Setelah punya rumah, apa cita-citamu? Kecil saja:
ingin sampai rumah saat senja supaya saya dan senja
sempat minum teh bersama di depan jendela.

Ah cita-cita. Makin hari kesibukan makin bertumpuk,
uang makin banyak maunya, jalanan macet, akhirnya
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja, singgah
menginap di rumah sendiri buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun dan sabar
membangun sengkarut tubuhku menjadi rumah besar
yang ditunggui seorang ibu. Ibuwaktu berbisik mesra,
"Sudah kubuatkan sarang senja di bujur barat tubuhmu.
Senja sedang berhangat-hangat di dalam sarangnya."

("Cita-cita", 2003)

Ke belantara Jakarta ia pergi ngembara. Di tembok-tembok tinggi hatinya menggema. Senar gitarnya terbuat dari rambut ibunya. Handuk kecilnya terbikin dari sobekan celana bapaknya. Bila ia berdendang dan memetik gitarnya, ibunya yang jauh di kampung berdesir-desir dadanya. (2010) Lanjut >>
Oleh Prof. Dr. Okke Kusuma Sumantri Zaimar (Staf Pengajar Program Studi Prancis FIB-UI) Apabila saya bandingkan dengan puisi karya penulis modern Indonesia lainnya, seperti Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri, puisi Joko Pinurbo ini memang mempunyai gaya tersendiri. Puisi-puisi ini tidak bergaya "wah", melainkan penuh kesederhanaan. Memang beberapa kritikus (a.l. Ayu Utami) menganggap puisi-puisi Joko lebih dekat dengan gaya Goenawan Mohamad dan Sapardi ... Lanjut >>
Sajak Ian Campbell Dengan sikap sayap gemilang dan tajam saya ke pegunungan dekat Sydney. Blue Mountains. Bersifat biru akibat penguapan air dari daun-daun berjuta-juta pohon eucalyptus. Mengendarai mobil jenis godi, ternyata terbang, rasa bebas, karena melepaskan diri dari asap kabut kota Sydney. Menyeberangi puncak gunung, mulai meluncur ke pedalaman Australia. Terkejut, seperti kilat, pikir: ‘Aduh! Saya perlu celana baru.' Di Bathurst, ... Lanjut >>
Tuhan yang cantik, temani aku yang sedang menyepi di rimba kosmetik. Nyalakan lanskap pada alisku yang gelap. Ceburkan bulan ke lubuk mataku yang dalam. Taburkan hitam pada rambutku yang suram. Hangatkan merah pada bibirku yang resah. Semoga kecantikanku tak lekas selesai dan mudah luntur seperti pupur. Semoga masih bisa kunikmati hasrat yang merambat pelan menghangatkanku sebelum jari-jari waktu yang lembut dan nakal merobek-robek bajuku. Sebelum Kausenyapkan warna. Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik ke bibirku yang mati kata. (2009) Lanjut >>
(1) Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira. Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta: "Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah. Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah." Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji: "Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal. Tak boleh menabrak pantat orang. Tak boleh nyelonong ke ... Lanjut >>
Mas Kota telah memberikan segala yang saya minta, tapi tak pernah mengembalikan sebagian hati saya yang ia curi saat tubuh saya dimabuk kerja. Saya perempuan cantik, cerdas, sukses, dan kaya. Semua sudah saya raih dan miliki kecuali diri saya sendiri. Ah, akhir pekan yang membosankan. Ingin sekali saya tinggalkan kota dan pergi menemuimu, mas. Pergi ke pantai terpencil yang tak seorang pun bisa menjangkaunya selain kita berdua. Saya ingin ... Lanjut >>
Oleh Hikmat Darmawan Latar belakang Saya langsung tertarik untuk menelaah kumpulan puisi Celana karya Joko Pinurbo yang diterbitkan oleh IndonesiaTera pada 1999 ini karena tergelitik oleh nada humor pada beberapa puisi di dalamnya yang sempat kami baca selintas. Perkenalan lebih jauh dengan puisi-puisi tersebut menyingkapkan sesuatu yang lain, yaitu ternyata Joko Pinurbo adalah seorang penyair yang sangat serius. Joko Pinurbo, atau biasa dipanggil ... Lanjut >>