Sajak Ian Campbell

Dengan sikap sayap gemilang dan tajam saya ke pegunungan dekat Sydney. Blue Mountains. Bersifat biru akibat penguapan air dari daun-daun berjuta-juta pohon eucalyptus. Mengendarai mobil jenis godi, ternyata terbang, rasa bebas, karena melepaskan diri dari asap kabut kota Sydney. Menyeberangi puncak gunung, mulai meluncur ke pedalaman Australia. Terkejut, seperti kilat, pikir: ‘Aduh! Saya perlu celana baru.’ Di Bathurst, saya mengembara sepanjang jalan pusat kota. Ya, ada toko perusahan Henry Blowes – Menswear. Saya melonceng di pintu masuk dan pelayan toko keluar dari dinding toko. Yang mukanya serupa celana tipis dan dia mempunyai bintul di hidungnya. ‘Mana celana merek Hard Yakka?’ Kebetulan, saya melihat di atas kertas dinding toko ada tanda huruf potlot - ‘jp’. ‘Sudahkah Joko ke sini?’ Dengan bahasa Indonesia yang lancar, pelayan toko menjawab, berkeluh kesah, ‘Ya, sudah. Dua puluh menit sebelum tuan. Juga, dia membeli celana Hard Yakka. Last pair.’

(2003)

Tuhan yang cantik,
temani aku yang sedang tersesat
di rimba kosmetik.

Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.

Jatuhkan bulan
ke jurang mataku yang dalam.

Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.

Semoga kecantikanku tak lekas bubar
dan cepat mubazir
seperti bualan penyair.

Semoga masih bisa kunikmati hasrat
yang merambat pelan
menghangatkan susuku

sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek kutangku.

Sebelum Kaunihilkan warna.

Sebelum Kauoleskan lipstik terbaik
ke bibirku yang mati kata.

(2009)

(1)

Liburan sekolah telah tiba. Sepeda merahku melonjak gembira.
Sambil ngebut di jalan pulang ia meminta:
“Besok aku diajak piknik ya bang. Aku jenuh
tiap hari mengantarmu pergi pulang sekolah.
Aku ingin jalan-jalan ke bukit dan lembah.”

Kuremas gagang stangnya yang kenyal, kuberi ia sepotong janji:
“Tentu aku akan mengantarmu tamasya ke tempat
yang seindah mimpi. Tapi kau tak boleh nakal.
Tak boleh menabrak pantat orang.
Tak boleh nyelonong ke jurang. Dan kalau belok
harus pelan-pelan, jangan malah menambah kecepatan.”

Ah sepeda merahku. Rodanya yang tak pernah baru
kadang menggelinding juga ke halaman tidurku.

Kutepati janji. Di sebuah sore yang hangat dan menggemaskan,
di bawah matahari yang gondrong rambutnya,
aku dan sepedaku pergi melancong ke hutan.
Sepedaku dan aku menyusuri lembah dan bebukitan
seperti dua petualang yang tak peduli pada tujuan.

Memasuki senja, kami tersesat di sebuah lorong cahaya
yang menuju ke cakrawala. Di ujung lorong cahaya muncul
sebuah tangga cahaya. Di atas tangga cahaya tampak
seorang lelaki tua sedang bermain sulap. Oh ia sedang menyulap
segumpal awan menjadi selembar sapu tangan.
Ia melambai dan memanggil: “Ayo lekaslah ke sini, nak.
Mari kusulap sepeda bututmu menjadi sepeda baru.”

Aku mendekat. Ya ampun, wajah tukang sulap itu mirip
wajah kakekku yang hanya pernah kulihat fotonya.
Aku ingin sekali naik ke tangga itu, tapi sepedaku buru-buru
mencegahku: “Ayo pulang, bang. Aku sudah capek dan kedinginan.”

Sampai di rumah, kudapatkan nenek sedang menggigil
di depan tungku, ditemani kucingnya yang montok dan lucu.
Kuhampiri ia dan kuraba keningnya: “Nenek sedang demam ya?”
Dengan lirih dan agak gemetar ia menimpal: “Aku rindu kakekmu.”

 
(2)

Rencanaku menjenguk teman yang lagi sakit tertunda lagi.
Hujan mengamuk tak henti-henti, wabah flu menyebar
ke seluruh penjuru kampung. Di mana-mana kutemukan
orang berkerudung sarung, seakan-akan negara sedang berkabung.

Sampah hujan menumpuk di sudut halaman, berangsur-angsur
mengeras menjadi es batu. Aku membantu ayah memecah-mecah
bongkahan es hujan. Ayah memasukkan beberapa bongkah
ke dalam kulkas, katanya: “Es batu ini, nak, sangat bagus
untuk bikin es teh atau es jeruk. Bisa sekalian untuk obat.
Nanti kubikinkan ya? Ayah jamin kamu tak akan mudah
pusing, pilek dan demam bila kehujanan.”

Malam itu kulihat ayah banyak minum es hujan. Setelah puas,
ayah mengepalkan tangan dan mengacungkannya, serunya:
“Tubuhku sehat, badanku kuat, walau nasibku semakin gawat.”
Lalu tiba-tiba ayah sempoyongan seperti orang mabuk.
Sejurus kemudian ayah menggelosor dan tertidur di depan televisi.
Dari dalam televisi penyiar mengucapkan salam:
“Selamat tidur, penyair. Selamat mabuk es hujan.”

 
(3)

Malam-malam aku disuruh ibu membeli kerupuk di warung seberang.
Kerupuk, kata ibu, bisa membuat meja makan yang dingin dan nestapa
jadi cerah ceria. Ibu suka kerupuk yang renyah dan seru bunyinya.

Di jalan remang-remang menuju warung aku berpapasan
dengan seorang adik kelasku yang parasnya lebih dari lumayan.
Kami beradu mata dan saling mengucapkan hai.
Tatapannya telah mengobrak-abrik kesunyian mataku.
Sejenak kami berbasa-basi. Lalu malam membimbing kami
ke sebuah bangku di bawah pohon rambutan di dekat warung.
Kami berbincang hangat tentang seluk-beluk sekolah.
Tentang pelajaran matematika yang membosankan.
Tentang awalan ber- yang membingungkan.
Juga tentang bu guru yang selalu bilang astaga
bila ada muridnya yang pecicilan.

Aku pulang sambil bersiul sepanjang jalan.
Tidak dengan kerupuk, tapi dengan beberapa biji buah rambutan
yang dipetik adik kelasku itu dan diberikannya kepadaku,
katanya untuk kenang-kenangan.

Malam berikutnya aku pura-pura mau beli kerupuk lagi, siapa tahu
bisa bertemu kembali dengan si dia. Ah, terlambat. Kulihat ia
keluar dari warung bersama entah siapa. Mereka jalan bersama
dengan mesra sambil ketawa-ketawa. Aku bengong, terpana.
Ia menoleh ke aku, matanya melirik dengan cemerlang,
tapi tatapannya tak sanggup lagi menembus mataku,
bahkan seyum manisnya telah mengubah hatiku
menjadi sebongkah bara. Lelaki sepantaran aku di sampingnya
juga menoleh, tersenyum, menganggukkan kepala,
tapi aku keburu balik kanan, pulang. Pulang dalam bimbang.
Aku tak tahu apakah itu yang namanya cinta monyet.
Sedikit cintanya, lebih banyak nyometnya,
dan akhirnya mungkin hanya tinggal nyemotnya. 

Menjelang tiba di rumah tercinta, kutemukan kepingan-kepingan
sajak Chairil berceceran di rerumputan di kiri jalan.
Kupungut satu demi satu dan kumasukkan ke dalam kantong celana.

Di atas meja belajarku ada gambar Chairil sedang merokok
dengan mata disipit-sipitkan. Gayanya tampak agak dibuat-buat,
tapi cukup meyakinkan juga. Aku segera mengambil
kepingan-kepingan sajaknya dari kantong celanaku, membersihkannya,
kemudian merangkainya menjadi sebuah kalimat, bunyinya:
Ah hatiku yang tak mau memberi, mampus kau dikoyak-koyak sepi.

(4)

Sekolah memberi saya tugas membuat laporan kegiatan seni.
Saya minta ibu menemani saya melihat-lihat pameran lukisan
di sebuah galeri di sudut alun-alun kota. Lukisan-lukisan besar
berbaris di dinding dan dengan hormat menyambut
kedatangan saya dan ibu. Selamat malam.

Saya dan ibu terpikat pada sebuah lukisan yang tak jelas
siapa pelukisnya. Lukisan itu sepenuhnya berlatar hitam,
hitam yang terhitam. Di tengah hitam hanya ada sebuah rumah
berpintu merah dengan cahaya lampu redup remang.
Lama saya terpesona sampai terlambat sadar
bahwa saya telah kehilangan ibu. Ibu tak ada lagi
di samping saya. Pastilah ibu sedang ke toilet
sebab tadi beberapa kali ibu menanyakan di mana toilet.

Tanpa ibu saya terus berdiri memandangi lukisan itu.
Saya terpana ketika cahaya lampu di rumah tua itu makin lama
makin terang. Dari kaca jendela tampak samar-samar
bayangan seseorang sedang duduk membaca.
Mungkin karena saya tatap terus, lampu rumah itu lambat laun
kembali meremang. Tiba-tiba saya merinding dan merasa kesepian.
Saya terhenyak ketika seseorang menepuk bahu saya,
katanya: “Sedang melamun ya?” Ah, ternyata ibu.

“Ke toilet kok lama sekali sih, bu?”
“Ibu tidak dari toilet, anakku. Ibu habis memasuki rumah tua
dalam lukisan itu. Ternyata itu perpustakaan. Ibu sempat
membuka-buka sekilas beberapa buku tua. Ibu senang
bisa menemukan sebuah kitab puisi yang ibu cari-cari.
Judulnya lucu, Celana.”
Celana, ibu? Bukankah itu buku yang baru akan saya tulis
dua puluh tahun yang akan datang?”
Ibu segera menggandeng saya dan mengajak saya makan bakso.

(5)

……(bersambung)