Membaca Alis

Bahkan seorang penyair yang telah hampir tiga puluh tahun menyuntuki kegemaran mengarang puisi masih sering dilanda kegamangan: apa lagi yang mesti diperbuat terhadap kata-kata ketika apa yang ingin dikatakan sudah dikatakan penyair-penyair lain? Ada dua kemungkinan yang dia tempuh. Pertama, larut saja dalam pengulangan, sehingga menulis puisi hanyalah cara untuk menunjukkan bahwa puisi masih ditulis. Kedua, mencoba bereksperimen dengan sesuatu yang “baru”, meskipun bukan tanpa risiko. Tanpa visi yang kuat dan kepiawaian menyiasati kata, nafsu akan pembaruan hanya akan melahirkan sensasi artifisial yang bakal cepat pudar dikikis waktu.

                Sesungguhnyalah kata-kata, seusang apa pun, tetap memiliki potensi untuk melahirkan daya puitik. Dan salah satu tantangan menarik bagi seorang penulis puisi adalah ketika ia dituntut untuk menghidupkan kembali kata-kata yang sudah mati, memberi nyawa baru pada hal-ihwal yang sudah bekas. Caranya antara lain dengan mengembangkan berbagai kemungkinan dalam hal perspektif dan teknik pengungkapan, sehingga bisa muncul konteks makna dan nuansa yang berbeda-beda untuk objek yang sama.

                Salah satu siasat untuk menciptakan kesegaran ungkapan adalah membuat kombinasi kata yang bisa jadi terasa tak lazim, menyimpang dari logika sehari-hari, namun tetap memiliki logika sendiri dalam bingkai puisi yang mewadahinya. Imaji yang satu dipertautkan dengan imaji yang lain, kemudian lahirlah satuan imaji yang ganjil dan mengejutkan, tajam pula maknanya. Misalnya: gigi sepi, bangkai hujan, atau pantat bulan. Tentu saja puisi bukan sekedar kerumunan imaji, apa lagi banjir imaji. Imaji-imaji seseksi apa pun hanya akan menghasilkan keriuhan dan polusi bunyi jika sembarang hadir, jika tidak muncul pada tempat dan saat yang tepat.

                Sebagai seorang penikmat puisi, saya suka mengamati bagaimana para penyair mengerjakan objek-objek atau imaji-imaji yang berasal dari lingkungan tubuh manusia. Ambil, misalnya, alis. Setidaknya ada tiga alis yang merangsang pikiran dan perasaan saya. Tiga alis, tiga pukau, tiga unikum dari tiga penyair yang berbeda generasi. Sitor Situmorang: Kujelajah bumi dan alis kekasih/Kuketok dinding segala kota/Semua menyisih (“Berita Perjalanan”, 1953). Goenawan Mohamad: di alismu langit berkabung/dengan jerit hitam/dua burung (“Untuk Frida Kahlo”, 1993-1994). Acep Zamzam Noor: Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning (“Cipasung”, 1989).

                 Dalam Sitor alis muncul untuk menyatakan sensualitas tubuh manusia yang diliputi erotisme yang menyala: tanda kegairahan dan petualangan cinta yang toh berhimpitan dengan kehampaan. Adapun alis Goenawan memperlihatkan sensualitas dari sisinya yang muram: erotisme yang telah redup, kecantikan yang menyakitkan. Dan dari segi permainan kata, alis Goenawan sungguh sangat efisien. Keefisienan ini terutama berkat posisi ganjil kata “hitam”. “Hitam” yang lazimnya dipakai untuk citraan lihatan (dalam hal ini “dua burung”) disandingkan dengan “jerit” yang adalah citraan dengaran. Anggaplah itu jerit yang memilukan, jerit dukacita. Jadilah “hitam” di sini pisau bermata ganda: terpaut sekaligus ke “dua burung” dan “jerit”. Dan sungguhpun alis Goenawan adalah alis yang menyuarakan lagu kabung, tetap saja ia memperlihatkan sensualitas kata, sensualitas imaji. Alis yang tetap seksi. Aku dipukau oleh alis hitam lebat yang lengkungnya tampak seperti kepak sayap burung.

                Pada Acep keindahan alis telah mengalami transformasi dari yang insani ke yang illahi. Hubungan antara manusia, alam, dan Tuhan dilukiskan secara konkret melalui bahasa manusia dan bahasa bumi. Keagungan illahi diterjemahkan lewat keindahan dan kebajikan manusiawi. Dengan kata lain, alis di situ seakan merupakan bagian dari sensualitas “tubuh tuhan”. Baiklah saya kutip lengkap bait pertama sajak “Cipasung”.

 

Di lengkung alis matamu sawah-sawah menguning

Seperti rambutku padi-padi semakin merundukkan diri

Dengan ketam kupanen kesabaran hatimu

Cangkulku iman dan sajadahku lumpur yang kental

Langit yang menguji ibadahku meneteskan cahaya redup

Dan surauku terbakar kesunyian yang dinyalakan rindu

 

                Di sajak itu aku seakan melihat seorang petani yang sedang bersembahyang subuh. Dan betapa indahnya desa Cipasung ketika para petani melakoni dan menghayati kerja bertani sebagai ibadah dalam wujudnya yang nyata. Sawah ibarat tempat atau masjid kehidupan untuk beribadah. Lumpur adalah sajadah. Alat-alat bertani adalah sarana untuk melaksanakan ibadah. Sedangkan ketekunan bertani adalah wujud dari ketulusan serta kekuatan iman dan doa. Dan semua itu bermula dari pesona alis. Entah alis siapa.

 

Joko Pinurbo

15 Mei 2006

Matabaca, Juni 2006


One Response

  1. gundul:

    ‘lagi lagi kutemukan “hak cipta pada”, atau “copyright”, atau nada nada sejenis.’
    ‘memuakkan’ sungut sang kata.
    ‘pernahkah mereka meminta ijin dariku sebelumnya ?’ ‘mengeksploitasi anak anak hurufku hanya untuk mengasapi periuk nasi mereka?’ semburnya.

    sang kata melanjutkan protesnya,’bagaimana pertanggungjawabanku kepadaNYA jika setiap saat diriku diudel udel seenak udelnya hanya untuk memenuhi selera mereka masing masing ? pakai atasnama proses kreatiflah, dalih cintalah, tujuan pembebasanlah atau sejuta alasan lain yang tak masuk diotakku. padahal dahulu sebelum terkenal mereka begitu santun. memperlakukanku bak permaisurinya. sekarang kutahu banyak dari mereka hanya kejar setoran.’ namun anehnya ia masih saja percaya dan berbaik sangka untuk menyerahkan anak anak hurufnya pada mereka. mondar mandir ia dari sudut ke sudut kamar. tangannya meremas selembar dua kertas hasil printout dari blog beberapa penyair.

    di pojok ruang rumi hanya bisa manggut manggut sambil sesekali berdehem. ‘ikhlaskan saja bung kata’. ‘toh Kekasihku sebagai pemilik orisinil kalian dan Maha Pengucap Kalam takkan pernah tergusur dengan kehadiran mereka’. ‘yaaa… bisanya mereka cuma itu kok’, pungkas rumi seolah ingin menutup pembicaraan.

    kata masih belum bisa menerima kenyataan. seumur hidup acapkali menerima perlakuan tak menyenangkan. kadang ia mendapati dirinya tersekap pada bak sampah, tubuhnya diikat temali kemunafikan. ia masih ingin melanjutkan curhatnya pada rumi namun diurungkan niat itu setelah terdengar ada yang mengetuk pintu. bergegas ia menuju pintu, ‘tak ada siapapun’ gumamnya sambil menutupnya kembali.

    ‘tok.. tok.. tok…’ kembali pintu diketuk.
    ‘masuk saja’. ‘pintu tak pernah kukunci’ sahut sang kata.
    hening. tak ada suara menyahut dari luar.
    ia menuju pintu dan membukanya kembali. ‘hmm.. hanya orang iseng’, pikirnya.
    ‘breek..’ pintu ditutupnya kembali.

    ‘dok.. dok.. dok…’ kali ini lebih menyerupai gedoran.
    ‘dok.. dok.. dok… dok… dok…’ semakin nyaring.
    ‘gedubrak !’ terdengar seperti suara orang terjatuh.

    sang kata berlari meninggalkan rumi sendiri di dalam kamar. terburu buru ia membuka pintu dan berlari keluar. ‘ah…’ sang kata tercekat. didapatinya sesosok tubuh wanita tersungkur.

    dipangkunya wanita itu sambil sesekali dialirkan udara segar dari lipatan kertas hasil printout yang masih berada ditangannya ke arah wajah si wanita yang pucat pasi. banyak parit dan guratan dikeningnya.
    ‘pasti wanita biasa. jamak kujumpai setiap hari.’ gumam sang kata pada dirinya.

    tangan si wanita mulai bergerak. lemah.
    ’siapa kamu ?’ tanya si wanita setelah dapat menguasai dirinya lagi. lirih. seakan tak terdengar.
    ‘aku kata’, sahut sang kata. datar.
    ‘owalah kata.. kata… mengapa terlalu lama kamu membuka pintu ?’, si wanita menghela nafas lega.
    ‘taaapi… benar engkau adalah kata yang lama kucari?’ ujar si wanita sedikit ragu.
    sang kata beringsut. ia agak tersinggung tak dipercaya begitu, namun segera ditepis perasaan itu. ada sesuatu yang ia rasakan berbeda pada wanita ini. ‘pasti ada hal penting yang ingin disampaikannya’, suara hati sang kata.
    ‘ya nyonya. aku kata.’

    ’sebelum kemari telah kutanya pada setiap orang yang kujumpai dimana gerangan dirimu berada, kata. namun mereka tak mengetahui alamatmu. akhirnya kepada hujan kuberanikan diri untuk bertanya dan ia memberikan jawaban jika aku ingin bertemu denganmu maka aku cukup mengikuti aliran tetesnya. berliku aku membuntutinya, genangan… selokan… sungai… dan akhirnya muara. syukur…. akhirnya kamu kutemukan juga.’ mata si wanita mendadak membulat, berpijar seolah berjumpa kekasihnya yang telah lama dinanti.

    ‘aku tak tahu kalau ada orang di luar kamarku. mungkin aku terlalu asyik memikirkan nasib anak anak hurufku yang sering diperkosa oleh manusia’, jawab sang kata jujur.

    ‘kata… terlalu lama aku mencarimu.’ ‘bertahun tahun aku berjalan mengikuti pesan sang hujan. sepanjang perjalanan setiap bertemu orang tetap kutanyakan keberadaanmu. di banyak kota, di banyak gedung, di banyak kantor, namun orang orang itu tetap saja tak ada yang mengetahui dirimu tinggal. aku perlu dirimu untuk mengadukan nasibku ini’, rentetan kalimat terburai dari lidah si wanita. mulut yang merindukan tempat untuk mengadukan nasibnya.

    ‘kiranya gerangan apa yang menimpa diri anda, nyonya ?’ sang kata mencoba menepis rasa bersalahnya. terdengar sedikit bergetar nada suara sang kata.
    ‘aku tinggal disebuah kota. orang menyebutnya solo.’ si wanita yang dipanggil nyonya itu mulai memperkenalkan dirinya. sebenarnya ia malu disebut dengan panggilan nyonya. seumur hidup belum ada seorangpun yang memanggilnya nyonya. sebutan yang sangat mewah pikirnya. diputuskan untuk tidak mempersoalkan panggilan dulu, toh masalahnya yang utama bukan itu, pikir si wanita.

    ‘lebih sepuluh tahun silam aku harus hidup sendiri, kata. aku harus bisa menghidupi anakku’, si wanita bertutur pada kata. lanjutnya, ‘aku tak tahu mengapa mereka tega melakukan itu semua padaku. apakah mereka tak memiliki istri ? apakah mereka terlahir bukan dari rahim seorang wanita ?’

    ‘lho.. memangnya salah nyonya apa ?’ kata bertanya untuk mengetahui lebih banyak perihal persoalan yang mendera pada wanita yang sekarang telah dapat duduk dihadapannya. ‘dan mereka yang telah tega berbuat aniaya terhadap diri nyonya itu siapa ?’ kata melanjutkan pertanyaan. nada suaranya terdengar agak parau dengan getaran yang lebih berat.

    ‘aku hanyalah istri seorang lelaki kecil. hidup kami sangat sederhana, miskin lebih tepatnya. kata…., suamiku cuma menulis dirimu, dan membacakannya. tapi mereka kebakaran jenggot. kau tahu siapakah mereka yang kumaksud ? merekalah para pengecut, yang merasa diri merekalah paling berkuasa, yang sangat…. sangat…. sangat…. sering memakai dirimu untuk menggambarkan hasil kerja keras mereka yang bernama pembangunan, yang berjenis kelamin pertumbuhan, yang berjudul pemerataan dan memiliki saudara kandung stabilitas. mereka menceritakan kisah kisah indah negeri dongeng taman kardus.’
    ‘kata…, apakah mereka pernah menghubungimu sebelum mereka menggunakan anak anak hurufmu ? yaahhh… paling tidak teleponlah. toh semua biaya hidup mereka ditanggung oleh kami semua, termasuk uang pulsa.’ giliran si wanita yang bersemangat.

    ‘eh.. eh… eh…’ kata tak mampu berkata. gayanya saat ini lebih mirip seorang mantan menteri sekretaris negara jaman lampau pada kabinet berkuasa di negeri dongeng taman kardus. bukan hanya nada suaranya yang bergetar hebat namun dirinyapun mulai bergetar. pada setiap kalimat yang meluncur dari mulut si wanita.

    ‘kalau orang orang kecil seperti kami sih rasanya sudah terlalu sering meminta ijin padamu, kata. wira wiri kami mendatangimu. engkau pasti tahu akan hal itu bukan ?’ terang si wanita. ‘bahkan dalam setiap perbuatan kami. kami mencuri karena beras kami dicuri. kami berteriak karena kami diinjak. hanya itu kemampuan kami untuk bisa hidup. mencuri dan berteriak. terlalu letih dan sia sia kami menahan lapar.’

    ‘memang pernah ada seorang lelaki mendatangiku dan meminta ijin dariku untuk memakai anak anak hurufku’ sang kata mencoba mengingat kembali kilasan kilasan kejadian lampaunya.
    sang kata terdiam sejenak untuk kemudian melanjutkan, ’saat itu ia berencana untuk merangkai anak anak hurufku kedalam salah satu diriku. ia memilih huruf a, l, n, dan w. kutanyakan padanya akan dijadikan apa anak anak huruf itu dan ia menjawab akan ia rangkai menjadi lawan. selanjutnya ia permisi dan mengucap salam padaku. aku tahu ia lelaki yang baik. dan keyakinanku mengatakan kepada diriku ia pasti akan menggunakannya untuk tujuan kebaikan pula.’

    ’siapakah anda nyonya ?’ tanya sang kata semakin bergetar hebat.
    ‘aku sipon wiji tukul.’

    sang kata berusaha bangkit. tangannya mencoba meraih dinding.
    ‘gubrak !!!’ sang kata tersungkur.

    ————-
    .: 20/05/08
    ‘untuk ibu sipon wiji tukul, ibu suciwati munir, dan ibu siti maryam sumijan.’

Leave a Reply

RSS subscribe