Sajak-sajak 2003-a
Laki-laki Tanpa Celana
Ini Januari, bulan yang rajin mandi. Di sebuah gang lengang di sudut Januari saya berpapasan dengan seorang perempuan muda, wajahnya milik trauma. Kepalanya agak tunduk, matanya sedikit sembab seperti habis menangis. Saya urung menyapanya dengan selamat pagi karena ia tampak cuek sekali. Ia biarkan serbuk hujan bertaburan di atas rambutnya yang diikat begitu saja, mengguyuri baju putih lengan panjang, celana blue jeans yang sedikit pudar warnanya, dan sepatu tok-tok kecoklat-coklatan. Seakan ia ingin bilang Selamat tinggal kecantikan! Saya terkesima: rasanya saya pernah melihatnya entah di mana. Sebelum saya sempat mengingatnya, tubuhnya keburu lenyap ditelan tikungan.
Malamnya saya bermesra-mesraan dengan demam setelah seharian banyak minum hujan. Dalam demam saya tergoda untuk menjumpai para penyair kesayangan saya. Buat orang semelankolis saya, membaca puisi sering lebih mujarab dari minum obat dan saya berusaha tidak telat minum puisi sebab akibatnya bisa gawat. Nah, itu dia. Saya terhenti lama di sebuah sajak Sapardi Djoko Damono, “Pada Suatu Pagi Hari”:
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Intuisi saya mengatakan bahwa perempuan yang berpapasan dengan saya di gang lengang pagi tadi adalah perempuan dalam sajak Sapardi. Saya akan menanyakannya ke yang bersangkutan suatu saat nanti.
***
Atas petunjuk seorang teman, akhirnya saya jadi menempati rumah besar yang letaknya agak terpencil di pinggir sungai, meskipun banyak orang menganjurkan jangan karena rumah itu angker, ada jinnya, dan memang setiap orang yang pernah tinggal di situ cuma tahan sebentar, lalu pergi mencari rumah kontrakan lain yang lebih aman.
Konon rumah itu ditunggui seorang laki-laki tanpa celana yang suka muncul malam-malam ketika penghuninya terjaga, dan ia paling suka mencegat orang yang sedang tergopoh-gopoh ke kamar mandi. Oleh seorang penyair saya disarankan cepat-cepat telanjang bila ia datang, lalu katakan selamat malam. Maka, setelah mengucapkan Terima kasih Nona, ia akan segera pamit dan menghilang.
Beberapa bulan tinggal di rumah itu, saya tidak pernah mendapat gangguan apa-apa selain serbuan tikus-tikus yang cericitnya membuat keheningan terasa makin menggema sehingga saya bisa dengan tenang menulis novel yang sudah lama saya idam-idamkan. Kecurigaan baru muncul ketika suatu hari saya jatuh sakit. Dalam sakit saya sering mendengar suara orang batuk di kamar mandi, kadang disertai jeritan Sakit euy!
Suatu malam, ketika sedang terhuyung-huyung ke kamar mandi untuk buang sakit, saya dihadang seorang laki-laki tanpa celana dengan darah mengucur dari kelaminnya. Seketika saya ucapkan selamat malam sambil saya tatap wajahnya yang meringis kesakitan, dan seketika pula ia menghilang sebelum saya sempat telanjang.
Saat itulah samar-samar saya melihat bayangan wajah ayah saya yang di suatu pagi buta, dulu, dijemput beberapa orang tak dikenal berwajah seram dan sejak itu saya tak pernah lagi melihatnya. Saya mengingatnya sayup-sayup saja karena waktu itu saya baru enam tahun. Konon ayah saya seorang penyair yang berani, meskipun karyanya tidak hebat-hebat amat. Saya tidak tahu bagaimana persisnya, tapi saya pernah mendengar cerita orang-orang tentang seniman dan demonstran yang diculik kemudian disiksa, bahkan katanya ada yang sampai dikerat kemaluannya.
Terbayang wajah laki-laki tanpa celana, saya segera teringat sebuah puisi Sapardi Djoko Damono yang sangat saya hafal salah satu baitnya:
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
Berkali-kali saya keluar-masuk puisi itu dan akhirnya saya yakin bahwa laki-laki tanpa celana yang meringis kesakitan itu adalah laki-laki yang saya jumpai dalam sajak Sapardi. Semula saya berniat menanyakan hal ini langsung kepada penyairnya, tapi lalu saya pikir untuk apa, sebab Sapardi pasti akan mengatakan bahwa pengarang telah mati.
***
Sebagai wartawan yang boleh dibilang agak kurang kerjaan, saya sering menyempatkan diri menelusuri jejak perempuan itu. Belakangan saya tahu bahwa ia tinggal sendirian di sebuah rumah angker di pinggir sungai. Saya sering pura-pura lewat di depan rumahnya hanya untuk memastikan bahwa ia memang tinggal di sana. Kadang-kadang saya melihat ia berdiri lama di depan jendela, bercakap-cakap dengan senja.
Saya memutuskan untuk menemui perempuan misterius itu karena memang ada hal penting yang ingin saya tanyakan. Saat itu sedang berlangsung demonstrasi besar-besaran menentang kenaikan harga bahan bakar minyak yang diikuti dengan makin anjloknya harga manusia. Saya melihatnya di tengah kerumunan demonstran sedang mengacung-acungkan tangan sambil meneriakkan kata-kata yang tidak bisa saya dengar jelas bunyinya. Saya dekati dia, saya ajak ke tempat yang agak sepi untuk, katakanlah, semacam wawancara.
“Non, sepertinya saya pernah melihat Non dalam sajak Sapardi, ‘Pada Suatu Pagi Hari’.”
Ia tampak bingung dan tidak mengerti apa yang saya katakan.
“Mengapa pagi itu Non kelihatan habis menangis? Sepertinya baru pulang dari kuburan. Siapa yang meninggal, Non?”
Ia makin bingung dan tampak mulai curiga dengan kesehatan jiwa saya. Setelah minta maaf kalau-kalau kelakuan saya telah melukai perasaannya, saya katakan bahwa Sapardi titip salam untuknya (padahal cuma akal-akalan saya saja).
“Sapardi? Pangeran dari mana? Saya nggak kenal tuh.”
Tanpa permisi, cepat-cepat saya tinggalkan dia.
***
Saya mengasingkan diri ke rumah ini, meninggalkan ibu dan saudara-saudara saya, karena saya tak ingin terpenjara dalam kepedihan masa lalu saya. Toh setiap akhir pekan saya sempatkan pulang ke rumah Ibu, menghirup kehangatan dan kedamaiannya. Saya tidak pernah bercerita kepada Ibu bahwa alasan utama saya pergi menyendiri adalah karena ingin menulis sebuah kisah, bukan karena tak bisa berdamai dengan rumah.
Ketika novel yang sedang saya tulis mulai terancam macet, laki-laki tanpa celana itu muncul lagi. Ia sering datang lewat tengah malam ketika saya sudah lelap di pembaringan. Ia duduk di kursi yang biasa saya duduki, mencelupkan pena pada darah yang menyembul dari kelaminnya, lalu menuliskan kata-kata di atas halaman-halaman buku yang terbuka di atas meja kerja saya. Sesekali, saat terjaga, saya dengar ia mengerang, Sakit euy! Ah, laki-laki tanpa celana itu, dengan caranya sendiri, telah ikut menyelesaikan novel saya.
Banyak orang heran dan tak habis pikir, bagaimana mungkin perempuan selembut saya (padahal sebenarnya saya agak cerewet dan keras kepala) bisa betah dan tenang-tenang saja tinggal di rumah terpencil yang menurut mereka sangat menakutkan. Mereka kemudian menyebut saya perempuan sakti karena dianggap mampu mengusir jin laki-laki tanpa celana yang konon sudah menelan banyak korban. Ada yang bahkan meminta saya menyembuhkan penyakit aneh yang bersarang di tubuhnya.
Oh ya, tentu saya tahu bahwa laki-laki yang berpapasan dengan saya di gang lengang itu diam-diam suka memantau keberadaan saya. Tampaknya dia memang wartawan yang agak kurang kerjaan karena sering mencari-cari kesempatan hanya untuk memperhatikan atau minta perhatian saya. Seperti tidak ada bahan berita saja. Jangan-jangan dia naksir saya tapi tidak berani atau malu berterus terang. Gombal ah!
***
Setelah beberapa lama tidak mengikuti jejaknya, tiba-tiba saya mendapat undangan untuk menghadiri malam peluncuran novel perdananya: Laki-laki Tanpa Celana. Sayang sekali saya datang agak terlambat. Ketika sampai di tempat acara, saya lihat perempuan itu sedang sibuk menjawab pertanyaan orang-orang yang tanpa membaca karyanya terlebih dulu sudah berani menyatakan diri sebagai penggemarnya. Gila, perempuan itu mengenakan semua yang ia kenakan saat berpapasan dengan saya di gang lengang itu: baju putih lengan panjang, celana blue jeans yang sedikit pudar warnanya, dan sepatu tok-tok kecoklat-coklatan. Rambutnya pun diikat begitu saja. Dan matanya sangat kenangan. Saya memperhatikannya dari jauh dan diam-diam mengagumi keindahan bicaranya.
Saya hampir tak percaya melihat Sapardi duduk manis di samping perempuan itu, memberikan komentar sambil membolak-balik halaman-halaman buku Laki-laki Tanpa Celana yang disebutnya memikat antara lain karena tokohnya luar biasa. Sesekali mereka berdua terlihat berbincang akrab sambil ketawa-ketawa, padahal dulu perempuan itu mengaku tidak mengenalnya. Saya tidak tahu apakah mereka diam-diam bersekongkol untuk menghancurkan mental saya. Mudah-mudahan cuma kebetulan saja.
Mungkin sudah menjadi suratan nasib saya, ketika saya hendak menyodorkan buku novelnya dan minta tanda tangannya, perempuan itu seakan-akan tidak mengenal saya, bahkan menjauh menghindari saya. Entah mengapa tiba-tiba saya merasa sangat nelangsa. Dan, sebagaimana tersabdakan dalam sajak Sapardi, malam itu saya ingin sekali menangis sambil berjalan tunduk sepanjang lorong yang gelap. Saya ingin malam itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar saya bisa berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang bertanya kenapa.
(2002/2003)
Selamat Tidur
Telepon genggam mau tidur. Capek. Seharian bermain monolog. Banyak peran. Konyol. Enggak nyambung.
Paling pusing bicara dengan bahasa siluman. Serba akronim dan singkatan. Maunya hemat waktu. Enggak hemat pikiran dan perasaan. Sok cerdas. Pemalas.
Paling seru bisa ngakak-ngakak sendirian. Ha ha ha. Atau mengumpat. Bangsat. Brengsek. Prek. Asu. Gombal. Kere. Pengkhianat. Jahanam. Rasain. Mampus. Paling berat bikin rayuan. Ayo sayang. Enggak marah kan? Aduh cakepnya. Mabuk yuk. Sip.
Paling senang sebelum tidur bisa memainkan beragam musik yang semuanya sesungguhnya hanya variasi dari suara tangis pertama seorang bayi.
Beethoven, telepon genggam mau tidur. Boleh dong pinjam telingamu yang tuli untuk menampung bunyi!
(2003)
Panggilan Pulang
Bangun tidur, ia langsung menghidupkan telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan. Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi di matanya. Masih temaram.
Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan telepon genggam? Paling-paling cuma dapat pesan ringan. Bagaimana tidurmu semalam? Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya? Tadi saya nunggu lama di kuburan.
Adzan subuh berkumandang. Penuh hujan. Ia buka telepon genggam. Tumben, ayah kirim pesan: Ibu sakit. Kangen berat. Nenek sudah tiga hari hilang. Makam kakek belum sempat dibersihkan. Sarung ayah dicuri orang. Utang stabil. Pohon nangka di samping rumah tumbang. Bisa pulang? Bisa minta ijin telepon genggam?
Pesan berakhir. Musik. Telepon genggam menyanyikan The Beatles: Mother….
(2003)
Laut
Sekali-sekali telepon genggam perlu juga diajak piknik atau jalan-jalan. Ke pantai, misalnya. Supaya makin luas pandangannya. Makin lepas jangkauannya.
Di pantai ia jatuh cinta pada laut. Ia memanggil-manggil nama laut, tapi suaranya lenyap ditelan laut.
Aku tiduran di atas pasir, sementara telepon genggam sibuk memotret awan dan air, merekam derai dan desir. “Silakan kau latihan mati,” katanya. “Aku ingin begadang, mendengarkan bisikan-bisikan laut.”
Sekarang, bila aku sakit, telepon genggam suka menggodaku dengan suara angin dan ombak. Lalu ia perlihatkan profil bulan yang malu-malu. Profil ajal yang diutus waktu. “Ingat, kau sudah latihan mati di pantai,” bisiknya. Tiba-tiba aku mendengar gemuruh laut.
(2003)
Selamat Tinggal
Ia tidurkan telepon genggamnya di kuburan,
lalu ia buang ke laut.
(2003)
E-Mail Tengah Malam
Tugas rutinnya tiap tengah malam adalah membuka dan mengirim e-mail. Ia sering heran sendiri untuk apa repot-repot mengirim e-mail hanya untuk mengucapkan selamat tidur kepada orang yang sudah tidur. Sungguh enggak lucu. Sama enggak lucunya dengan membuka sekian e-mail dari sekian orang yang makin dibaca makin menambah perasaan ngelangut saja.
Klik. Kali ini ia mendapat kiriman e-mail yang tidak biasa. Bukan kata-kata. Bukan kalimat-kalimat bego yang enggak ngerti logika dan gramatika. Tapi gambar seorang lelaki yang sedang tergesa-gesa meninggalkan kamar mandi. Lelaki itu tampak ketakutan sekali, seakan ada peri yang ingin segera mencicipi luka yang menganga di tubuhnya.
Telepon genggam menyela. Dari seberang seorang perempuan bicara: “Aku kirim gambar bagus, sudah sampai belum?” “Gambar apa?” “Gambar lelaki sedang tergopoh-gopoh mengenakan celana karena ketakutan sendirian di kamar mandi.” “Sudah. Barusan kubuka. Tapi lelaki itu sudah enggak ada. Yang ada cuma celananya, teronggok di lantai kamar mandi. Biru kan celananya?” “Benar, biru. Tapi menghilang ke mana lelaki lucu itu?” “Sudah kuhapus.” “Lho, kenapa?” “Habis dia mirip aku!” “Ha ha ha ….”
Ia sudah selesai melakukan tugas rutin tengah malam: membuka e-mail. Tapi kali ini ia tidak tertarik membalas e-mail. Ia ingin sekali kencing, tapi tidak berani ke kamar mandi. Padahal kamar mandi cuma bersebelahan dengan ruang kerjanya.
(2003)
Jam
Satu-satunya barang berharga yang masih tersisa di rumahnya adalah jam. Jam dinding peninggalan kakeknya yang sengaja ia pasang di ruang tamu supaya setiap orang yang datang bertandang bisa ikut mengagumi waktu. Tiap jam dua belas malam jam itu berdentang dua belas kali.
Ia sangat sayang kepada jamnya hingga mati-matian mempertahankannya meskipun sudah banyak orang ingin membelinya. Setiap meninggalkan rumah, ia tak pernah lupa pamitan, “Jam, aku pergi dulu ya!” Dan hanya jamnya yang ia rindukan bila ia pergi jauh dan lama ke luar kota. Teringat jam, ia teringat almarhum kakeknya yang punya hobi bongkar-pasang jam sampai matanya minus delapan.
Mewah sekali rasanya duduk santai di bawah jam di malam hujan sembari merokok dan baca koran, mendengarkan dua belas dentang jam, mengenang yang telah silam, membayangkan yang bukan-bukan sambil senyum-senyum (dan, kalau perlu, menangis) sendirian, kemudian tertidur di sandaran kursi sampai saat terdengar kumandang adzan.
Hari itu ia pulang dari kelilang-keliling di luar negeri: cari uang, cari pacar, cari gengsi, cari pengalaman, dan katanya sih cari tujuan. Ia membawa oleh-oleh banyak sekali, termasuk beberapa arloji; semuanya untuk dirinya sendiri.
Sungguh parah kangennya hingga begitu membuka pintu ia langsung berseru, “Jam, aku pulang!” Sayang, jam tidak bisa terharu. Ia malah bingung: “Sebetulnya siapa yang lebih pengembara: kamu atau aku?” Toh tiap jam dua belas malam ia tetap berdentang dua belas kali.
(2003)
Foto
Ia bangga sekali bisa memasang fotonya yang lumayan keren di dinding ruang kerjanya, persis di bawah jam. Berhubung ia sering melaksanakan tugas-tugas negara di luar kantor, foto itu dianggapnya dapat mewakili cintanya yang resmi kepada instansi yang dipimpinnya serta pegawai-pegawainya yang patuh-setia.
Tiap hari ada saja pegawai yang datang terlambat. Tanpa sungkan-sungkan pegawai langsung menuju ke ruang kerjanya dan menghormat fotonya: “Maaf bos, saya telat. Kena macet.” Pegawai yang suka ngacir lebih dulu juga tidak malu-malu minta pamit kepada fotonya: “Saya ijin membolos ya bos. Mau buang sebel di kafe.”
Setelah beberapa hari tidak menjenguk kantor, siang itu ngapain bos nongol. Pura-pura tampak berwibawa, ia meluncur ke ruang kerjanya untuk menghadap fotonya: “Selamat siang bos. Apa kabar? Lama tidak kelihatan.” Para pegawai berpandang-pandangan penuh keheranan. “Foto itu sudah gila!” seru salah seorang dari mereka.
(2003)
Anjing
Rumahku dijaga dua anjing cerdas: anjing sungguhan dan anjing-anjingan. Anjing sungguhan sungguh cerewet dan sok polisi: sepi berkelebat sedikit saja ia sudah panik lalu menyalak keras sekali. Anjing-anjingan sungguh kalem lagi pemalu: maklum, tubuhnya terbuat dari waktu, eh batu.
Entah mengapa malam lebih takut pada anjing-anjingan ketimbang pada anjing sungguhan sehingga anjing sungguhan jadi cemburu. “Aku yang sibuk menjaga rumah ini, kau yang lebih ditakuti. Dasar anjing!” kata anjing sungguhan kepada anjing-anjingan.
Aku sering terbangun dari tidurku mendengar dua ekor anjing bertengkar hebat di depan pintu. Dari suaranya aku bisa tahu bahwa anjing sungguhan makin lama makin frustrasi. Aku baru sadar bahwa anjing-anjingan bisa lebih anjing dari anjing sungguhan. Tapi kalau tidak ada anjing sungguhan, anjing-anjingan pasti akan sangat kesepian. Bisakah kalian berdamai, hai anjing-anjingku?
(2003)
Ojek
Di pertigaan jalan yang selalu ramai itu terdapat pangkalan ojek yang dikuasai oleh kira-kira dua puluh laki-laki berseragam hitam. Mereka siap mengantar siapa saja ke tempat terpencil yang tak terjangkau kendaraan umum. Untuk menunjukkan kekompakan, mereka memakai helm berwarna jingga, warna yang sangat mudah dikenali oleh pengguna jasa mereka. Bagi saya yang baru pertama kali akan naik ojek dari sana, tidak mudah membedakan mana tukang ojek yang ramah dan mana yang suka marah sebab wajah mereka sama dinginnya.
Karena sudah larut petang, kendaraan yang menuju ke tempat yang akan saya datangi sudah tidak jalan. Tidak ada cara lain, harus naik ojek. Begitu turun dari bus, saya langsung disergap oleh seorang tukang ojek bermata garang. Semula ia tampak asing dengan alamat yang saya sebutkan. Baru setelah saya bujuk-bujuk dengan ongkos yang jauh lebih tinggi, dengan senang hati ia bersedia mengantar saya. “Kita cari saja, pasti ketemu,” ujarnya.
Diam-diam saya merasa was-was mendapat tukang ojek yang sangat mencurigakan. Sepanjang perjalanan saya berdebar-debar seraya tak henti-hentinya berdoa memohon keselamatan. Apalagi jalanan gelap dan sepi, naik-turun penuh tikungan. Saya jadi teringat berita di koran tentang tukang ojek gadungan yang merampok dan kemudian menghabisi penumpangnya sendiri. Ketakutan saya makin berlipat ganda karena sepanjang perjalanan si tukang ojek diam saja, menjalankan sepeda motornya juga seenaknya, tidak mau tahu bahwa penumpang adalah raja.
“Syukur alhamdulillah, selamat juga akhirnya!” Itulah yang segera diucapkan si tukang ojek begitu sampai di tempat tujuan. Lho, seharusnya kan saya yang mengucapkan itu? Tidak saya duga, tukang ojek itu pun berdebar-debar sepanjang perjalanan karena ia teringat temannya sesama tukang ojek yang tewas mengenaskan setelah dirampok dan dianiaya oleh penumpangnya sendiri. Wah, draw kalau begitu. Tapi saya tetap merasa rugi karena diam-diam saya dicurigai sebagai pencoleng berlagak penumpang.
Indah sekali kompleks perumahan yang saya kunjungi ini. Terletak di atas sebuah bukit, dari ketinggiannya yang hening dan asri saya bisa menyaksikan gugusan cahaya warna-warni di bawah sana. “Itu kota saya,” kata saya. Kemudian saya masuk gerbang, mencari-cari rumah mungil tempat sahabat saya yang baik hati sedang beristirahat. Ia mati dengan sederhana dalam perjalanan naik ojek menuju desa kelahirannya setelah sekian lama hidup makmur dan sejahtera di kota, tapi konon gagal total dalam petualangan cinta. Tukang ojek yang mengantarnya pulang terkena serangan jantung mendadak; sepeda motornya terkejut, kehilangan keseimbangan, kemudian meluncur ke dalam jurang bersama penumpangnya.
“Tunggu sebentar ya, saya mau bicara dengan teman saya,” pinta saya kepada tukang ojek. Tanpa berpikir panjang, tukang ojek yang penakut itu cepat-cepat ngacir setelah sebelumnya berkata, “Kalau tahu mau ke kuburan, saya tidak akan sudi mengantarkan!” Wah, tukang ojek itu tidak tahu bahwa jika suatu saat nanti saya tiba di surga, hal pertama yang akan saya lakukan adalah naik ojek keliling kota, bersenang-senang menikmati tabungan.
(2003)
Koma
Menjelang dinihari pengarang itu mati. Kepalanya terkulai di atas meja, batuknya serasa masih menggema, sementara rokok yang belum habis dihisapnya masih menyala di atas asbak. Tubuhnya babak belur sehabis semalaman duel seru melawan komplotan kata: duel satu lawan satu maupun satu lawan dua, lima, sepuluh, pokoknya banyak. Di layar komputernya tertera tulisan: Kutunggu lagi kalian besok malam. Boleh satu lawan satu, boleh keroyokan.
Besoknya ia datang lagi ke gelanggang. Ia pikir malam itu ia akan berhadapan dengan komplotan kata yang lebih preman. Tak tahunya cuma ditantang sebuah tanda koma yang berani-beraninya muncul sendirian. Ah, itu sih kecil. Sekali pukul saja pasti terpental.
Wow, ia salah duga. Koma ternyata sangat perkasa. Sudah bertarung semalam suntuk, belum juga ia takluk. Malah makin mbeling saja. Bukan main cerdiknya. “Belajar silat di mana, dik? Di sekolah ya?” tanya pengarang. “Ah, tidak. Saya otodidak saja,” jawab koma.
Antara mabuk dan mengantuk, pengarang berusaha keras mengeluarkan jurus-jurus jitu untuk melumpuhkan koma. Sebab hanya yang mampu menguasai koma yang layak menyebut diri jagoan. Dan tahukah, pengarang, koma pula yang setia menungguimu saat kau mati menjelang dinihari?
Ketika pengarang terbangun dari mati, koma memberi kabar bahwa judul sedang sakit sehingga tidak bisa datang. “Dia memang tidak tahan banting. Manja!” ujarnya. “Lantas siapa yang menggantikannya?” timpal pengarang. “Sudah jelas saya, masih nanya!” kata koma.
(2003)
Mandi
Mereka tiba di kamar mandi menjelang tengah malam ketika langit terang dan bulan sedang cemerlang. Pemimpin rombongan segera angkat bicara: “Hadirin sekalian, malam ini kita berkumpul di sini untuk mengantar mandi salah seorang saudara kita. Mari kita sakiti dia agar sempurnalah mandinya.”
Korban segera diseret ke kamar mandi dan diperintahkan berdiri di depan. Wajahnya tertunduk pucat, tubuhnya gemetar, dan matanya seperti kenangan yang redup perlahan. Belum sempat pemimpin rombongan menanyakan tanggal lahir dan asal-usul korban, orang-orang yang sudah tak sabar menyaksikan sekaratnya berseru nyaring: “Mandikan dia! Mandikan dia!”
Tubuh tak bernama yang terlampau tabah menerima cambukan waktu yang gagah perkasa. Mandikanlah dia.
Mulut tanpa kata yang tak perlu lagi mengucap segala
yang tak terucapkan kata. Mandikanlah dia.
Hati paling rasa yang tak pernah usai memburu cinta
di rimba raga. Mandikanlah dia.
Mandikanlah dia hingga tak tersisa lagi luka.
Pembantaian sebentar lagi dimulai. Hadirin segera pergi setelah masing-masing menghunjamkan nyeri ke ulu hati. Korban dibiarkan terkapar di kamar mandi.
Sepi yang tinggi besar melangkah masuk sambil terbahak-bahak. Korban diperintahkan berdiri. Mandi!” bentaknya. Dengan geram diterkamnya tubuh korban dan kemudian dikuliti. Lihatlah, korban sedang mandi. Mandi dengan tubuh berdarah-darah.
Bahkan bulan tak berani bicara; dengan takut-takut ia melongok lewat genting kaca. Sepi makin beringas. Ia cengkeram tubuh kurus korban, ia serahkan lehernya kepada yang terhormat tali gantungan. Krrrkk! Sepi melenggang pergi sambil terbahak-bahak, meninggalkan korban berkelejatan sendirian. Lalu, di hening malam itu, tiba-tiba terdengar seorang bocah menjerit pilu: “Ibu, tolong lepaskan aku, Ibu!”
(2003)
Mandi Malam
Mandi malam sangat rawan. Banyak ancaman. Kalau tidak siap dan kuat, bisa-bisa pulang telanjang. Ia pun pergi mandi membawa pisau. Pisaunya tajam berkilau. Awas, kuhabisi kau kalau coba-coba mengacau!
Masuk kamar mandi, langsung berkelahi. Pisau bicara. Mati satu, mati semua. Sampai akhirnya terdengar suara menghiba: Ampun. Menyerah.
Mandi telah dilaksanakan. Sukses. Wajahnya belepotan darah. Darah siapa? Tahu gelagat, sepi cepat-cepat menjawab: Darahnya sendiri!
(2003)
Buku
Hadiah terindah yang kudapat dari buku ialah ingatan: pacar terakhir yang selalu membujukku agar tidak mudah mati dalam kehidupan, hidup dalam kematian.
Aku teringat sebuah buku yang pernah kulihat dua puluh tahun lalu. Buku kecil yang aku lupa-lupa ingat judulnya. Berkat jasa baik seorang pemulung bukulah akhirnya bisa kutemukan buku itu di sebuah kios buku loak yang letaknya ternyata tidak jauh-jauh amat dari rumahmu. Memang buku lama. Tapi apa bedanya lama dan baru jika aku belum pernah membacanya?
Ah, buku tua itu tidak sanggup lagi memamerkan keangkuhannya. Seluruh halamannya sudah kuning kecoklat-coklatan. Bagian pinggirnya sudah geriwing digerogoti waktu. Foto pengarangnya pun sudah pudar, bahkan keropos dan sebentar lagi hancur. Malang benar nasibmu, pengarang. Fotomu yang jelek kautampangkan dengan penuh kebanggaan hanya untuk merana dan mungkin tak pernah digubris orang. Dan ngomong-ngomong, sudah mendapat bayaran atau belum, wahai pengarang budiman?
Buku itu isinya sederhana saja: berkhotbah tentang bagaimana sebaiknya membaca buku.
1. Jangan sok pintar dan sok tahu. Jangan belum-belum sudah bilang: ah, kalau cuma begini aku juga mampu.
2. Jangan cepat merasa bodoh kalau tidak juga paham apa maunya buku. Apa yang tak kaupahami suatu saat toh akan membukakan diri.
3. Jangan terlalu lugu. Tahu kan batas antara lugu dan dungu sering tidak jelas-jelas amat? Kau bisa saja mengganti kata-kata dalam buku dengan kata-katamu.
4. Jangan sok filsuf: membaca buku sambil mengernyitkan dahi dan mengerutkan mata, apalagi pakai ketok-ketok jidat segala. Santai saja, supaya tidak penat. Kalau penat, kata-kata yang kaubaca tidak akan bebas menari-nari dalam otakmu.
Alkisah, setelah sekian lama berpacaran dengan buku-buku, temanku seorang macan buku akhirnya menikah juga dengan pacarnya yang sungguhan, yang sama-sama pencandu buku. Karena tak biasa kasih kado, aku berikan saja buku tua itu sebagai kado pernikahannya.
Ngakunya bulan madu, baru sehari ia sudah meneleponku. Kukira mau mengucapkan terima kasih, tak tahunya cuma mau memaki-maki.
“Brengsek kau! Gara-gara buku rombeng pemberian kau, program malam pertamaku jadi kacau-balau.”
“Maksud kau?”
“Ya aku jadi lebih sibuk membaca buku daripada membaca istriku.”
“Terus?”
“Ia rebut buku itu, lalu ia tamparkan ke jidatku.”
“O, bagus itu. Seperti awal-awal orang belajar mencintai buku kan?”
“Bagus matamu! Tahu nggak, gara-gara buku sialan itu istriku belum-belum sudah ngomongin cerai segala?”
“Ah, kau juga bego sih. Sudah sekian tahun jadi pembaca buku, belum juga tahu cara belajar membaca istrimu.”
“Ala, sok tahu lu. Kawin aja belum.”
“Belum atau sudah kawin kan aku sendiri yang lebih tahu. Lugu amat lu!”
Malang dapat ditolak, untung dapat diraih. Sekian tahun kemudian secara kebetulan aku bertemu pasangan pencinta buku itu di sebuah pesta buku. Mereka tampak bahagia (setidak-tidaknya di depanku).
“Kok sendirian?” sapa istri temanku.
“Dia bujang lapuk!” bisik temanku ke telinga istrinya, dan sialnya, istrinya mengangguk-angguk saja.
“Terima kasih ya untuk bukunya dulu itu,” ujar istri temanku. “Salam untuk istri tercinta.”
Istri? Tercinta? Aku terbengong lama.
“Wah, bego juga lu,” tukas temanku. “Ya buku-bukumu itu istrimu!”
Aku pilih melengos pergi sambil berkata dalam hati: ah, tampaknya mereka sudah pintar membaca buku.
(2003)
Selamat Ulang Tahun, Buku
Selamat ulang tahun, buku. Makin lama kau makin kaya saja. Tambah cerdas pula. Aku saja yang tambah parah dan sekarang mulai pelupa.
Maaf, aku tidak bisa kasih hadiah apa-apa selain sejumlah ralat dan catatan kaki yang aku tak tahu akan kutaruh atau kusisipkan di mana. Sebab kau sudah pintar membaca dan meralat dirimu sendiri.
Kau bahkan sudah tidak seperti dulu ketika aku berdarah-darah menuliskanmu. Dan aku agak curiga jangan-jangan kau (pura-pura) pangling dengan saya.
Selamat ulang tahun, buku. Anggap saja aku kekasih atau pacar naasmu. Panjang umur, cetak-ulang selalu!
(2003)
Kanibal yang Malang
Sudah tujuh hari tujuh malam kami menjaga makam almarhum, namun apa yang kami takuti tidak juga terjadi. Semasa hidupnya almarhum dikenal sebagai tokoh terhormat dan menjelang wafat sempat menyatakan ingin bertobat karena katanya beliau sebenarnya juga penjahat yang diam-diam suka menyantap nasib orang-orang yang hampir tidak pernah merasakan hidup lezat.
Kami ditugaskan untuk menjamin keamanan dan kehormatan jasad almarhum karena di daerah kami sedang gentayangan seorang kanibal yang suka mencuri mayat orang yang baru dikuburkan dan favoritnya adalah mayat tokoh terhormat semisal juragan atau pejabat. Kanibal kita tinggal bersama ibunya di sebuah rumah yang tidak bisa dibilang rumah, sedangkan ayah dan saudara-saudaranya pergi mencari makan entah di mana. Jangankan makan sekolahan, bisa makan makanan pun bagi kanibal kita sudah merupakan kemewahan. Ibunya hanya bisa nelangsa bila anak lelakinya itu bertanya, “Mengapa kita harus lapar, Bu?” atau “Hari ini ada yang bisa dimakan nggak, Bu?” Dan bila pertanyaannya meningkat menjadi “Siapa yang bisa dimakan ya, Bu?”, ibunya langsung merinding karena ia tahu apa yang sedang berkelebat dalam pikirannya.
Sampai sejauh ini sudah ada tujuh mayat orang terhormat yang menjadi korban keganasannya dan mayat almarhum yang sedang kami jaga konon termasuk yang paling diincarnya. Mayat-mayat itu disayat-sayat dan dipotong-potongnya, dibikin tongseng atau sate, atau kalau sudah tidak kuat menahan lapar ya diganyang begitu saja. Tulang-tulangnya dipendam di kebun atau dibuang ke sumur; khusus tulang yang bagus ia sisakan untuk dijadikan mainan atau hiasan, misalnya pedang-pedangan. Sedangkan tengkoraknya ia pakai untuk menakut-nakuti dirinya sendiri.
Berita terakhir yang kami terima sungguh di luar dugaan. Kanibal kampung yang telah membuat penduduk tidak berani keluar malam itu ternyata sudah tewas dimangsa kanibal lain yang lebih buas. Sisa-sisa tubuhnya ditemukan di sebuah kamar hotel. Kepalanya krowak, kedua matanya lenyap, demikian pula jantung, hati, bahkan kemaluannya. Kaki dan tangannya tersisa sebagian. Diantar beberapa petugas, ibu kanibal yang malang datang mengambil sisa-sisa tubuh anaknya itu.
Menurut kabar-kabur yang cepat tersiar, kanibal kita dimangsa oleh kanibal kesayangan almarhun yang mengganggap almarhum sebagai pelindung yang baik hati karena semasa hidupnya banyak memberikan rejeki. Dari pada mayat almarhum dimakan kanibal, lebih baik kanibal itu disantap lebih dulu. Hebat benar almarhum ini. Sudah mati pun masih bisa bikin orang mati.
(2003)
Mata
Ada tiga mata bertemu di kafe itu:
matasenja, matakata dan matangantuk.
Matasenja lekas terpejam karena hujan bilang
pertemuan ini memang jatahnya malam.
Matakata minus delapan karena katakata
waduh mabuk berat dihajar kenangan.
Matangantuk merah merindu melihat botol bir
makin penuh dengan airmatamu.
(2003)
Selamat Malam, Kanibal
Kita datang ke perjamuan seperti pernah kita janjikan.
Kau sangat lapar, aku ingin kenyang.
Selamat makan. Hujan sangat kanibal: ia habiskan
derau hujan sebelum sempat kita cicipi harum hujan.
Ayo minum. Matamu sangat kanibal: mereguk mataku
sepenuh ambigu sebelum mataku meneguk matamu.
Apa lagi yang akan kausantap, hai kanibal, bila senja
yang belum matang juga lenyap dilahap malam?
Oh ya, masih ada anggur darah. Kita muntah-muntah.
Kau muntah rindu, aku muntah waktu.
Kita pulang membawa sesal. Selamat malam, kanibal!
Kau melenggang ke kiri, aku menghilang ke kanan.
Kita berpisah sebelum sempat saling menghabiskan.
(2003)
Kecantikan Belum Selesai
Sudah selesai. Sudah kucoba semua warna.
Sekarang bersiaplah kau di ruang ganti busana.
Belum. Belum selesai. Beri aku sentuhan terakhir
pada rambut, mata dan bibir agar melihatku
adalah melihat kecantikan yang belum selesai.
Perlukah, manis, kuoleskan darah pada bibirmu
yang skeptis agar semua yang mendamba kau
sangsai: apakah kecantikan sudah/belum selesai?
Ditemani dua orang perias wajah, penyanyi itu
tercenung lama di depan kaca, memandang senja
di ufuk mata: melihat elang mengitari mambang.
Ia berjalan pelan ke arah panggung.
Petugas kecantikan segera mengatur tubuhnya
sebagaimana mereka mengatur ruang dan cahaya.
Konser dimulai. Hadirin bersorak-sorai.
Selamat malam. Dua jam bersama kecantikan.
Menjelang lagu terakhir penyanyi itu terkulai.
Ambruk sebelum usai. Sudah selesai, ia menangis.
Belum! mereka histeris. Kecantikan belum selesai!
(2003)
Lebih Dekat dengan Engkau
Tidak mudah mendapatkan waktu yang baik untuk menjumpai engkau. Pagi engkau masih tidur. Malam engkau sibuk menyendiri dan melukis. Secara kebetulan saja aku bisa bertemu engkau.
Ketika aku tiba di rumahmu, engkau sedang mandi. Engkau penggemar mandi tampaknya. Mandimu lama dan riang sekali. Kudengar engkau bersenandung. Senandungmu menjangkau relung yang telah lampau.
Aku terdiam di ruang tamu. Termangu. Melihat-lihat kau dalam pigura: sedang duduk berdua dengan senja di halaman rumah yang rindang, wajahmu gemilang oleh kemilau mambang.
Lama ditunggu, mandimu selesai juga akhirnya. Kau melongok ke ruang tamu. “Selamat siang! Maaf ya, tadi terlambat bangun. Semalam melukis sampai pagi.” Lalu kau minta ijin untuk mengeringkan rambut yang habis dicuci. Lalu kau muncul bersama hitam: hitam bajumu, hitam celanamu, hitam rambutmu, hitam kopimu.
“Ayo minum. Mumpung masih hitam,” kata kau, lalu kaupersilakan aku bicara. “Tapi jangan lama-lama. Sebentar lagi aku harus melukis. Selagi masih bisa berdamai dengan warna.”
***
Engkau biasa bangun siang?
Ya, itu hobi. Lebih tepatnya pilihan. Entah mengapa aku tidak suka melihat terbitnya matahari.
Engkau penggemar mandi?
Mandi adalah senang-senang. Bagi orang lain mandi mungkin tugas atau pekerjaan. Atau kontemplasi. Atau melankoli. Untukku mandi adalah pembebasan.
Maaf, tampaknya engkau suka berlama-lama mandi.
Tergantung suasana hati. Kalau hati senang, mandi juga senang. Dan lama. Kalau hati sedih, mandi adalah penghiburan. Dan bisa lebih lama.
Apakah kau suka mandi sambil menyanyi dan menari?
Ya itu tadi, tergantung suasana hati.
Bisa diperagakan?
Ah, kau norak sekali!
Adakah hubungan perilaku mandi dengan masa kecil seseorang? Aku pernah membaca buku psikologi mandi. Konon mandi bisa merupakan pelampiasan perasaan-perasaan terpendam yang erat kaitannya dengan memori dan pengalaman masa silam.
Bohong! Mandi ya mandi. Titik.
Engkau tidak sedang menyembunyikan diri, bukan?
Ah, seperti psikolog saja.
Memang pernah bercita-cita jadi psikolog, tapi entah mengapa tersesat jadi wartawan.
Wah, kalau begitu rugi dong bicara dengan orang tersesat.
Aku memang tersesat dalam kepedihan matamu.
Gombal!
***
Hari makin beranjak siang. Rumahmu terasa lengang. Makin lengang, makin luas dan ngiang oleh alunan Mozart yang timbul-tenggelam. Engkau minta ijin untuk rehat dulu. Engkau masuk kamar. Kau bilang mau masuk kanvas sebentar. Mau mengaduk warna. Membetulkan garis-garis senja.
Dengan wajah berbinar-binar engkau muncul kembali bersama hitam: hitam bajumu, hitam celanamu, hitam rambutmu, hitam lengkung langit matamu.
***
Engkau tidak takut sekian lama tinggal sendirian? Engkau tidak pernah kesepian?
Oh tidak. Mungkin malah sepi yang takut dengan kesendirianku.
Bisa engkau jelaskan?
Kesendirian bisa sangat berbahaya jika ia tegar dan kuat. Sepi akan limbung, lalu merasa kehilangan alasan kehadirannya karena tidak mendapatkan antagonisnya.
Wah, agak berbau filsafat juga.
Harus! Supaya kau bingung. Supaya aku menang.
(Engkau tertawa ngakak dan aku senang.)
Sejak tadi aku mendengar cericit tikus di rumah ini. Engkau suka memelihara tikus?
Tikus-tikus itu dipelihara sepi untuk melawan kesendirianku. Tapi cericit tikus justru membelaku.
Engkau tinggal di rumah ini dalam rangka menyendiri atau melarikan diri?
Apa bedanya?
Menyendiri itu menyepi atas kemauan sendiri. Melarikan diri itu minggat atas paksaan sendiri.
Enggak lucu! Keduanya salah. Aku cuma ingin berdamai dengan diri sendiri. Aku benci bunuh diri.
Aku dengar rumah ini ditunggui laki-laki tanpa celana yang suka muncul malam-malam dengan darah mengucur dari kelaminnya. Kapan aku bisa bertemu dengannya?
Stop! Engkau jahat. Engkau mulai memasukiku.
Maaf. Satu lagi. Besok engkau ulang tahun. Keberapa?
Enam puluh.
Oke. Selamat ulang tahun ke-60. Dirgahayu!
***
(Wawancara imajiner selesai. Pelukis itu termenung di depan kanvas. Berpikir keras bagaimana caranya menempatkan sosok hitam perempuan itu di tengah lanskap senja tanpa mengganggu panorama warna.)
(2003)
Lupa
Pekerjaan yang paling mudah dilakukan adalah lupa. Tidak butuh kecerdasan. Tidak perlu pendidikan. Hanya perlu sedikit berpikir. Itulah sebabnya, banyak orang tidak suka kalender, jam, dan tulisan. Menghambat lupa. Padahal lupa itu enak. Membebaskan. Sementara.
***
Musuh utama lupa ialah kapan. Teman terbaik lupa ialah kapan-kapan. Kapan dan kapan-kapan ternyata sering kompak juga.
***
Ia sudah selesai berdandan. Keren sekali. Pakai jas baru. Dasi warna-warni. Sepatu mengkilat. Minyak rambut. Deodoran. Parfum. Wangi.
Sampai di depan pintu tiba-tiba lupa. Sebenarnya mau pergi ke mana? Berpikir sebentar. Memejamkan mata. Oh iya. Tadi itu rencananya kan mau ke kamar mandi!
Apa salahnya ke kamar mandi pakai jas, sepatu, dan segala pernik-perniknya? Anggap saja simulasi. Untuk? Memasuki rumah sakit jiwa.
***
Mandi lupa membawa handuk atau celana untuk ganti itu biasa. Mandi lupa telanjang mungkin saja terjadi. Tapi mandi lupa membawa topeng? Bisa berabe. Untuk apa topeng diajak mandi? Untuk menakut-nakuti sepi. Untuk menemani wajah sendiri.
***
Aku sedang melamun di ruang tamu. Memperhatikan daun-daun dipetik hujan, disebarkan ke halaman. Hampir petang. Kring kring. Ada becak datang.
Becak diparkir di depan pintu. Bang becak nyelonong masuk ke ruang tamu. Duduk santai. Merokok. Hap! Aku tergagap. Siapa dia? Aku merasa tidak pesan becak.
“Lupa ya?” Ia senyum-senyum. Aku bingung. Terpana. “Lupa ya?” Ia bertanya lagi. Tersenyum lagi. Tiba-tiba aku ingat bahwa aku memang pernah bertemu orang yang mirip dia di rumah sakit, tapi bukan dia.
“Anda lupa ya bahwa Anda belum pernah bertemu saya? Mengapa harus mengingat-ingat?”
“Ikut saya yuk! Gratis.” Ia mengajakku ke kota dengan becaknya. Aku menolak. Kapan-kapan saja.
Ketika aku sibuk mengamati daun-daun dipetik hujan, ia ngeloyor begitu saja dengan becaknya tanpa sempat kuperhatikan arahnya.
Aku kini merasa lega setiap kali melihat becak melintas di jalan atau diparkir di halaman karena suatu saat nanti, jika aku hendak pergi ke kota, akan ada bang becak yang menjemput dan mengantarku. Lumayan. Nyaman. Sederhana. Tidak tergesa-gesa.
***
Adakah yang benar-benar habis digerogoti lupa? Lupa: matawaktu yang tidur sementara.
(2003)
Sudah Saatnya
Sudah saatnya jam yang rusak diperbaiki. Kita pergi ke bengkel jam dan kepada pak tua penggemar jam kita meminta, “Tolong ya betulkan jam pikun ini. Jarumnya sering maju-mundur, bunyinya sering ngawur”. Semoga tukang bikin betul jam tahu bahwa ia sedang berurusan dengan penggemar waktu.
***
Sudah saatnya kita periksa mata. Kepada dokter mata kita bertanya, “Ada apa ya dengan mata saya, kok sering terbalik: tidak melihat yang kelihatan, malah melihat yang tak kelihatan?” Mudah-mudahan dokter mata paham: ya memang begitulah jika mata kita pejamkan.
***
Sudah saatnya celana yang koyak direparasi, pantat yang congkak didisiplinkan lagi. Kita temui ahli filsafat celana, kita tanyakan, “Mengapa celana dan pantat sering tidak dapat bekerja sama; ada kalanya celana bikin eksis pantat, ada kalanya pantat benci celana?” Dapat diduga bahwa jawabannya tidak terduga, misalnya: “Kita perlu menciptakan situasi nircelana.”
***
Sudah saatnya jiwa yang janggal diselidiki. Kita konsultasi ke pakar psikologi: “Saya bingung. Saya sering mengalami situasi di mana saya tidak tahu pasti apakah sedang berada di masa lalu, masa depan atau masa kini. Tapi saya masih waras. Sungguh. Awas kalau berani menganggap saya gila.” Jika ia memang ahli, seharusnya ia mengerti: ya begitulah jika tubuh kena teluh puisi.”
***
Sudah saatnya kata-kata yang mandul kita hamili; yang pesolek ngapain dicolek, toh lama-lama kehabisan molek. Sudah saatnya kata-kata yang lapuk diberi birahi. Supaya sepi bertunas kembali, supaya tumbuh dan berbuah lagi.
(2003)
Pelajaran Puisi
Ia sering bingung: apa yang harus ia lakukan untuk murid-muridnya saat ia memberikan pelajaran puisi. Susah-susah amat. Ia bentangkan saja puisi di papan tulis atau di dinding kelas.
“Puisi itu hutan rimba,” ia memulai pelajaran. “Kalian mau jadi anak rimba?” Meskipun sebagian besar muridnya anak-anak kota, mereka ternyata mau mencoba menjadi anak-anak rimba. “Kota juga rimba,” cetus pak guru yang pandang matanya seluas rimba.
Setelah menunjukkan beberapa celah untuk masuk rimba, ditambah sedikit penjelasan tentang peta rimba, ia meminta murid-muridnya segera menjelajahi rimba. Semula ada yang takut-takut, namun setelah dilecut-lecut akhirnya berani juga. Ada pula yang belum-belum sudah bergidik: “Kalau ada ular, bagaimana?” Pak guru merasa geli: “Jangankan di hutan, di kamar mandi pun kadang ada ular.”
Ribut sekali. Mereka berhamburan ke dalam rimba sambil bersorak-sorak: “Rusa jantan berlari masuk hutan….” Kemudian ada yang menimpal: “Curang! Memangnya hanya rusa jantan yang bisa berlari masuk hutan? Rusa betina juga bisa. Ayo balapan!”
Guru puisi itu tampak tenang-tenang saja, tapi waspada. Ia sudah sangat sering masuk hutan dan tahu rahasia rimba. Ia sibuk berjaga-jaga, siap memberikan pertolongan darurat bila, misalnya, ada muridnya yang linglung atau tersesat.
Tiba-tiba suasana berangsur senyap. Tak terdengar lagi derai tawa dan suara bernyanyi bersahutan. Ia mulai panik. Jangan-jangan mereka benar-benar tersesat. Jangan-jangan ditelan gelap. Jangan-jangan ada yang masuk jurang. Jangan-jangan ada yang digigit ular. Ia ingin sekali mencari dan menemukan mereka, tapi sama sekali tak ada sinyal suara. Malah ia sendiri tiba-tiba takut tersesat. Takut pada yang tak terlihat.
Ia masih tercenung gundah ketika murid-muridnya satu persatu muncul dari dalam rimba. Ada yang pakaiannya kusut dan kotor. Ada yang wajahnya belepotan tanah. Ada yang lecet-lecet, bahkan luka-luka. Ada yang pantat celananya jebol. Ada yang kehilangan tas dan kamera. Ada yang pura-pura kesurupan dan sakit jiwa.
Setelah semuanya berkumpul kembali, dengan nada murung ia berkata: “Maafkan saya ya, tadi cuma menunjukkan jalan masuk rimba, tapi tidak memberi tahu jalan keluar rimba. Aku ingin menjemput kalian sebenarnya, tapi khawatir kalian merasa dikira anak manja.” Seorang murid yang rambutnya jadi mirip rimba menukas: “Jangan terlalu sensi(tif) dong Pak. Kami baik-baik saja. Lihat nih, kami masih utuh.”
Tiba-tiba matanya berbinar-binar kembali. Lalu ia agak kewalahan mendengarkan celoteh murid-muridnya. Tadi saya hampir terperosok ke jurang lho Pak. Saya berpapasan dengan ular. Saya malah sempat mandi di pancuran. Saya ketemu pelangi di sungai. Tadi ada monyet naksir saya lho Pak. Saya terjatuh tanpa sebab. Saya terguling di tebing. Saya anak rimba!
Bel berbunyi. Bubar. Pelajaran puisi (untuk sementara) selesai. “Terima kasih ya Pak.” “Lho, jangan berterima kasih kepada saya. Berterima kasihlah kepada puisi.” Ia baru sadar bahwa tadi ia tidak sempat sarapan sehingga perutnya kembung. Agak terburu-buru ia meninggalkan ruang kelas. Langkahnya kelihatan goyah. Tubuhnya kelihatan ringkih. Tapi ia adalah raja rimba. Ia kepalkan dan acungkan tangannya: “Hidup puisi!”
Gerimis berderai membasuh rambutnya yang keperak-perakan. Gerimis siang. Seperti ribuan diksi dan imaji berhamburan dari pohon hayat yang rimbun dan tinggi. Seperti ribuan morfem dan fonem bertaburan dari pohon waktu yang tak pernah mati. Dan ia berjalan tergesa dengan perut lapar dan kembung. Nun di belakang sana murid-muridnya berdiri dan bernyanyi: “Rusa jantan berlari masuk kantin ….”
(2003)
Justru
Salahnya sendiri, suka usil bermain kata, merakitnya menjadi boneka yang seringainya justru membuat ia takut setengah mati, kemudian bersembunyi di kamar mandi, padahal di kamar mandi ada dedengkot boneka yang lebih rumit seringainya, yaitu tubuhnya sendiri.
(2003)
Masa Kecil
Masa kecil seperti penjaga malam yang setia. Ia yang membuka dan menutup pintu setiap kau masuk dan keluar kamar mandi. Sementara kau sibuk mandi, ia duduk manis di sudut sepi, membaca cerita bergambar sambil ketawa-ketawa sendiri. Jangan suka lihat orang mandi, nanti sakit mata! Ia langsung menutup wajahnya dengan buku, seakan geli atau malu melihat tokoh komiknya yang (tidak) lucu.
(2003)
Selesai Sudah Tugasku Menulis Puisi
sebab kata-kata sudah besar, sudah selesai studi,
dan mereka harus pergi cari kerja sendiri.
(2003)
Pak, puisi-puisi yang ada di halaman ini betul² mencerahkan saya yang lagi suntuk di hajar puisi …ada saran?