Bencana
Beberapa saat setelah gempa mengguncang dan memorakporandakan beberapa bagian dari wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah pada pagi tanggal 27 Mei 2006, sejumlah teman mengirim tanya kepada saya: “Sudahkah menulis puisi tentang gempa?” Pertanyaan serupa pernah saya terima beberapa saat setelah tsunami menerjang Aceh pada suatu pagi di penghujung tahun 2004, sehari setelah perayaan Natal.
Atas permintaan teman, saya sempat menyuruh tangan saya menulis syair tentang dua peristiwa alam tersebut: dua bencana yang kedahsyatannya seakan membuat jari dan pena terasa kaku. Namun, terus terang, sajak yang saya tulis telah tidak menggembirakan saya. Saya merasa, sajak saya muncrat lebih karena kuasa emosi.
Saya percaya, puisi yang tanpa emosi akan menjadi sajak yang kering. Namun saya juga berkeyakinan, puisi yang semata-mata ditulis oleh tangan dan hati yang sedang dikuasi gejolak emosional akan kehilangan keseimbangan dan kejernihan. Dalam hal gempa yang menerjang Yogya, kebetulan saya sendiri adalah bagian dari mereka yang mengalami dan merasakan langsung peristiwanya dan menyaksikan langsung pula akibatnya. Situasi ini justru membuat saya makin tidak mudah menggubah puisi.
Puisi bagaimanapun merupakan seni kata yang kompleks. Seorang tukang syair tentulah memerlukan waktu dan suasana untuk mengambil jarak terhadap peristiwa, untuk mengendapkan dan menyuling semuanya, untuk memikirkan dan menciptakan peralatan puitik yang sesuai dan mengena. Hal itu penting agar puisi tidak sekadar menjadi banjir kata dan banjir rasa. Dan memang, puisi tidak cukup hanya berbekalkan keterharuan dan keterguncangan perasaan.
Teringatlah saya akan buku kumpulan puisi Zeffry J. Alkatiri, Dari Batavia sampai Jakarta 1619 - 1999: Peristiwa Sejarah dan Kebudayaan Betawi – Jakarta dalam Sajak (Magelang: IndonesiaTera, 2001). Dalam antologi puisi itu terdapat sebuah sajak yang mengisahkan saat kejadian meletusnya Gunung Krakatau tahun 1883. Memang ini peristiwa sejarah yang sudah sangat lama terjadi dan karena itu sudah sangat berjarak dengan kita. Namun, sungguh menarik memperhatikan cara puisi tersebut menuturkan suasana saat terjadinya letusan Krakatau melalui deskripsi yang konkret, unik, wajar, dan ditata secara “sistematis”. Kita lantas beroleh gambaran visual yang hidup dan segar mengenai kedahsyatan bencana alam itu. Saya kutip utuh sajak yang dimaksud.
Sair Kejadian Sewaktu
Gunung Meletus (1883)
Untuk Mengingat:
M. Bakir dan Tan Teng Kie
Di Kota Inten banyak prahu pada kelebu
Lantaran ombak ngamuk seperti sapu.
Air laut meluap sampai ke Kali Baru
Lantaran gunung di Banten muntahin abu.
Langit siang jadi gelap malem
Lantaran awan dikekepin asep item.
Di Langgar orang berdoa minta slamat
Lantaran dikira bakal ada kiamat.
Orang Belanda kagak bisa pelesir
Lantaran di jalan banyak batu pasir.
Orang Cina kebakaran jenggot
Lantaran rumahnya jadi pada reyot.
Arab sengke Krukut batal balik ke Yaman
Lantaran laut di Jawa masih belon aman.
Pohon dan genteng jadi pada kelabu
Lantaran banyak abu nempel di situ.
Anak-anak berebut nanggok ikan
Lantaran air kali luber sampe ke jalan.
Ibu-ibu pada menjerit takut
Lantara tempayan di dapur
pada saling nyikut.
(Zeffry J. Alkatiri, 1999)
Joko Pinurbo
Matabaca, Agustus 2005