Daftar Postingan »

Arsip untuk May 2008

Sajak-sajak 1980-1991

Layang-layang Dulu pernah kaubelikan aku sebuah layang-layang pada hari ulang tahun. Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak tapi hanya sejenak. Sebab layang-layang itu kemudian hilang, entah ke mana ia terbang. Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang dan kembali kutemu. Lehermu masih hangat meskipun selalu dikikis waktu. Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan selain dibasahkuyupkan di bawah hujan. Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan meskipun tanpa benang dan tinggal ...Lanjut »
» 29 May 2008 | Puisi Pinurbo | 1 Respon »

Sajak-sajak 1994-1995

Kisah Seorang Nyumin Demonstrasi telah bubar. Kata-kata telah bubar. Juga gerak, teriak, gegap, gejolak. Tak ada lagi karnaval. Bahkan pawai dan gelombang massa telah menggiring diri ke dataran lengang, tempat ilusi-ilusi ringan masih bisa bertahan dari serbuan beragam ancaman. Siapa masih bicara? Bendera, spanduk, pamflet telah melucuti diri sebelum dilucuti para pengunjuknya. Tak ada lagi karnaval. Di pelataran yang mosak-masik yang tinggal hanya koran-koran bekas, berserakan, kedinginan diinjak-injak sepi. Tapi di atas mimbar, ...Lanjut »
» 29 May 2008 | Puisi Pinurbo | 0 Respon »

Sajak-sajak 1996

Kisah Semalam Yang ditunggu belum juga datang. Tapi masih digenggamnya surat terakhir yang sudah dibaca berulang. “Aku pasti pulang pada suatu akhir petang. Tentu dengan bunga plastik yang kauberikan saat kau mengusirku sambil menggebrak pintu: ‘Minggat saja kau, bajingan. Aku akan selamanya di sini, di rumah yang terpencil di sudut kenangan.’” Belum sudah ia bereskan resahnya. Tapi malam buru-buru mengingatkan: “Kau sudah telanjang, kok belum juga mandi dan berdandan.” ...Lanjut »
» 29 May 2008 | Puisi Pinurbo | 0 Respon »

Sajak-sajak 1997

Boneka dalam Celana Kau pusing seharian keluar-masuk toko mainan hanya untuk mendapatkan boneka lucu yang akan kaugantung di atas ranjang. Padahal di dalam celana ada boneka paling jenaka : boneka kecil yang sering tiba-tiba menjelma raksasa. Kau bilang boneka mungilmu suka keluyuran ke kebun binatang, ke suaka margasatwa, ke hutan yang banyak hewan liarnya, katanya untuk bermain dengan teman-temannya. Kau sudah memanjakannya dengan berbagai model celana yang mahal harganya tapi ia selalu lolos dan tak pernah krasan tinggal ...Lanjut »
» 29 May 2008 | Puisi Pinurbo | 0 Respon »

Sajak-sajak 1998

Goyang Ranjang bergoyang sepanjang malam. Mungkin sepasang nyawa, sepasang singa sedang tempur. Atau sepasang maut sedang perang. Ranjang bergoyang sepanjang malam. Padahal cuma ada sepasang celana teronggok putih di bantal hitam. (1998)   Taman Pada suatu petang ia datang ke taman yang terhampar hijau di atas ranjang. Ia mencopot baju, menyalakan lampu kemudian membaca buku di atas makam. “Ini tempat suci. Dilarang membaca buku porno di sini,” kata seseorang dari balik nisan. Ia lari tunggang langgang sebelum ...Lanjut »
» 27 May 2008 | Puisi Pinurbo | 0 Respon »

Sajak-sajak 1999

Tubuh Pinjaman Tubuh yang mulai akrab dengan saya ini sebenarnya mayat yang saya pinjam dari seorang korban tak dikenal yang tergeletak di pinggir jalan. Pada mulanya ia curiga dan saya juga kurang selera karena ukuran dan modelnya kurang pas untuk saya. Tapi lama-lama kami bisa saling menyesuaikan diri dan dapat memahami kekurangan serta kelebihan kami. Sampai sekarang belum ada yang mencari-cari dan memintanya kecuali seorang petugas yang menanyakan status, ideologi, agama, dan terutama harta kekayaannya. Tubuh yang mulai manja dengan saya ...Lanjut »
» 26 May 2008 | Puisi Pinurbo | 0 Respon »

Sajak-sajak 2000

Sehabis Tidur Sehabis tidur lahan tubuh kita terus berkurang. Kita belum sempat bikin rumah atau tempat perlindungan, diam-diam sudah banyak yang merambah masuk, bermukim di jalur-jalur darah, di kapling-kapling daging, di bukit-bukit sakit, di ceruk-ceruk kenangan, di kuburan-kuburan mimpi, di jurang-jurang ingatan, di gua-gua kata, di sumber-sumber igauan. Berdesakan, berebut ruang, sampai kita kehabisan tempat, sampai harus mengungsi ke luar badan. (2000)   Meditasi Celana tak kuat lagi menampung pantat yang goyang terus memburu engkau. Pantat tak tahan lagi ...Lanjut »
» 26 May 2008 | Puisi Pinurbo | 0 Respon »