Daftar Postingan»

Sajak-sajak 2003-b

Pacar Senja

 

Senja mengajak pacarnya duduk-duduk di pantai.

Pantai sudah sepi dan tak akan ada yang peduli.

 

Pacar senja sangat pendiam: ia senyum-senyum saja

mendengarkan gurauan senja. Bila senja minta peluk,

setengah saja, pacar senja tersipu-sipu.

“Nanti saja kalau sudah gelap. Malu dilihat lanskap.”

 

Cinta seperti penyair berdarah dingin

yang pandai menorehkan luka.

Rindu seperti sajak sederhana yang tak ada matinya.

 

Tak terasa senyap pun tiba: senja tahu-tahu

melengos ke cakrawala, meninggalkan pacar senja

yang masih megap-megap oleh ciuman senja.

“Mengapa kau tinggalkan aku sebelum sempat

kurapikan lagi waktu? Betapa lekas cium

menjadi bekas. Betapa curangnya rindu.

Awas, akan kupeluk habis kau esok hari.”

 

Pantai telah gelap. Ada yang tak bisa lelap.

Pacar senja berangsur lebur, luluh, menggelegak

dalam gemuruh ombak. 

 

(2003)

 

 

Perjamuan Petang

 

Dua puluh tahun yang lalu ia dilepas ayahnya

di gerbang depan rumahnya.

“Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina.

Jangan pulang sebelum benar-benar jadi orang.”

 

Dua puluh tahun yang lalu ia tak punya celana

yang cukup pantas untuk dipakai ke kota.

Terpaksa ia pakai celana ayahnya.

Memang agak kedodoran, tapi cukup keren juga.

“Selamat jalan. Hati-hati, jangan sampai

celanaku hilang.”

 

Senja makin menumpuk di atas meja.

Senja yang merah tua.

Ibunya sering menangis memikirkan nasibnya.

Ayahnya suka menggerutu,

“Kembalikan dong celanaku!”

 

Haha, si bangsat akhirnya datang.

Datang di akhir petang bersama buku-buku

yang ditulisnya di perantauan.

Ibunya segera membimbingnya ke meja perjamuan.

“Kenalkan, ini jagoanku.” Ia tersipu-sipu.

Saudara-saudaranya mencoba menahan tangis

melihat kepalanya berambutkan gerimis.

“Hai, ubanmu subur berkat puisi?” Ia tertawa geli.

 

Di atas meja perjamuan jenazah ayahnya

telentang tenang berselimutkan mambang.

Daun-daun kalender beterbangan.

“Ayah berpesan apa?” Ia terbata-bata.

“Ayahmu cuma sempat bilang, kalau mati ia ingin

mengenakan celana kesayangannya:

celana yang dulu kaupakai itu.”

 

Diciumnya jidat ayahnya sepenuh kenangan.

Tubuh yang tak butuh lagi celana adalah sakramen.

Celana yang tak kembali adalah testamen.

“Yah, maafkan aku. Celanamu terselip

di tetumpukan kata-kataku.”

 

(2003)

 

 

Dua Orang Peronda

 

Hanya ada dua orang peronda datang ke gardu itu.

Mereka duduk berhadapan, mengobrol ke sana kemari,

bercerita tentang kekasih masing-masing

dengan wajah berapi-api. Peronda tua membanggakan

isterinya yang cintanya penuh misteri. Peronda muda

memuji-muji ibunya yang cintanya tak terbeli.

 

Sesekali mereka terdiam, beradu pandang, membiarkan

hujan mengoceh sendiri. “Kau menantangku?”

Tiba-tiba mereka bersitegang karena masing-masing

tersinggung oleh sorot mata yang penuh kebencian.

 

Hujan bubar menjelang dinihari dan sepi tak perlu lagi

ditemani. “Bosan, nggak ada penjahat. Kita pulang saja.”

Pulang ke gardu lain yang lebih hangat.

 

Sampai di teras rumah, mereka berebut membuka pintu.

Peronda tua tak mau kalah: “Biar kubuka pintu ini

dengan kunciku. Kunci yang kaubawa itu palsu!”

 

Kucing meluncur menuju dapur. “Bu, tuan-tuan pulang!”

kucing mengiau kepada perempuan yang sedang

terkantuk-kantuk di depan kompor, menjerang air

dan airmata, mau bikin kopi buat lelaki-lelaki tercinta.

 

Dua lelaki berjabat tangan erat-erat, saling mengucap

selamat istirahat. “Selamat tidur di ranjang palsu ya, Pak,”

ujar lelaki muda dengan wajah sinis bercampur bangga.

 

Palsu? Perempuan yang sedang terkantuk-kantuk

di depan kompor itu tiba-tiba tersentak.

Dua butir airmatanya jatuh berdenting.

Ia teringat bagaimana dulu ia bertempur di atas ranjang,

melahirkan anaknya persis saat suaminya sedang

termenung sendirian di gardu ronda di malam hujan.

 

(2003)

 

 

Malam Pertama

 

Malam pertama tidur bersamamu, aku terkenang

saat-saat manis bersama ibuku ketika dengan lembut

dan jenaka ia mengajariku mandi dan memakai celana

hingga kurasakan sentuhan ajaib tangan-tangan cinta

tanpa bisa kuucapkan terima kasih padanya

selain tersenyum dan tertawa.

 

Lalu ibu menjebloskanku ke sekolah. Bertahun-tahun

aku belajar bahasa yang baik dan benar hanya

untuk bisa mengucapkan cinta monyet dengan lugu

dan malu-malu tanpa menyadari bahayanya.

Setelah dewasa aku paham bagaimana menyatakan

cinta tanpa harus mengatakannya.

 

Kini aku harus menidurimu. Tubuhmu pelan-pelan

terbuka dan merebaklah bau masam dari ketiakmu.

Aku gugup. Tapi tak mungkin kupanggil almarhumah

ibuku untuk mengajariku membaca halaman-halaman

tubuhmu sebagaimana dulu dengan tekun dan sabar

ia mengajariku membaca kalimat-kalimat sederhana:

ini ibu budi; budi minum susu; ini susu ibu.

 

Malam pertama tidur bersamamu, buku, kulacak lagi

paragraf-paragraf cinta ibuku di rimba kata-katamu.

 

Apakah kata-kata mempunyai ibu?

Aku mencoba mengingat-ingat lagi apa kata ibu.

Aku sering lupa dulu ibu suka berkata apa.

Aku gemetar. Tubuhmu makin cerdas dan berbahaya.

Ibukata, temanilah aku.

 

(2003)

 

 

Surat

 

Surat-surat datang silih berganti, semuanya minta

dijawab, segera, kalau bisa hari ini.

 

Konon menulis surat bisa membasmi sepi.

Padahal hanya kalau sepi aku bisa dengan tenang

menulis surat agar jangan sampai kata-kataku menyakiti.

 

Surat ayah: Ayah menang, habis tempur melawan utang.

Surat ibu: Ibu sedang menjahit senja yang terluka

oleh rinduku. Surat istri: Telah kupanen putih

dari rambutmu. Surat teman: Teman, batukmu meletus

dalam dadaku. Surat penggemar: Salam manis buat iblis.

 

Ada pula surat dari masa kecil, datang di malam eksil,

ah pasti ditulis dengan pinsil. Kubuka amplopnya

yang warna-warni, isinya: Ayo duel kalau berani!

 

Suratan nasib: tersimpan rapat di laci meja

dan tak akan pernah kubuka.

 

(2003)

 

 

Koran Pagi

 

Koran pagi masih mengepul di atas meja. Wartawan itu

belum juga menyantapnya. Ia masih tertidur di kursi

setelah seharian digesa-gesa berita. 

Seperti biasa, untuk melawan pening ia menepuk kening.

Lolos dari deadline, ia terlelap. Capeknya lengkap.

 

Tahun-tahun memutih pada uban yang letih.

Entah sudah berapa orang peristiwa, berapa ya,

melintasi jalur-jalur waktu di kerut wajah.

Ke suaka ingatan mereka hijrah.

 

Almarhum bapaknya sebenarnya tak suka ia susah-susah

jadi reporter. Lebih baik jadi artis yang kerjanya

diuber-uber wartawan. Ibunya berharap ia jadi dokter

agar dapat merawat tubuhnya sendiri yang sakit-sakitan.

 

Siang itu, bersama teman-teman sekelasnya, ia sedang

berlatih mengarang. Sementara kawan-kawannya sibuk

bermain kata, ia bengong saja sambil menggigit-gigit pena

meskipun bu guru berkali-kali mengingatkan

bahwa cara terbaik untuk mulai menulis adalah menulis.

 

Entah bagaimana mulanya, tiba-tiba terjadi kebakaran.

Bu guru dan murid-muridnya segera berhamburan keluar.

Belakangan beredar kabar bahwa gedung sekolahnya

sengaja dibakar komplotan perusuh berlagak pahlawan.

Saat itu situasi memang sedang rawan, penuh pergolakan.

Tanpa menghiraukan bahaya, bocah bego itu malah

sibuk mencari-cari pena yang terjatuh dari meja. Bu guru

nekad menyusulnya, sementara api makin berkobar

dan semua panik: jangan-jangan mereka ikut terbakar.

 

Setelah pensiun, bu guru yang pintar itu sibuk mengurus

kios koran kebanggaannya. Sedangkan muridnya

yang suka bengong kini sedang lelap di kursi, matanya

setengah terbuka. Koran pagi masih mengepul di atas meja.

 

(2003)            

 

 

Tiada

 

Tiada pengembara yang tak merindukan

sebuah rumah, bahkan jika rumahnya hanya ada

di balik iklan yang ia baca di perjalanan.

 

Tiada rumah yang tak merindukan seorang ibu

yang murah berkah, bahkan jika ibu tinggal ada

di bingkai foto yang mulai kusam.

 

Lebih baik punya ibu daripada punya rumah,

kata temanku yang rumahnya konon baru enam

sementara sosok ibunya belum juga ia temukan.

 

Ya lebih baik punya keduanya, kata saya,

dan entah mengapa airmatanya leleh perlahan.

 

(2003)

 

 

Rumah Cinta

 

buat Wien & A’an

 

Aku datang ke dalam engkau,

ke rumah rantau yang melindap

di antara dua bukit

di mana senja mengerjap-ngerjap

dalam kerlap birulangit.

 

Ada sejoli celana berkibar-kibar

di balik jendela:

Hai, kami sedang belajar bahagia.

Ada buku masih terbuka di atas meja 

dan ada ayat rahasia:

Miskin mungkin bencana,

tapi kaya juga cuma karunia.

 

Aku pulang ke dalam engkau,

ke rumah singgah yang terlindung

di antara dua kubah

di mana ia datang berkerudungkan bulan,

merapikan tubuh yang berantakan

dan berkata: Supaya tidurmu makin sederhana. 

 

(2003)

 

 

Celana Tidur

 

Walau punya bermacam-macam celana tidur,

ia lebih suka tidur tanpa celana.

 

Supaya celana bisa tidur di luar tubuhnya.

Supaya tidurnya tidak rusak oleh celana.

 

(2003)

 

 

Teman Lama

 

Ia muncul begitu saja di ambang pintu setelah lama 

tidak bertemu. Matanya terkejut, kepalanya bergoyang

kena hantam dentang jam di dinding ruang tamu.

“Maafkan aku, kawan. Sekian tahun tak jumpa,

aku mampir ke rumahmu hanya untuk numpang

ke kamar mandi. Boleh, kan?”

 

Petang itu saya sedang melamun di halaman koran.

“Silahkan,” jawab saya singkat. Lalu ia meluncur cepat

ke kamar mandi. Entah apa yang ia perbuat.

Dari jauh berkali-kali saya mendengar ia mengumpat,

meneriakkan bangsat, jahanam, keparat. 

 

Usai bergiat di kamar mandi, wajahnya dibalut misteri.

“Setelah menjadi bintang panggung yang sukses,

aku merasa ngeri dengan topeng culun di dinding

kamar mandimu. Wajahnya sinis, dan aku tersinggung:

kok tampang kami tampak makin akur saja.”

 

Bukankah dia sendiri yang dulu menghadiahkan

topeng itu kepada saya? Saya periksa si culun,

wajahnya tetap saja begitu: dingin, menggoda, pemalu.

Jangan-jangan tampang waktu memang bisa tampak

berbeda-beda, tergantung siapa yang melihatnya,

tergantung siapa yang dilihatnya.

 

(2003)

 

        

Dokter Mata

 

Belakangan ini saya banyak mendapat gangguan mata.

Apa dan siapa yang saya lihat sering tampak bergoyang.

Bahkan mata saya kadang salah sangka.

Saat bercermin, misalnya, saya merasa bahwa tuan

yang sedang mengagumi saya adalah kenalan lama saya.

Ternyata ia lupa dan mengajak kenalan ulang.

 

Selain salah lihat, mata saya sering dianggap salah baca.

Saya baca buku, buku bilang salah, baca lagi, salah lagi.

Tak terkecuali buku-buku yang saya tulis sendiri.

 

Malam ini sakit mata saya makin akut: nyeri, pusing,

berdenyut-denyut. Maka datanglah seorang dokter mata:

“Selamat malam, pasien.” Tanpa bicara ia periksa mata saya.

“Dokter, apakah saya harus pakai kacamata?”

“Tidak perlu kacamata. Hanya perlu dicungkil.”

Dicungkil? Saya tidak dapat membayangkan mata saya

harus diganti dengan mata buatan atau bekas mata

orang lain. Saya diminta berdoa dan tidur tenang

sementara ia akan menggarap mata saya.

 

Subuh hari saya terbangun. Dokter mata sudah pergi.

Aneh, semua terasa nyaman dan normal kembali.

Saya segera mendatangi cermin langganan saya

dan saya terkejut tiba-tiba bertemu dengan dokter mata itu.

“Dokter, apakah Anda telah mengganti mata saya?”

“Ah enggak. Aku cuma membersihkan dan merendam

matamu dalam airmataku, kemudian mengembalikannya

seperti semula. Kau pangling dengan matamu?”

 

“Terima kasih, Dokter.” Dan dokter mataku tampak

ingin menangis, tapi ia tidak ingin aku melihat airmatanya.

 

(2003)

 

 

Sedekah

 

Ibu tua itu tewas sehabis berjuang keras mendapatkan

sedekah dari seorang juragan yang amat pemurah.

Ia terjatuh terinjak-injak sewaktu berdesak-desakan,

sesaat setelah diterima oleh uang dua puluh ribu rupiah.

 

“Hanya demi uang sialan itu ia harus setor nyawa,”

cetus seorang pelayat. “Jangan-jangan itu uang haram.”

Uang berkata, “Maafkan saya, Bu. Saya tidak sengaja.”

 

Toh ibu kita yang sehari-hari bekerja sebagai buruh cuci

pakaian itu wajahnya bersih bercahaya seperti habis dicuci

dengan sabun terbaik yang terbuat dari serbuk airmata.

Sesal dan tangis hanya menambah kecantikannya.

 

“Sudahlah. Dengan dua puluh ribu rupiah ibu ini bisa beli

tiket kereta api ekspres. Beliau akan mudik dengan sukses,”

ujar seorang penyair yang oleh teman-temannya dipanggil

Plato karena nun di jidatnya terdapat sebuah tato.

 

Kereta hampir berangkat. Uang yang naas tampak ikhlas

dan pasrah dalam genggaman tangan almarhumah. 

Uang yang tak seberapa ini kemudian disimpan baik-baik

oleh cucu ibu yang gigih itu dan kelak akan ia berikan

kepada entah siapa yang pantas  menerimanya.

 

(2003)

 

 

Baju Bulan

 

Bulan, aku mau Lebaran. Aku ingin baju baru,

tapi tak punya uang. Ibuku entah di mana sekarang,

sedangkan ayahku hanya bisa kubayangkan.

Bolehkah, bulan, kupinjam bajumu barang semalam?

Bulan terharu: kok masih ada yang membutuhkan

bajunya yang kuno di antara begitu banyak warna-warni

baju buatan. Bulan mencopot bajunya yang keperakan,

mengenakannya pada gadis kecil yang sering ia lihat

menangis di persimpangan jalan. Bulan sendiri

rela telanjang di langit, atap paling rindang

bagi yang tak berumah dan tak bisa pulang.

 

(2003)

 

 

Kekasihku

 

untuk Efaen

 

Pacar kecil duduk manis di jendela,

menemani senja. Senja, katanya, seperti ibu

yang cantik dan capek setelah seharian dikerjain kerja.

 

Ia bersiul ke senja seksi yang tinggal

tampak kerdipnya: Selamat tidur, kekasihku.

Esok pagi kau tentu akan datang dengan rambut baru.

 

Kupetik pipinya yang ranum,

kuminum dukanya yang belum: Kekasihku,

senja dan sendu telah diawetkan dalam kristal matamu.

 

(2003) 

 

 

Ibuku

 

Ibu suka membacakan buku untuk menghantar tidurku.

Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan

ibuku, sambil membayangkan dan bertanya ini itu.

Aku pun terlelap dalam mimpi, terbang ke tempat-tempat

yang belum kukenali. Ketika bangun, kurasakan basah

di celana. Wah, beta telah ngompol dalam dekapan bunda.

 

Bila aku pamit sekolah, ibu tak pernah bilang jangan nakal

dan bodoh, jangan membantah guru dan menyanggah buku.

Ibu hanya mengecup jidatku: Buka hidupmu dengan buku.

 

Pada saatnya beta harus meninggalkan bunda sebab tak bisa

selamanya menyusu pada ibu. Aku harus mencari susu baru.

Sambil menahan airmata, ibu memeluk dan menciumku:

Pergilah. Terbanglah. Aku pun terbang bersayapkan buku

ke antah-berantah yang bagiku sendiri masih entah.

 

Ketika suatu saat aku pulang ke rumah ibu,

ibu sudah menjadi buku yang tersimpan manis di rak buku.

 

(2003)

 

 

Rok Mini untuk Nenek

 

Malam ini nenek bulan tampak kucel dan kusam.

Langit seperti kain bekas yang dipakai untuk mengusap

wajah seorang pesolek yang sedang muram.

 

Pelukis kecil sedang gelisah di malam mungil.

Gundah melihat neneknya yang dekil.

“Tunggu sebentar ya, Nek, kubikinkan sesuatu untukmu.”

 

Dengan pinsil warna-warni dirajutnya raut mimpi

yang masih murni. “Kok seperti gambar rok mini?”

Nenek bulan tersenyum geli. “Ini rok mini untukmu, Nek.

Harganya mahal sekali. Pakailah supaya kau tampak seksi.”

 

Berdua mereka tertawa. Lupa waktu, lupa derita.

 

“Sudah. Nenek pulang dulu. Belajarlah.

Nanti ibumu marah. Besok kau harus sekolah.”

 

Pelukis kecil sudah ngantuk dan lelah, lalu tertidur

sebelum sempat merampungkan banyak pekerjaan rumah.

 

(2003)

 

 

Di Bawah Pohon Cemara

 

Di bawah pohon cemara gadis kecil itu sejak tadi

duduk termenung. Ia ingin datang ke pesta

ulang tahun temannya, tapi malu dengan bajunya

yang rombeng dimakan waktu.

Matanya menerawang memandang kerlap-kerlip

lampu di dinding gereja. Seorang sahabatnya

datang mendekat, bajunya putih gemerlap.

Sambil makan permen mereka berbincang hangat.

“Pergilah ke pesta. Kau bisa memakai bajuku

dan aku tak akan malu memakai bajumu.”

Di bawah pohon cemara mereka bertukar baju.

 

Pulang dari gereja, ia tak melihat lagi sahabatnya

padahal ia ingin mengembalikan bajunya.

Hanya ada bungkus permen bertebaran di bawah

pohon cemara. Tiba-tiba, “Hai, aku di sini!”

Ia mendongak ke langit. Ia terpana melihat

bintang Natal memamerkan bajunya. “Itu bajuku!”

ia berseru dalam hati. Dengan mata berkaca-kaca

dilambaikannya tangannya ke atas sana.

 

Di bawah pohon hujan gadis kecil itu sejak tadi

duduk berteduh. Ia kesepian menunggu temannya

yang tadi ia pinjami bajunya.

Daun-daun hujan berguguran sepanjang subuh.

 

(2003)

 

 

Penjual Kalender

 

Pawai tahun baru baru saja dibubarkan sepi.

Sisa suara terompet berceceran, sebentar lagi basi.

Lelaki tua berulang kali menghitung receh di tangan,

barang dagangannya sedikit sekali terbeli.

“Makin lama waktu makin tidak laku,” ia berkeluh sendiri.   

Anaknya tertidur pulas di atas tumpukan kalender

yang sudah mereka jajakan berhari-hari.

 

Lelaki tua membangunkan anaknya. “Tahun baru

sudah tiba, Plato. Ayo pulang. Besok kembalikan saja

kalender-kalender ini kepada pengrajin waktu.”

 

Perempuan itu masih setia menanti ketika dua orang

pejuang pulang dinihari. “Selamat tahun baru, tuan-tuan!”

Tuan besar segera mampus dihajar kantuknya.

Tuan kecil segera ingin menyambung tidurnya.

Ibunya menepuk pantatnya: “Kau telah dinakali waktu,

Buyung? Kok tubuhmu terhuyung-huyung?”

 

Ia ibu yang pandai merawat waktu. Terberkatilah waktu.

Dengan sabar dibongkarnya tumpukan kalender itu.

Ha! Berkas-berkas kalender itu sudah kosong,

ribuan angka dan hurufnya lenyap semua. Dalam sekejap

ribuan kunang-kunang berhamburan memenuhi ruangan.

 

(2003)

 

 

Cita-cita

 

Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:

ingin bisa sampai di rumah saat masih senja supaya saya

dan senja sempat minum teh bersama di depan jendela.

 

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,

uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya

pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah

menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat. 

 

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar

membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar

yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,

“Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.

Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

 

(2003)

 

Kepada Puisi

 

Kau adalah mata, aku airmatamu.

 

(2003)

 

» 21 May 2008 | Puisi Pinurbo |
Tuliskan Pesan

Komentar: