Nganga Sunyi
Baru saja saya bertemu dengan seorang teman yang mengaku awam dalam soal sastra tapi suka menikmati karya sastra, khususnya puisi. Dia bertanya, “Apakah sebuah puisi mesti dibaca sebagai sebuah karya yang mandiri atau dapatkah dikait-kaitkan dengan puisi(-puisi) lain dari penyair yang sama?” Sebuah pertanyaan yang mungkin klise namun tetap menggoda.
Saya ambil sajak Sitor Situmorang “Malam Lebaran” sebagai contoh kasus sederhana. Sajak itu hanya berbunyi Bulan/di atas kuburan. Itulah barangkali sajak mini yang paling banyak dikenang orang. Sajak mungil yang kaya makna. Dengan hanya memainkan tiga imaji –bulan, kuburan, lebaran—seraya “melukai” logika dalam dunia nyata (konon pada malam Lebaran bulan tidak muncul)– si mungil cerdas ciptaan Sitor tersebut sudah sanggup menjelajahi keluasan dunia imajinasi saya sebagai seorang pembaca. Proses “pembacaan” dapat berlangsung dengan asyik dengan hanya menggali unsur-unsur yang terdapat dalam sajak itu sendiri.
Bandingkan, misalnya, dengan sajak berjudul “Luka” karya Sutardji Calzoum Bachri yang lebih mini lagi. Cuma ha ha, begitu bunyinya. Kontradiksi antara “luka” dan “ha ha” sesungguhnya sudah cukup memberikan kepenuhan makna. Ia bisa dihayati sebagai sikap hidup yang kuat: semacam kebandelan dan rasa humor dalam menghadapi berbagai bentuk kesakitan. Namun bagi seorang pembaca bandel seperti saya, itu saja belum cukup. Kegairahan membaca saya dapat lebih terpuaskan setelah saya menyusuri “perjalanan luka” Sutardji melalui sajak-sajak lain dalam antologi O Amuk Kapak. Dengan kata lain, sajak mini di atas merupakan semacam tanda seru bagi kalimat-kalimat panjang yang telah dituliskan sebelumnya.
Masih ada sajak Sutardji yang lebih mini lagi. Judulnya “Kalian”, isinya hanya secuil kata: pun. Mungkin itu sajak paling mini yang pernah lahir di negeri ini. Bagi saya, sajak ini hanya mungkin dibaca dalam rangkaiannya dengan sajak-sajak lain. Boleh dianggap sebagai kesimpulan atau akhir renungan: “lukaku” adalah “luka kalian” juga. Yang tertusuk padamu berdarah padaku, kata sebuah sajak Sutardji dengan sungguh memukau.
Itu tadi sajak-sajak mini. Saya hadirkan sekarang sajak “Pada Suatu Pagi Hari” (saya ambil dari antologi Hujan Bulan Juni) karya Sapardi Djoko Damono, “profesor hujan”.
Maka pada suatu pagi hari ia ingin sekali menangis
sambil berjalan tunduk sepanjang lorong itu. Ia ingin pagi
itu hujan turun rintik-rintik dan lorong sepi agar ia bisa
berjalan sendiri saja sambil menangis dan tak ada orang
bertanya kenapa.
Ia tidak ingin menjerit-jerit berteriak-teriak mengamuk
memecahkan cermin membakar tempat tidur. Ia hanya ingin
menangis lirih saja sambil berjalan sendiri dalam hujan
rintik-rintik di lorong sepi pada suatu pagi.
Entah mengapa saya selalu ingin membaca ulang sajak tersebut, padahal isinya
“hanya” lukisan suasana/perasaan ngelangut dan nelangsa. “Kekejaman”nya menorehkan perasaan ngelangut dan nelangsa saja sebenarnya sudah merupakan pemberian yang lebih dari cukup buat saya, dan dengan demikian sajak ini telah menunaikan tugasnya dengan baik tanpa harus dibantu oleh sajak-sajak lain. Namun saya sungguh terusik oleh nganga sunyi yang saya temukan di sana. Tidak ada penjelasan apa pun mengenai siapa ia yang ingin sekali menangis dan mengapa pula ia ingin menangis. Sesekali saya tergoda juga untuk masuk ke nganga sunyi tadi. Terbayanglah kemudian tiga sajak Sapardi (yang oleh A. Teeuw disebut sebagai “tritunggal tentang waktu”): “Saat Sebelum Berangkat”, “Berjalan di Belakang Jenazah”, dan “Sehabis Mengantar Jenazah”. Ketiga sajak ini terdapat dalam kumpulan puisi pertama Sapardi, dukaMu abadi.
Sayup-sayup saya ingat ada yang pernah mengatakan bahwa dukaMu abadi merupakan semacam “nyanyi sunyi” sehabis terjadinya tragedi berdarah G 30 S/PKI yang diikuti dengan pembantaian begitu banyak orang tak bersalah. Dengan kata lain, ia merupakan pendekatan liris terhadap rangkaian peristiwa sosial yang demikian dahsyat. Saya bayangkan saja bahwa ia yang ingin sekali menangis dalam sajak Sapardi di atas adalah seorang perempuan yang telah kehilangan seseorang, entah kekasih entah keluarganya. Dan perempuan itu sebelumnya ikut pula dalam perarakan dan penguburan jenazah sebagaimana terlukiskan dalam “trilogi tentang waktu”. Mungkin ini terlalu mengada-ada. Biar saja. Yang penting, sebagai pembaca saya punya cara sendiri untuk “mengisi” sebuah nganga sunyi. Tapi, masih ada satu soal: mengapa ia ingin menangis lirih saja. Sialan, si “lirih” ini sungguh ambigu (dan sebaiknya tidak saya utak-atik sekarang).
‘Ku mengerti kini, mengapa ada pembaca “fanatik” yang merasa perlu untuk memiliki koleksi lengkap kumpulan puisi seorang penyair.
Joko Pinurbo
13 April 2006
Matabaca, Mei 2006
Selamat pagi Pak Joko Pinurbo,
mungkin saya adalah salah satu pembaca “fanatik” yang berusaha mengkoleksi kumpulan puisi bapak “profesor hujan”
Ada “ngelangut” yang saya rasakan tiap membaca puisi-puisi beliau, dan herannya saya justru menyukai rasa ngelangut itu
Tapi saya juga suka puisi-puisi Pak Jokpin. Cinta Telah Tiba, Maghrib, dan Seperti Apa Terbebas Dari Dendam Derita
Oya, salam kenal Pak