situmorang
Paris la Nuit / Paris di Waktu Malam
Forum Jakarta-Paris & Komunitas Bambu, 2002
lxiv + 262 halaman

————————————-

Membicarakan perpuisian Sitor Situmorang, orang mungkin segera teringat sajaknya “Malam Lebaran”, sajak-sebaris yang cuma berbunyi Bulan di atas kuburan. Sajaknya yang juga sangat populer adalah “Si Anak Hilang”. Selain karena kekuatan bentuk pengucapannya, sajak ini pun dianggap mewakili kecenderungan tematik perpuisian Sitor. Sajak ini bercerita tentang anak yang pulang ke kampung halamannya dari pengembaraannya di “dingin Eropa”. Kepulangannya cuma fisik belaka, lantaran jiwanya masih terpaut di seberang sana. Dalam kata-kata A. Teeuw (1980), “kembali tapi tidak pulang”. Ironi semacam inilah yang disebut-sebut sebagai salah satu daya pikat puisi Sitor.

Kedua sajak tersebut tidak dapat dijumpai dalam antologi dwibahasa (Indonesia dan Perancis) yang memuat 102 sajak Sitor ini. Tampaknya buku ini memang tidak diniatkan sebagai koleksi sajak-sajak terbaik Sitor. Ia lebih dimaksudkan untuk menghimpun sajak-sajak Sitor yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis. Di samping sajak-sajak yang dapat dijumpai dalam berbagai kumpulan puisi Sitor sebelumnya, terdapat pula sajak-sajak yang tampaknya belum pernah diterbitkan sebagai buku.

Sebagai penyair, Sitor tergolong cukup produktif. Di antara sekian banyak sajaknya, sajak-sajak terindahnya – seperti dikemukakan Wing Kardjo dalam pengantarnya– muncul pada periode-periode awal kepenyairannya, yaitu periode Surat Kertas Hijau (1953), Dalam Sajak (1955), dan Wajah Tak Bernama (1955). Adalah menarik bahwa sajak-sajak terkuat Sitor justru sajak-sajak yang digubah dalam bentuk terikat yang ketat, yang bersumber pada pola-pola persajakan lama seperti pantun dan syair. Selain dalam “Si Anak Hilang”, kecenderungan ini dapat dilihat, misalnya, dalam “Lagu Gadis Itali”, “Angin Merendah”, “La Ronde”, dan tentu saja “Cathedrale de Chartres” yang memukau itu. Sajak-sajak itu gemerlap bahasanya, segar dan lincah imajinya.

Dalam perkembangan selanjutnya Sitor banyak menulis sajak yang lebih cair bentuk dan gaya pengungkapannya, meskipun tetap dalam kerangka estetika puisi lirik yang memang merupakan habitatnya. Ciri lain yang juga muncul: tidak banyak lagi ditemukan sajak yang masing-masing menampilkan kesatuan dan keutuhan yang kukuh sebagaimana sajak-sajak yang disebutkan di atas. Yang lebih banyak muncul adalah rangkaian puisi atau bahkan kerumunan puisi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat dalam banyak sajaknya Sitor cenderung melakukan semacam snapshot, bukan pengolahan suatu tema secara utuh dan tuntas. Sajak-sajak semacam ini lebih dapat dinikmati dalam hubungannya atau rangkaiannya dengan sajak-sajak lain, dan terasa kurang gregetnya bila dinikmati secara lepas-lepas.

Pernah, dalam satu periode, yaitu periode Zaman Baru, Sitor ikut-ikutan latah menggubah sajak-sajak “kerakyatan” yang kualitasnya tidak mencerminkan kecerdasan puitiknya. Atau, Sitor telah tidak memanfaatkan kecerdasan puitiknya untuk menggarap tema yang sebenarnya tidak haram itu.

Kecenderungan makin mencairnya puisi Sitor ternyata diikuti dengan menjinaknya semangat petualangan si aku-lirik. Pada akhirnya si aku-lirik benar-benar ingin kembali ke kampung halamannya, sebab di negeri kembara ia hanyalah “tamu”, “musafir”, “penumpang”. Simaklah baris-baris sajak “Harianboho” ini: ‘Ku yakin menemukan jalan selalu/kembali padamu,/jalan pulang ke lembah landai/di tepi danau/sepanjang pantai.//‘Ku yakin selalu padamu kembali/di akhir nanti,/saat kembara berakhir,/tiba sadar pada musafir.//Di ladang dan gerbang/negeri-negeri ramah, tapi asing,/kau pun terkenang.//Betapa sering,/puluhan tahun di negeri orang,/ jadi tamu ragam cinta,//namun penumpang jua./Karena ketentuan masalalu,/tak dapat diulang,/lahir sekali di pangkuanmu.

Dengan sajak ini si aku-lirik seakan telah menyelesaikan konflik batinnya, meredakan gairah “keisengan”-nya di antara dua kutub rindu: “Harianboho” dan “Paris”. Ada paradoks –atau mungkin ironi– di sini: di satu sisi kita bisa melihat munculnya kearifan hidup, di sisi lain –meminjam kata-kata Teeuw– hilangnya misteri puisi Sitor.

Dalam peta perpuisian Indonesia, secara estetik, Sitor, penyair-pengembara itu, sesungguhnya memang bukan “si anak hilang”. Estetika perpuisiannya dapat dengan mudah dilacak jejaknya dalam tradisi perpuisian yang tumbuh di negeri ini. Dan dalam masa bakti kepenyairannya yang panjang ia agaknya tidak tergerak untuk menjelajah dan merambah khasanah estetik lain seperti yang dicoba oleh, misalnya, Rendra. Toh intensitasnya menggulati problematik manusia-pengembara dan kecerdasan artistiknya mendayagunakan unsur-unsur dan pola-pola persajakan lama telah menempatkannya sebagai salah seorang penyair terpenting di negeri yang berkelimpahan puisi ini.

Yogyakarta, 28 Maret 2002
Joko Pinurbo

TEMPO No. 10/XXXI 06 Mei 2002

Telepon dan Sastra: Ekstase dan Pembenaran Diri 1

Oleh  Bandung Mawardi*

TELEPON adalah sebuah kata yang lahir pada tahun 1796. Sebagai wujud dari teknologi komunikasi, telepon menemukan bentuk dan fungsi nyata saat Alexander Graham Bell (1874-1922) menemukan dan mematenkan perangkat tersebut. Telepon pun kemudian berkembang sebagai dasar dari revolusi besar komunikasi, bahkan tata hidup manusia secara umum.

Tak dapat dielak, telepon telah menjadi ikon modernitas yang juga menandai pergeseran nilai, bahkan struktur sosio-kultural. Umberto Eco antara lain menyatakan, sistem komunikasi modern telah melahirkan kesadaran akan lahirnya zaman komunikasi (age of communication), di mana telepon menjadi salah satu penanda utamanya. Jurgen Habermas mengakui pula peran telepon dalam kehidupan modern, sebagai medium komunikasi yang tak sekadar memenuhi keinginan menyampaikan atau menerima informasi, tetapi juga secara substansial menjadikan keinginan itu bisa diketahui.
  

 

Teknologi telepon mulai hadir di

 

 

Batavia (Hindia Belanda) pada akhir abad XIX, untuk kepentingan kolonial dalam menjalankan komunikasi ekonomi-politik. Telepon sebagai teknologi komunikasi modern ikut menentukan konstruksi kehidupan modern di Hindia Belanda. Telepon hadir dan melahirkan kisah-kisah yang merepresentasikan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan. Telepon adalah pengertian besar yang memberi kontribusi dalam mengonstruksi biografi Hindia Belanda sampai menjadi Indonesia.

Telepon dalam sastra
Kisah-kisah telepon itu hadir dalam berbagai teks sastra Indonesia modern. Sori Siregar, antara lain, mengapresiasinya dalam novel Telepon (1982). Tokoh Daud dalam novel itu menjadi representasi manusia yang merasakan bosan atau jenuh menjalani rutinitas kerja dan pola hidup modern di kota.  Pelarian dari bosan itu adalah telepon. Telepon adalah hasrat dan pembebasan diri dari beban. Tokoh Daud memakai telepon untuk memberikan ancaman dan teror untuk orang lain sebagai manifestasi resistensi dan depresi.Telepon pun menjadi horor. Situasi yang pada akhirnya dirasakan pula oleh Daud saat menerima balasan telepon dari orang lain. Dalam novelnya, Sori Siregar telah membuat telepon sebagai manifestasi manusia untuk hasrat, horor, kesepian, gelisah, dan depresi.
Seno Gumira Ajidarma menuliskan kisah telepon dalam cerpen Seorang Wanita yang Menunggu Telepon Berdering (1985). Telepon dalam cerpen itu adalah perkara ketergesaan dan keisengan. Dering telepon menjadi tanda seorang wanita tergesa memegang telepon dan melakukan komunikasi dengan harapan-harapan dari penantian. Seorang wanita menanti ada seorang (”suami”) yang mungkin menelepon. Penantian dering telepon pun bisa melahirkan ketololan diri.
Penantian dering itu melahirkan nostalgia yang tragis. ”Dulu kamu meneleponku tepat tengah malam, ketika aku sedang sendirian di rumah dan tidak bisa tidur. Mengapa kamu begitu iseng? Begitu berani. Apakah kamu seperti aku yang suka memutar nomor-nomor dengan harapan bertemu kekasih di jalur kosong, sunyi, dan bisu?” tulis Seno.
Nostalgia pun berhenti dalam penantian yang menyiksa. Bunyi membunuh sunyi. Seorang wanita merasa seakan telepon itu memiliki nyawa. Bunyi dering telepon adalah sihir. Telepon membuat seorang wanita itu harus memilih untuk bahagia atau kecewa.

Dalam puisi
Afrizal Malna mengisahkan telepon dalam puisi Jam Kerja Telepon (1986). Puisi itu menggambarkan sistem komunikasi modern dengan melakukan pemampatan ruang dan waktu. Telepon dianggap memberi kemudahan dan efisiensi dalam komunikasi. Telepon menjadi alat komunikasi modern yang mengatasi jarak dan waktu. Pemahaman dan pemakaian telepon dalam perkembangannya mengalami pergeseran fungsi dan makna: alat komunikasi, pemenuhan hasrat, dan identitas.

Tokoh Merlin dalam puisi itu mengucapkan: Saya menyaksikan orang-orang lahir dari telepon. Kelahiran identitas orang-orang modern dipengaruhi oleh tindakan komunikasi dengan telepon. Hal itu terjadi dalam suatu sistem dan proses yang mengaburkan pemahaman realitas subyek, pesan, ruang, dan waktu. Komunikasi dengan telepon dipresentasikan oleh suara yang melibatkan proses identifikasi (pembayangan-penghadiran) subyek dengan keterbatasan-keterbatasan.

Tokoh Merlin merasa bahwa ada kekuatan negatif atau destruktif yang ditemukan dalam telepon sebagai alat komunikasi modern: Saya mencium bau busuk dari telepon. Telepon dalam puisi Afrizal Malna adalah kerancuan identitas, hasrat, dan realitas, dalam tindakan komunikasi yang mereduksi substansi subyek, bahasa, dan pesan. Telepon adalah risiko.

Sementara penyair Sapardi Djoko Darmono menuliskan kisah telepon dalam puisi Tiga Percakapan Telepon. Dalam puisi ini, telepon menjadi perkara yang menyedihkan karena tidak ada komunikasi yang berproses, yang bersambung. Komunikasi dengan telepon seakan pertemuan monolog-monolog. Tindakan komunikasi dengan telepon kerap terganggu karena bahasa, posisi, kondisi telepon, operator, dan lain-lain. Sapardi Djoko Darmono dalam puisi itu membuat kalimat-kalimat yang kritis mengenai telepon dan tindakan komunikasi: ”Suaramu tak begitu jelas”, ”tapi, untuk apa aku nelpon?”, ”Halo! Halo! Jangan!”

Sedangkan Joko Pinurbo melihat telepon dengan cara lain lagi dalam puisinya, Telepon Genggam. Telepon genggam dalam tafsir Joko Pinurbo adalah ”surga kecil yang tak ingin ditinggalkan”. Telepon genggam melahirkan kisah-kisah senang, hiburan, ekstase, tragedi, mimpi, obsesi, hedonis, birahi, dan lain-lain. Telepon (genggam) tidak sekadar sarana komunikasi.

Dalam puisinya yang lain lagi, Selamat Tidur, Joko mengisahkan telepon genggam yang capek karena ulah manusia: ”Telepon genggam mau tidur. Capek. Seharian bermain/monolog. Banyak peran. Konyol. Nggak nyambung.” Telepon genggam terlalu dipaksa bekerja keras dengan pelbagai dalih dan pamrih.

Bisakah ungkapan Martin Heidegger bahwa komunikasi adalah manifestasi manusia menemukan pembenaran dan pembuktian pada hari ini terkait dengan telepon (genggam) dan hasrat komunikasi? Jean Baudrillard memperingatkan: ”Kita tidak lagi berperan dalam drama keterasingan, tetapi dalam ekstase komunikasi”. Begitukah? 

 
 
 

 

*Bandung Mawardi, Pengurus Pustaka KABUT INSTITUT dan Redaktur Buletin Sastra Pawon (Solo)

Sumber: Kompas, Sabtu, 10 Mei 2008

 

Tragedi dan Puisi 0

Oleh Bandung Mawardi

Aristoteles dalam Poetics melakukan ikhtiar pembacaan dan eksplanasi mengenai tragedi dengan acuan kebudayaan Yunani. Tragedi adalah proses imitasi tindakan yang memiliki implikasi-implikasi serius. Bahasa yang dipakai dalam mengungkapkan tragedi adalah atraktif sensual. Pemakaian bahasa itu menimbulkan adanya rasa kasihan dan ketakutan yang digambarkan dalam tindakan-tindakan tragis dan karakteristik-karakteristik emosional. Substansi tragedi adalah imitasi dari tindakan dalam kehidupan yang didasarkan pada kualitas moral sesuai dengan karakter bahagia atau derita. Pemahaman Aristoteles mengenai tragedi dalam konteks puisi merepresentasikan kekuatan tragedi yang mengungkapkan persoalan-persoalan hakikat manusia dan kehidupan.

Istilah tragedi berasal dari bahasa Yunani tragidio yang berarti nyanyian sendu. Tragedi pada awalnya dikenal dalam seni drama Yunani yang menceritakan peristiwa kemanusiaan yang berkaitan dengan masalah moral, arti eksistensi manusia, hubungan antara sesama manusia, dan hubungan manusia dengan dewa-dewanya. Tragedi dalam manifestasi seni menghadirkan keindahan dan kesenangan yang mengandung potensi sebagai sakit dan trauma.

Deleuze menjelaskan bahwa Nietzsche memahami tragedi sebagai dialektika yang menghubungkan sesuatu yang negatif, penentangan, dan kontradiksi tentang penderitaan dan kehidupan manusia. Konsep tragedi dalam pemikiran Nietzsche didasarkan pada dua kekuatan besar dalam mitologi Yunani yang disebut sebagai Dionysian (kegairahan) dan Apollonian (kelemahan). Pemahaman Nietzsche itu menunjukkan bahwa ada orientasi yang mengantarkan manusia pada kondisi kuat (positif) atau lemah (negatif) dalam menghadapai dan menyelesaikan persoalan-persoalan hidup. Tragedi adalah suatu pengalaman interaktif, mistis, dan menyatukan yang memberikan jalan keluar terapautis bagi orang yang peka terhadap penderitaan dan ketidakpastian hidup sehari-hari. Nietzsche menyebutkan bahwa tragedi Yunani dalam bentuknya yang paling tua dominan mengungkapkan penderitaan-penderitaan.

Manusia dalam hidup ditandai oleh penderitaan, kedukaan, kengerian, dan misteri yang susah untuk disingkap dan dijelaskan. Tragedi merepresentasikan manusia-manusia dalam ikhtiar menghadapi kekuatan-kekuatan yang mungkin bisa menghancurkan hidupnya. Tragedi dalam kehidupan manusia dimanifestasikan dalam bentuk kematian, kemiskinan, kehinaan, penderitaan batin, alienasi, depresi, absurditas, marjinalisasi, atau kondisi-kondisi lainnya. Pemahaman terhadap tragedi yang dialami manusia memiliki kaitan erat dengan persoalan-persoalan pandangan hidup, ekonomi, sosial, politik, agama, ideologi, psikologi, dan kebudayaan.

Wacana tragedi itu patut menjadi acuan dalam pembacaan dan penilaian puisi-puisi Joko Pinurbo yang merepresentasikan tragedi dalam kisah-kisah hidup manusia. Puisi “Doa Sebelum Mandi” adalah puisi getir. Puisi ini dibuka dengan doa yang memelas bahwa tokoh “saya” takut mandi. Mandi sebagai peristiwa membersihkan tubuh (diri) dipahami sebagai peristiwa yang mengandung ketakutan untuk dilucuti. Ketakutan itu hendak menolak fakta tubuh menjadi telanjang tanpa apa-apa. Tubuh menjadi representasi diri manusia yang merasa malu atau takut pada dirinya sendiri ketika telanjang. Ketakutan yang berasal dari tubuh lantas tumbuh sebagai ketakutan pikiran dan perasaan. Ketakutan terhadap tubuh sendiri mengartikan ada persoalan yang terkandung dalam pemaknaan diri melalui tubuh. Ketakutan itu ternyatakan dalam kalimat: Saya takut dilucuti. Saya takut pada tubuh saya sendiri.

Tubuh itu mengandung aib yang bakal terbuka ketika mandi. Aib adalah suatu keburukan yang susah atau tidak pantas untuk dikabarkan pada orang lain. Aib mesti terkubur dan sembunyi dalam tubuh untuk pengertian diri sendiri. Hal itu disadari oleh tokoh “saya” yang merasa aib itu mungkin menjadi tragedi dalam prosesi mandi. Aib akan terbuka dan bicara segala sesuatu yang mengandung kekuatan menghajar dan membunuh diri. Tokoh “saya” menjadi takut untuk mandi karena dalam mandi akan hadir “mayat”. Mayat itu adalah kematian orang-orang karena pembunuhan yang dilakukan tokoh “saya” untuk melunaskan diri sebagai “orang miskin celaka”. Pembunuhan itu terjadi untuk hidup dalam pengertian ekonomis. Pembunuhan menjadi pekerjaan yang paling mungkin karena “kerja saya adalah mencari pekerjaan.”

Hidup sebagai orang miskin adalah tragedi. Pembunuhan untuk mempertahankan hidup adalah tragedi. Tubuh dengan memori kematian adalah tragedi. Aib diri adalah tragedi. Mandi mungkin menjadi laku pembersihan diri yang mengingatkan dan menyadarkan diri untuk berani mengafirmasi dan menegasi tragedi.

Puisi “Kepada Uang” adalah puisi yang mengisahkan pergulatan manusia dengan uang untuk bisa hidup. Puisi ini memposisikan manusia di hadapan uang dengan pelbagai permintaan dan keinginan. Manusia dipandang sebagai subjek yang memiliki ketergantungan pada uang. Uang menempati posisi yang penting dan menentukan hidup seseorang. Uang menjadi persoalan yang sudah dihadapi manusia sejak sekian abad yang lalu sampai saat sekarang. Uang pada akhirnya dipahami sebagai persoalan ekonomi, politik, sosial, agama, filsafat, hukum, dan kebudayaan.

Puisi ini diawali dengan suatu permintaan: Uang, berilah aku rumah yang murah saja. Permintaan ini mengisyaratkan bahwa uang dianggap penting untuk merealisasikan keinginan-keinginan manusia. Uang yang semula dipahami sebagai alat tukar berubah sebagai penentu hidup dan mati manusia. Permintaan pada uang menjelaskan posisi manusia yang lemah di hadapan uang. Uang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan menentukan nasib manusia. Uang adalah kuasa.

Keinginan memiliki rumah mesti tertangguhkan karena kemiskinan. Keinginan dan kemiskninan adalah pertentangan yang susah didamaikan. Keinginan itu idea dan kemiskinan itu realita. Kemiskinan menjadi tragedi ketika keinginan tak mungkin direalisasikan.

Orang miskin merasa mimpi bisa menjadi ekspresi yang masih mungkin diciptakan meski berlawanan dengan realitasnya. Keinginan memiliki rumah ditangguhkan: Sabar ya, aku harus menabung dulu. Penanggguhan itu merepresentasikan kondisi hidup yang tragis. Menabung tidak berarti menyimpan uang sebagai dana cadangan atau kelebihan dari pengeluaran. Menabung memiliki arti yang memprihatinkan. Menabung adalah menyimpan atau menahan rasa lapar. Menabung adalah menyimpan mimpi-mimpi yang diciptakan. Orang miskin membutuhkan mimpi sebagai ikhtiar menyelamatkan diri atau menghibur diri dari penderitaan. Mimpi itu terpusat pada uang.

Puisi-puisi Joko Pinurbo adalah kisah-kisah tragedi yang terkadang melahirkan senyum kecil (humor) tapi pahit. Tokoh-tokoh manusia dalam puisi-puisi Joko Pinurbo menjadi representasi kegagalan manusia untuk menghadapi dan menyelesaikan soal-soal hidup. Tragedi-tragedi itu pertanyaan atau jawaban?

*Dimuat di koran Seputar Indonesia (6 Juli 2oo8)