Sajak-sajak 2005

Malam Insomnia

Tenang saja, tak usah khawatir.
Aku berani pergi sendiri ke kamar mandi.
Aku akan baik-baik saja.
Tak ada hantu yang perlu ditakuti.
Oh tidak, aku tidak akan bunuh diri
di kamar mandi. Aku akan segera kembali.

Dari tempatku terbaring sayup terdengar
suara bocah sedang menjerit-jerit ketakutan.
Kemudian hening. Setelah itu ia tertawa nyaring.

Bu, aku sudah selesai mandi.
Di kamar mandi aku sempat berjumpa
dengan gembong sepi nan gondrong rambutnya.

Bagus. Nyalakan matamu.
Segera tuliskan kata-katamu
dengan sisa-sisa sakitmu
sebelum aku goyah, berderak, rebah
karena tak sanggup lagi menampung
gelisah tidurmu yang semakin parah.

Baiklah. Doakan menang ya, Bu. Aku akan duel
dengan harimau merah yang sering merusak tidurku.

(2005)

Pesan dari Ayah

Datang menjelang petang, aku tercengang melihat
Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam
di bawah pohon sawo di belakang rumah.
Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam
sebab Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian.

“Jangan ganggu suamiku,” Ibu cepat-cepat
meraih tanganku. “Sudah dua hari ayahmu belajar
menulis dan mengirim pesan untuk Ibu.
Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu.”

Ketika pamit hendak kembali ke Jakarta,
aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda
agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar
mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang.

Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah-malam
telepon genggamku terkejut mendapat kiriman
pesan dari Ayah, bunyinya: “Sepi makin modern.”

Langsung kubalas: “Lagi ngapain?” Disambung:
“Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo
di belakang rumah. Bertiga dengan bulan.
Berempat dengan telepon genggam. Balas!”

Kubalas dengan ingatan: di bawah pohon sawo itu
puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis
hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan,
lalu Ayah membopong tubuhku yang masih lugu
dan membaringkannya di ranjang Ibu.

(2005)

Pohon Cemara

Di depan rumahmu ia betah berjaga mengawal sepi,
dari jauh terlihat tenang dan tinggi.
Jaman berubah cepat, andaikan nasib bisa diralat,
dan pohon cemara masih saja serindang mimpi.

Pada dahannya masih tergantung sepotong celana:
gambar panah di pantat kanan, gambar hati
di pantat kiri; dicumbu angin ia menari-nari.

Burung bulan suka bersarang di ranting-rantingnya,
bulunya berhamburan di tangkai-tangkainya.

Aku pulang di malam yang tak kauduga.
Halo, itu celana kok sudah beda pantatnya:
panah telah patah, hati telah berdarah;
darahnya kausimpan di botol yang tak mudah pecah.

(2005)

Winternachten, 2002

Magrib memanggilku pulang
ketika salju makin meresap
ke sumsum tulang.

Pulang ke hulu matamu
agar bisa mencair
dan menjadi airmatamu.

Musim tidak berbaju,
badan dimangsa hujan,
dan magrib mengajakku pulang.

Pulang ke suhu bibirmu
agar bisa menghangat
dan menjadi kecupkenyalmu.

Menggigil adalah menghafal rute
menuju ibukota tubuhmu.

(2005)

Rambutku adalah Jilbabku

Dua gunting gila menari-nari
di atas rambutnya.
Anda ingin model yang mana?
Mendongak ragu, ia berkata,
“Rambutku adalah jilbabku.”

Tujuh warna muda melintas-lintas
membujuk matanya.
Anda ingin warna yang mana?
Mengangkat dagu, ia berkata,
“Rambutku adalah jilbabku.”

Senja yang sedang bingung
mondar-mandir di atas keningnya
kemudian tertidur di alur alisnya.

Tersentuh waktu, rambutnya
serupa rumpun putrimalu.

(2005)

Mobil Merah di Pojok Kuburan

Mobil merah di pojok kuburan
menderam-deram menyambut malam.
Lampu dinyalakan, klakson dibunyikan.
Di remang sunyi kembang jepun berguguran.

Lelaki tua sibuk berdandan,
di kaca spion wajahnya terlihat tampan.
Rambutnya harum, licin mengkilat,
lalat yang hinggap bakal terjerembab.

Kadang ia bersiul, dasi dan jas ia rapikan.
Rokok dihisap, asap dikepul-kepulkan.
Telepon genggam tak juga bilang
kapan si dia bakal muncul dari seberang.

Tiba-tiba ia terpana, pandangnya heran:
ada gadis kecil lewat, bersenandung pelan,
mendaki bukit, menyunggi bulan,
sekali-sekali menoleh ke belakang.

Mobil merah di pojok kuburan
serupa mobil-mobilan yang dulu hilang.
Musik dihidupkan, mata dipejamkan.
Di terang sepi kembang jepun bermekaran.

(2005)

Sehabis Sembahyang

Aku datang menghadapmu dalam doa sujudku.
Terima kasih atas segala pemberianmu,
mohon lagi kemurahanmu: sekadar mobil baru
yang lebih lembut dan lebih kencang lajunya
agar aku bisa lebih cepat mencapaimu.

Sementara aku masuk ke rumahmu, kau malah
pergi ke kantor pos kecamatan,
mengambil jatah santunan seratus ribu.
Berbekal kartu tanda miskin, kau rela antri
berjam-jam hingga bajumu yang masih baru
langsung luntur oleh cucuran peluhmu.

Kau sempat menangis dan pingsan karena uang
yang dengan susah payah kaudapatkan
langsung amblas dirampas orang.

Kulipat dan kusimpan baju sembahyangku
di bawah bantal supaya tenang tidurku.
Di saku kirinya terselip kartu tanda miskinmu,
di saku kanannya kutemukan uang seratus ribu.

(2005)

Aceh, 26 Desember 2004

Gema lonceng Natal
masih bergetar di kaca jendela
ketika Aceh meleleh
di kelopak mataku,
menetes deras
ke dalam gelas
di atas meja perjamuanmu.

(2005)

Harga Duit Turun Lagi

Mengapa bulan di jendela makin lama
makin redup sinarnya?
Karena kehabisan minyak dan energi.
Mimpi semakin mahal,
hari esok semakin tak terbeli.

Di bawah jendela bocah itu sedang suntuk
belajar matematika. Ia menangis tanpa suara:
butiran bensin meleleh dari kelopak matanya.
Bapaknya belum dapat duit buat bayar sekolah.
Ibunya terbaring sakit di rumah.

Malu pada guru dan teman-temannya,
coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan.
Dadah Ayah, dadah Ibu….

Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya.
Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya.
Berilah kami rejeki pada hari ini
dan ampunilah kemiskinan kami….

(2005)

Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita?

Seperti pisau yang dicabut pelan-pelan
dari cengkraman luka.

(2005)

Himne Becak

Dua puluh tahun yang lalu aku melihatmu
sedang melamun di dalam becak yang kauparkir
di depan warung makan Sabar Menanti.
Petugas ketertiban kota datang menggarukmu:
becak dan si tukang becak diangkut mobil patroli.

Sepuluh tahun kemudian aku melihatmu
sedang mengantuk di dalam becak yang kauparkir
di depan rumah makan Sabar Menanti.
Petugas ketertiban kota datang menggarukmu:
becak segera diangkut mobil patroli,
si tukang becak dipersilakan pulang berjalan kaki.

Dan malam ini, sayang, aku melihatmu
sedang mendengkur di dalam becak yang kauparkir
di depan restoran Sabar Menanti.
Petugas ketertiban kota mengayuh becakmu,
membawamu pergi ke tempat yang sepi
sambil tetap membiarkanmu dininabobokan mimpi.

Tidurmu begitu manjur sampai kau tak tahu
bahwa becakmu sedang parkir di depan kuburan.
Aku tinggal rintik-rintik hujan ketika subuh datang,
ketika kau menggeliat dan berbisik lantang
sepanjang azan, dan becakmu dicari-cari penumpang.

(2005)

Leave a Reply