Sajak-sajak 2002-a

Bunga Kuburan

Gadis kecil itu suka sekali memetik mawar putih dari kuburan,
kemudian menanamnya di ranjang.
“Bunga ini, Bu, akan kuncup dalam tidurkuku.”

Ibunya sangat sedih setiap melihat bunga itu mekar di ranjang
dan harumnya memenuhi ruangan.
“Trauma, anakku, menjulurkan wajahnya lewat bunga indah itu.”
Ia lalu mencabutnya dan membuangnya ke halaman.

Gadis kecil itu menangis tersedu-sedu; ia sangat mencintai
bunga itu sebab, “Bunga ini secantik Ibu.”
Ia tidak tahu bahwa ibunya sangat membenci kuburan itu.

Kuburan itu terletak agak jauh di luar desa, disediakan khusus
untuk mengubur mayat para pencoleng, pembunuh, pemerkosa,
dan macam-macam penjahat lainnya.

Dulu pernah datang seorang petualang, menyatakan cintanya,
kemudian diam-diam memperkosanya.
Suatu hari petualang itu datang lagi, diringkus dan dikalahkannya.

Gadis kecil itu suka sekali memetik mawar putih dari kuburan
dan ibunya tidak sampai hati mengatakan:
“Buah hatiku, sesungguhnya engkau anak si pemerkosa itu.”

(2002)

 

Di Sebuah Vagina

Di sebuah vagina peziarah-peziarah kecil terbaring damai,
belajar mendengarkan arus sungai, kecipak ombak di pantai.

Vaginamu menyembulkan matahari, menjulurkan bianglala.
Vaginamu menyemburkan debur laut, menghamburkan senja.

Di sebuah vagina musafir-musafir kecil bersorak gembira,
menggiring matahari ke cakrawala: “Selamat tidur ya cahaya.”

Vaginamu kini sunyi dan gelap gulita, vaginamu porak poranda
sejak para serdadu memasuki relung-relungnya.

Di sebuah vagina peziarah-peziarah kecil terbujur hancur
sebelum sempat kauberi nama.

(2002)

 

Tempat yang Jauh dan Indah

Sekian lama aku mencari, sekian tempat kujelajahi, belum juga
kutemukan saudaraku yang hilang dan entah di mana kini.

Tiba-tiba seseorang berkabar dalam mimpi:
“Ada sebuah tempat di sebuah lembah yang jauh dan indah,
namanya vagina. Barangkali saudaramu bermukim di sana.”

Bertahun-tahun berkelana, akhirnya kutemukan juga
tempat rahasia itu yang ternyata sebuah gua.
“Siapa di dalam?” aku menyeru.
Samar-samar kudengar suara menggema: “Silakan masuk!”

Aku pun masuk, menyusuri jalan setapak yang gelap berliku.
Nun di sebuah ceruk ada seorang pertapa sedang duduk bersila
membaca kitab di remang cahaya.
“Hai, ketemu lagi!” ia menyapa. Lalu ia tunjukkan lorong kecil
di balik sana. “Ini jalan menuju ibu,” katanya.

Ketika suatu hari, di rembang petang, aku datang lagi,
tempat itu sudah menjadi sebuah kuburan.
Kulihat seorang tua berambut putih sedang duduk di sana,
di bawah pohon cemara yang rindang daunnya.

(2002)

 

Perias Jenazah

Untuk terakhir kali perempuan cantik itu akan merias jenazah.
Setelah itu selesailah. Ia sangat lelah setelah sekian lama
mengurusi keberangkatan para arwah .

Kini ia harus merias jenazah seorang perempuan
yang ditemukan tewas di bawah jembatan, tidak jelas
asal-usulnya, serba gelap identitasnya, tidak ada yang sudi
mengurusnya, dan untuk gampangnya orang menyebutnya
gelandangan atau pelacur jalanan, toh petugas ketidakamanan
bilang ah paling ia mati dikerjain preman-preman.

Perias jenazah itu tertawa nyaring begitu melihat jenazah
yang akan diriasnya sangat mirip dengan dirinya.
Kemudian ia menangis tersedu-sedu sambil dipeluknya
jenazah perempuan malang itu.
“Biar kurias parasmu dengan air mataku hingga sempurna ajalmu.”

Beberapa hari kemudian perias jenazah itu meninggal dunia
dan tak ada yang meriasnya.
Jenazahnya tampak lembut dan cantik, dan arwah-arwah
yang pernah didandaninya pasti akan sangat menyayanginya.

Kadang perias jenazah itu diam-diam memasuki tidurku
dan merenungi wajahku. Seakan ia tahu bahwa aku
yatim piatu, tidak jelas asal-usulnya, serba gelap identitasnya.
Kulihat wajah cantiknya berkelebatan di atas ranjang kata-kataku.

(2002)

 

Jurang

Berputar-putar di rimba ranjang, mencari jalan setapak
menuju tubuhmu yang terjal dan curam, sementara hari
mulai gelap dan hujan sebentar lagi datang, awas ada
penjahat siap menghadang, akhirnya aku tersesat
dan terperosok ke dalam jurang.

Tubuhmu terlindung jauh di luar ranjang.

(2002)

 

Doa Mempelai

Malam ini aku akan berangkat mengarungimu.
Perjalanan mungkin akan panjang berliku
dan nasib baik tidak selalu menghampiriku
tapi insyaallah suatu saat
bisa kutemukan sebuah kiblat
di ufuk barat tubuhmu.

(2002; kado buat Ade & Fajar)

 

Gadis Enam Puluh Tahun

Gadis enam puluh tahun berdiri di ambang jendela,
berbincang-bincang dengan senja.
Senja menggerayangi wajahnya, dan ia merasa
sorot senja sangat menyilaukan matanya.
“Ngapain ngeliatin gue melulu? Ntar gue colong mata lu!”
Senja meredup, kemudian angslup ke pelupuknya.

Demikianlah, setiap berangkat bermain layang-layang
di kuburan, aku melihat gadis buta itu sedang berdiri
di ambang jendela, berpacaran dengan senja,
dan sorot senja memancar dari kelopak matanya.

(2002)

 

Penjaga Malam

Penjaga malam itu masih setia menjaga rumah besar
yang tak pernah dihuni pemiliknya.
Ia sangat mencintai rumah kosong itu,
bahkan merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Suatu malam ia berhasil menangkap seorang penjahat
yang berusaha masuk ke rumah itu tanpa seizinnya.
Ia tidak rela rumah itu diganggu karena, ya itu tadi,
ia merasa sudah menyatu dengan kesunyiannya.

Keesokan harinya penjaga malam itu tak kelihatan lagi
batang hidungnya. Ia sudah ditangkap polisi
karena telah menghajar pemilik rumah yang dijaganya.

(2002)

 

Aku Tidur Berselimutkan Uang

Aku tidur berselimutkan uang.
Ketika bangun, tahu-tahu tubuhku sudah telanjang.

(2002)

 

Penumpang Terakhir

untuk Joni Ariadinata

Setiap pulang kampung, aku selalu menemui bang becak
yang mangkal di bawah pohon beringin itu dan memintanya
mengantarku ke tempat-tempat yang aku suka.
Entah mengapa aku sangat suka tamasya dengan becaknya.
Mungkin karena genjotannya enak, lancar pula lajunya.

Malam itu aku minta diantar ke sebuah kuburan.
Aku akan menabur kembang di atas makam nenek moyang.
Kuburan itu cukup jauh jaraknya dan aku khawatir bang becak
akan kecapaian, tapi orang tua itu bilang tenang tenang.

Sepanjang perjalanan bang becak tak henti-hentinya bercerita
tentang anak-anaknya yang pergi merantau ke Jakarta
dan mereka sekarang alhamdulillah sudah jadi orang.
Mereka sangat sibuk dicari uang dan hanya sesekali pulang.
Kalaupun pulang, belum tentu mereka sempat tidur di rumah
karena repot mencari ini itu, termasuk mencari utang
buat ongkos pulang ke perantauan.

Baru separuh jalan, nafas bang becak sudah ngos-ngosan,
batuknya mengamuk, pandang matanya berkunang-kunang,
aduh kasihan. “Biar gantian saya yang menggenjot, Pak.
Bapak duduk manis saja, pura-pura jadi penumpang.”

Mati-matian aku mengayuh becak tua itu menuju kuburan,
sementara si abang becak tertidur nyaman, bahkan mungkin
bermimpi, di dalam becaknya sendiri.

Sampai di kuburan aku berseru bangun dong pak,
tapi tuan penumpang diam saja, malah makin pulas tidurnya.
Aku tak tahu apakah bunga yang kubawa akan kutaburkan
di atas makam nenek moyangku atau di atas jenazah
bang becak yang kesepian itu.

(2002)

 

Lukisan Berwarna

untuk Andreas dan Dorothea

Hujan beratus warna
tumpah di hamparan kanvas senja.

Pohon-pohon bersorak gembira
sebab dari ranting-rantingnya yang sakit
kuncup jua daun-daun beratus warna.

Burung-burung bernyanyi riang,
terbang riuh dari dahan ke dahan
dengan sayap beratus warna.

Dua malaikat kecil menganyam cahaya,
membentangkan bianglala
di bawah langit beratus warna.

Airmata beratus warna kautumpahkan
ke celah-celah sunyi
yang belum sempat tersentuh warna.

(2002)

 

Bayi Mungil di Kamar Mandi

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.
Lengking suaranya menyusup jauh ke relung tidurku.

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.
Lengking suaranya menggetarkan lidah kata-kataku.

Bayi mungil menjerit-jerit di kamar mandi.
Lengking suaranya kupinjam untuk mengucapkan lagi aku.

(2002)

 

Mampir

Tadi aku mampir ke tubuhmu
tapi tubuhmu sedang sepi
dan aku tidak berani mengetuk pintunya.
Jendela di luka lambungmu masih terbuka
dan aku tidak berani melongoknya.

(2002)

 

Penyair Kecil

untuk Nur

Penyair kecil itu sangat sibuk merangkai-rangkai kata
dan dengan berbagai cara menyusunnya menjadi
sebuah rumah yang akan dipersembahkan kepada ibunya.
“Kita belum punya rumah kan, Bu. Nah, Ibu tidur saja
di dalam rumah buatanku. Aku akan berjaga di teras
semalaman dan semuanya akan aman-aman saja.”

Ketika kau bangun di subuh yang hening itu, kau tertawa
melihat penyair-kecilmu tertidur kedinginan
di teras rumahnya, ditunggui Donald dan Bobo,
pengawal-pengawalnya yang setia.

(2002)

 

Penjual Celana

Konon ia seorang veteran, bekas pejuang kemerdekaan,
sehari-hari bergiat sebagai pedagang celana di sebuah pasar
di dekat kuburan di pinggiran kota.
Orang-orang sangat suka membeli celana bikinannya
karena terjamin kwalitetnya, sangat enak dipakainya,
terkenal sejak 1945.

Mentang-mentang pakai celana serdadu, penjual celana itu
tiba-tiba menjadi sombong dan pura-pura lupa sama aku.
“Anda dari kampung ya?” ejeknya ketika aku sibuk
mencoba-coba berbagai celana dan tidak juga membelinya.

“Semua celana itu palsu. Yang asli cuma ini,” katanya
sembari menunjuk-nunjuk celananya sendiri.
Ia tertawa hebat ketika aku berniat membeli celana antik
yang dipakainya, berapa pun harganya.
Ia bertahan: “Jangan. Ini celana perjuangan.”

Ketika sekian tahun kemudian kami bertemu lagi
di sebuah rumah sakit jiwa di dekat kuburan di pinggiran kota,
bekas serdadu itu mengaku bahwa celana loreng
yang dibanggakannya itu sebenarnya palsu dan ia menyesal
mengapa dulu tidak menjualnya ke aku.
Celana itu sudah dibeli seorang kolektor kaya
yang gemar mengumpulkan berbagai macam benda pusaka.

(2002)

 

Bolong

Bahkan celana memilih nasibnya sendiri:
ia pergi ke pasar loak justru ketika aku sedang giat
belajar bugil dan mandi.
“Selamat tinggal pantat. Selamat tinggal jagoan kecil
yang tampak pemalu tapi hebat.”

Entah berapa pantat telah ia tumpangi,
berapa kenangan telah ia singgahi,
sampai suatu hari aku menemukannya kembali
di sebuah kota, di sebuah kuburan.
“Pulang dan pakailah celana kesayanganmu ini,”
kata perempuan tua penjaga makam.

Sampai di rumah, kupakai kembali si celana hilang itu
dan aku terheran: “Kok celanaku makin kedodoran!”
Aku termenung melihat seorang bocah
di dalam cermin sedang sibuk mencoba celana
yang sudah bolong di bagian tengahnya.

(2002)

 

Tanpa Celana
Aku Datang Menjemputmu

untuk Wibi

Empat puluh tahun yang lampau kutinggalkan kau
di kamar mandi, dan aku pun pergi merantau
di saat kau masih hijau.
Kau menangis: “Pergilah kau, kembalilah kau!”

Kini, tanpa celana, aku datang menjemputmu
di kamar mandi yang bertahun-tahun mengasuhmu.
Seperti pernah kaukatakan dalam suratmu:
“Jemputlah aku malam Minggu,
bawakan aku celana baru.”

Di kamar mandi yang remang-remang itu
kau masih suntuk membaca buku.
Kaulepas kacamatamu dan kau terpana
melihatku tanpa celana. Sebab celanaku tinggal satu
dan seluruhnya kurelakan untukmu.
“Hore, aku punya celana baru!” kau berseru.
Kupeluk tubuhmu yang penuh goresan waktu.

(2002)

 

Leave a Reply